Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 133,48 poin atau 1,76% ke level 7.710,54 pada perdagangan Kamis (5/3/2026). Sebanyak 597 saham naik, 125 turun, dan 96 tidak bergerak.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 210 miliar pada perdagangan kemarin.
Nilai transaksi kemarin terbilang sepi dibandingkan hari sebelumnya, yakni Rp 17,9 triliun dengan volume sebanyak 34,5 miliar saham.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street melanjutkan penurunan pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa melemah seiring kekhawatiran terhadap perang Iran kembali meningkat ketika harga minyak mentah AS menembus US$80 per barel.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 784,67 poin atau 1,61% ke 47.954,74. Indeks S&P 500 melemah 0,56% ke 6.830,71, sementara Nasdaq Composite melandai 0,26% ke 22.748,99.
Aksi jual saham dipimpin oleh Boeing, Caterpillar, dan sejumlah saham lain yang diperkirakan paling terdampak jika ekonomi global melambat.
Harga minyak melonjak, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melampaui US$80 per barel pada sore hari dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, setelah Iran menyatakan telah menghantam sebuah kapal tanker minyak dengan rudal.
WTI akhirnya ditutup naik lebih dari 8% di US$81,01 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent crude ditutup hampir 5% lebih tinggi di US$85,41 per barel.
Pergerakan harga minyak ini memicu volatilitas besar di pasar sepanjang sesi perdagangan. Dow Jones sempat anjlok 1.000 poin hampir bersamaan dengan saat minyak menembus level US$80 per barel.
Indeks tersebut bahkan sempat turun lebih dari 1.100 poin atau sekitar 2,4% pada titik terendahnya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq juga diperdagangkan mendekati level terendah sesi setelah sebelumnya sempat bergerak sedikit di atas posisi datar pada level tertinggi hari itu. Pada titik terendahnya, keduanya masing-masing turun sekitar 1,4%.
Harga minyak WTI dan Brent sebenarnya sempat stabil pada hari perdagangan sebelumnya, yang membantu Dow Jones naik lebih dari 200 poin pada Rabu.
Namun secara mingguan, WTI telah melonjak lebih dari 20%, sementara Brent naik hampir 18%. Keduanya berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2022.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Kamis mengatakan bahwa Iran tidak meminta gencatan senjata dari Amerika Serikat maupun Israel.
Dengan meningkatnya ketidakpastian terkait konflik tersebut, Sam Stovall dari CFRA Research mengatakan investor kini mulai mempertanyakan apakah Amerika Serikat telah mengambil langkah yang terlalu besar untuk ditangani.
"Apakah Presiden Donald Trump benar-benar bisa mengawal semua kapal yang melintas di Selat Hormuz?" kata kepala strategi investasi tersebut kepada CNBC International.
"Risiko seperti apa yang akan kita tanggung, dan bagaimana dampaknya terhadap tingkat utang kita? Investor pada dasarnya mengatakan bahwa apa pun yang terjadi saat ini bukanlah kabar baik."imbuhnya.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan gas di kawasan sempat mereda setelah Trump mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan asuransi risiko dan pengawalan kapal di Teluk Persia, guna memastikan lalu lintas kapal tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Namun demikian, Gedung Putih tidak memberikan jadwal pasti kapan selat tersebut akan benar-benar aman bagi kapal tanker minyak.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pengarahan kepada wartawan pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat menang secara meyakinkan dalam konflik dengan Iran dan bahwa lebih banyak pasukan sedang dikerahkan ke kawasan tersebut.
Secara terpisah, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa tarif global 15% yang baru diumumkan oleh Trump kemungkinan akan mulai berlaku pekan ini.
Di tengah tekanan pasar, saham Berkshire Hathaway menjadi titik terang pada hari perdagangan tersebut dengan kenaikan lebih dari 2%, setelah konglomerat itu mengungkapkan bahwa mereka kembali membeli kembali sahamnya sendiri untuk pertama kalinya sejak 2024.
