RI Dikepung Kabar Buruk: Minyak & Dolar Melonjak, Ekonomi China Suram
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street melanjutkan penurunan pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa melemah seiring kekhawatiran terhadap perang Iran kembali meningkat ketika harga minyak mentah AS menembus US$80 per barel.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 784,67 poin atau 1,61% ke 47.954,74. Indeks S&P 500 melemah 0,56% ke 6.830,71, sementara Nasdaq Composite melandai 0,26% ke 22.748,99.
Aksi jual saham dipimpin oleh Boeing, Caterpillar, dan sejumlah saham lain yang diperkirakan paling terdampak jika ekonomi global melambat.
Harga minyak melonjak, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melampaui US$80 per barel pada sore hari dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, setelah Iran menyatakan telah menghantam sebuah kapal tanker minyak dengan rudal.
WTI akhirnya ditutup naik lebih dari 8% di US$81,01 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent crude ditutup hampir 5% lebih tinggi di US$85,41 per barel.
Pergerakan harga minyak ini memicu volatilitas besar di pasar sepanjang sesi perdagangan. Dow Jones sempat anjlok 1.000 poin hampir bersamaan dengan saat minyak menembus level US$80 per barel.
Indeks tersebut bahkan sempat turun lebih dari 1.100 poin atau sekitar 2,4% pada titik terendahnya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq juga diperdagangkan mendekati level terendah sesi setelah sebelumnya sempat bergerak sedikit di atas posisi datar pada level tertinggi hari itu. Pada titik terendahnya, keduanya masing-masing turun sekitar 1,4%.
Harga minyak WTI dan Brent sebenarnya sempat stabil pada hari perdagangan sebelumnya, yang membantu Dow Jones naik lebih dari 200 poin pada Rabu.
Namun secara mingguan, WTI telah melonjak lebih dari 20%, sementara Brent naik hampir 18%. Keduanya berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2022.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Kamis mengatakan bahwa Iran tidak meminta gencatan senjata dari Amerika Serikat maupun Israel.
Dengan meningkatnya ketidakpastian terkait konflik tersebut, Sam Stovall dari CFRA Research mengatakan investor kini mulai mempertanyakan apakah Amerika Serikat telah mengambil langkah yang terlalu besar untuk ditangani.
"Apakah Presiden Donald Trump benar-benar bisa mengawal semua kapal yang melintas di Selat Hormuz?" kata kepala strategi investasi tersebut kepada CNBC International.
"Risiko seperti apa yang akan kita tanggung, dan bagaimana dampaknya terhadap tingkat utang kita? Investor pada dasarnya mengatakan bahwa apa pun yang terjadi saat ini bukanlah kabar baik."imbuhnya.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan gas di kawasan sempat mereda setelah Trump mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan asuransi risiko dan pengawalan kapal di Teluk Persia, guna memastikan lalu lintas kapal tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Namun demikian, Gedung Putih tidak memberikan jadwal pasti kapan selat tersebut akan benar-benar aman bagi kapal tanker minyak.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pengarahan kepada wartawan pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat menang secara meyakinkan dalam konflik dengan Iran dan bahwa lebih banyak pasukan sedang dikerahkan ke kawasan tersebut.
Secara terpisah, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa tarif global 15% yang baru diumumkan oleh Trump kemungkinan akan mulai berlaku pekan ini.
Di tengah tekanan pasar, saham Berkshire Hathaway menjadi titik terang pada hari perdagangan tersebut dengan kenaikan lebih dari 2%, setelah konglomerat itu mengungkapkan bahwa mereka kembali membeli kembali sahamnya sendiri untuk pertama kalinya sejak 2024.
CEO Greg Abel juga membeli saham perusahaan senilai US$15 juta secara pribadi.
(emb/emb) Addsource on Google