CEO Greg Abel juga membeli saham perusahaan senilai US$15 juta secara pribadi.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Masih memanasnya perang, lonjakan harga minyak hingga proyeksi terbaru ekonomi China akan menjadi sentimen negatif hari ini.
Cadangan Devisa Februari 2026
Hari ini Bank Indonesia akan mengumumkan data Cadangan devisa (cadev) Februari 2026.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar US$ 154,6 miliar meskipun lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar. Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
Posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2026 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
OJK Pastikan Ekonomi RI Solid
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi sektor keuangan Indonesia tetap solid meski Fitch Ratings merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat kredit tetap berada di level BBB.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan OJK mencermati keputusan tersebut beserta berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Ia menegaskan pemerintah dan otoritas terkait terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Friderica, sistem keuangan nasional masih ditopang kerangka pengawasan yang kuat. OJK juga melanjutkan berbagai reformasi struktural untuk meningkatkan transparansi, memperdalam pasar modal, serta memperkuat kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Sementara itu, Fitch menilai revisi outlook lebih mencerminkan dinamika risiko eksternal dan kebijakan global, bukan perubahan mendasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Lembaga pemeringkat tersebut tetap mengakui stabilitas makroekonomi Indonesia, prospek pertumbuhan yang relatif kuat, serta rasio utang pemerintah yang masih moderat.
Dari sisi industri keuangan, OJK mencatat permodalan lembaga jasa keuangan masih jauh di atas ketentuan minimum dengan likuiditas yang memadai. Intermediasi juga terus tumbuh dan dinilai mampu mendukung pembiayaan sektor produktif.
Di sisi lain, OJK juga menegaskan reformasi pasar modal dalam Roadmap Pasar Modal 2023-2027 terus berjalan, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan, penguatan aturan free float, perbaikan klasifikasi investor, hingga penegakan hukum di pasar modal.
Sebagai bagian dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain guna menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) dan Komite Nasional (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC)
Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah untuk tahun ini, sebuah keputusan yang langsung menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia.
Target tersebut diumumkan dalam rangkaian sidang politik tahunan paling penting di China yang dikenal sebagai Two Sessions, forum yang mempertemukan Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC).
Melalui forum tersebut, pemerintah memaparkan arah kebijakan ekonomi dan prioritas pembangunan nasional. Tahun ini, Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan laporan kerja pemerintah dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (5/3/2026) sekaligus mengumumkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China di kisaran 4,5% hingga 5%.
Target tersebut menjadi yang terendah sejak awal 1990-an. Penurunan proyeksi ini juga menandai revisi pertama terhadap target pertumbuhan sejak beberapa tahun terakhir, mencerminkan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi ke depan.
Dalam laporan kerjanya, pemerintah China mengakui bahwa tekanan domestik masih cukup kuat. Permintaan dalam negeri belum sepenuhnya pulih, sektor properti masih lesu, dan beban utang pemerintah daerah terus menjadi sumber kekhawatiran bagi stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, situasi global juga menambah tantangan. Ketidakpastian ekonomi dunia meningkat, sementara tensi perdagangan dan geopolitik kembali mengemuka. Pemerintah China bahkan menyinggung potensi dinamika tarif dari Amerika Serikat yang berisiko mempengaruhi perdagangan dan aktivitas ekonomi ke depan.
Perlambatan ekonomi China tentu memiliki implikasi bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China masih menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai sekitar US$64,82 miliar pada 2025 atau sekitar 24% dari total ekspor nonmigas nasional.
Ketika ekonomi China melemah, permintaan terhadap berbagai komoditas dan bahan baku dari Indonesia biasanya ikut terdampak. Banyak sektor industri China bergantung pada pasokan bahan mentah untuk kegiatan manufaktur dan konstruksi, sehingga perlambatan ekonomi dapat menekan volume ekspor sekaligus mempengaruhi harga komoditas global.
Dampaknya tidak berhenti pada perdagangan. China juga merupakan salah satu sumber investasi asing terbesar di Indonesia, terutama di sektor hilirisasi, pengolahan mineral, dan manufaktur. Ekonom Chatib Basri pernah mengingatkan bahwa setiap perlambatan 1% ekonomi China berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3%, mengingat kuatnya hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara.
Non-Farm Payrolls (NFP) Februari 2026, Penjualan Ritel, Tingkat pengangguran AS
Dari Amerika Serikat, beberapa data ekonomi penting dijadwalkan rilis malam ini waktu Indonesia dan berpotensi memberi gambaran baru mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta konsumsi rumah tangga di negeri tersebut.
Data utama yang ditunggu adalah Non-Farm Payrolls (NFP) Februari 2026. Ekonomi AS diperkirakan hanya menambah sekitar 59 ribu lapangan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 130 ribu pada Januari. Perlambatan perekrutan ini sebagian diperkirakan dipengaruhi aksi mogok kerja tenaga kesehatan dari United Nurses Associations of California/Union of Health Care Professionals (UNAC/UHCP) yang diperkirakan melibatkan sekitar 31 ribu pekerja.
Laporan yang sama juga diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Sementara itu, upah rata-rata pekerja diproyeksi naik 0,3% secara bulanan, sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,4% pada Januari. Secara tahunan, pertumbuhan upah diperkirakan berada di 3,7%, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Data ini bersumber dari U.S. Bureau of Labor Statistics.
Selain data tenaga kerja, pasar juga menunggu perkembangan penjualan ritel Amerika Serikat. Pada Desember 2025, penjualan ritel tercatat tidak berubah (0%), setelah sebelumnya naik 0,6% pada November, sekaligus lebih lemah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,4%.
Beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan, seperti toko bahan bangunan dan peralatan taman (1,2%), toko olahraga dan hobi (0,4%), SPBU (0,3%), serta toko makanan dan minuman (0,2%). Namun kenaikan ini tertahan oleh penurunan di sejumlah sektor lain seperti toko furnitur (-0,9%), ritel pakaian (-0,7%), elektronik dan peralatan rumah tangga (-0,4%), hingga dealer kendaraan bermotor (-0,2%). Data ini dirilis oleh U.S. Census Bureau.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS turun tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, dari 4,4% pada Desember 2025. Jumlah penganggur berkurang sekitar 141 ribu orang menjadi 7,36 juta, sementara jumlah pekerja meningkat 528 ribu menjadi 164,52 juta orang.
Partisipasi angkatan kerja juga meningkat menjadi 62,5%, didorong bertambahnya 387 ribu orang dalam angkatan kerja. Sementara itu, ukuran pengangguran yang lebih luas yaitu U-6, yang mencakup pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi serta pekerja yang putus asa mencari kerja, turun menjadi 8,0% dari sebelumnya 8,4%.
Klaim Pengangguran dan PHK di AS
Klaim pengangguran awal (initial jobless claims) di Amerika Serikat tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya, yaitu 213.000 pada pekan terakhir Februari. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 215.000 dan tetap jauh di bawah rata-rata dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims)-yang sering digunakan sebagai indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan-naik 46.000 pada pekan sebelumnya menjadi 1.868.000, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 1.850.000.
Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil, meskipun terjadi kombinasi antara tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah dan perlambatan perekrutan.
Klaim awal yang diajukan oleh pegawai pemerintah federal, yang saat ini menjadi perhatian pasar untuk mengukur dampak potensi shutdown pemerintah, turun 25 klaim menjadi 529.
Di sisi lain, perusahaan berbasis di AS mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 48.307 pekerja pada Februari 2026, lebih rendah dibandingkan 108.435 pada Januari dan jauh di bawah 172.017 pada periode yang sama tahun lalu.
Sektor teknologi mencatat jumlah PHK terbesar, yakni 11.039 pekerja.
Menurut Andy Challenger dari Challenger, Gray & Christmas, sektor teknologi saat ini menghadapi berbagai tekanan.
"Teknologi sedang merespons sejumlah tekanan saat ini. AI memang menjadi cerita besar, tetapi ada juga kekhawatiran regulasi global, perlambatan iklan digital akibat tarif dan ketidakpastian ekonomi, serta kenaikan biaya untuk mempekerjakan pekerja dan memperoleh pendanaan."
Setelah sektor teknologi, sektor pendidikan mencatat 5.417 PHK, sementara industri manufaktur mengumumkan 4.109 PHK.
Andy Challenger juga menambahkan bahwa keterlibatan AS dalam perang yang semakin meluas dengan Iran dapat memicu lebih banyak rencana PHK menjelang akhir kuartal pertama (Q1), karena perusahaan mulai mengencangkan anggaran di tengah ketidakpastian dan kenaikan biaya.
Secara kumulatif hingga Februari, perusahaan mengumumkan 156.742 PHK, yang merupakan total Januari-Februari terendah sejak 2022.
Sejauh tahun ini, sektor teknologi memimpin jumlah PHK dengan 33.330 pekerja, diikuti oleh sektor transportasi (31.702) dan sektor kesehatan/produk kesehatan (19.228).
Harga Minyak Melonjak, Dolar Naik dan Imbal Hasil US Treasury Terbang
Masih memanasnya situasi di Timur Tengah melambungkan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah melonjak mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, seiring meningkatnya perang dengan Iran yang mengganggu pasokan energi global.
Merujuk Refinitiv, harga minyak brent ditutup di posisi US$ 84 per barel atau naik hampir 4% sementara harga minyak WTI ditutup di posisi US$81,01 per barel atau melesat 8,5%. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak Juli 2024 atau 2 tahun 8 bulan.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih sebagian besar terhenti, sementara Iran mengklaim telah menghantam sebuah kapal tanker minyak dengan rudal.
Menambah tekanan di pasar, pemerintah China memerintahkan kilang-kilang besar untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin.
Berbagai upaya untuk menenangkan pasar-termasuk usulan asuransi bagi kapal serta pengawalan angkatan laut-sejauh ini belum berhasil meyakinkan investor, yang semakin bersiap menghadapi konflik berkepanjangan.
Sementara itu, data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 3,5 juta barel menjadi 439,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar dan memberikan penyangga terhadap potensi guncangan pasokan.
Bagi Indonesia, lonjakan minyak bisa berdampak ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa menambah pendapatan negara serta laba emiten minyak seperti PT Elnusa (ELSA) dan PT Medco Energy International (MEDC).
Namun, di sisi lain, kenaikan harga minyak akan membebani rupiah dan impor hingga subsidi BBM.
Panasnya perang dan harga minyak juga membuat dolar AS menguat tajam. Indeks dolar ditutup di 99,08 atau tertinggi sejak pertengahan Januari 2026. Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga melesat ek 4,1% atau posisi tertinggi sejak pertengahan Februari 2026.
Kondisi ini dipicu oleh proyeksi kenaikan inflasi AS. Jika harga minyak terus naik, inflasi AS diyakini akan meroket sehingga akan sulit bagi bank sentral AS The Fed memangkas suku bunga. Sebagai akibatnya, permintaan dolar AS makin naik.
Bagi Indonesia, kenaikan indeks dolar dan imbal hasil US Treasury ini juga akan berdampak negatif. Keduanya bisa memicu capital outflow sehingga rupiah makin tertekan.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
CNBC Indonesia Mining Forum "Apa Kabar Industri Tambang RI?" di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan
-
Kementerian Pekerjaan Umum menggelar media gathering terkait persiapan Mudik Lebaran 2026 di Pendopo Kementerian PU, Jakarta Selatan
-
Opening Ceremony BINA Lebaran dilanjutkan buka puasa bersama di The Foodhall Mall Senayan City, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menko Perekonomian dan Menteri Perdagangan
-
Launching AKSI KLIK & AKU BISA SEJAHTERA di Grha Bhasvara Icchana, kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Turut hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
-
Press Briefing Kementerian Luar Negeri di Ruang Palapa, Kemlu RI, Jakarta Pusat
Agenda korporasi:
RUPS PT Ace Oldfields Tbk
Rencana Rupo emisi Obligasi II Adhi Commuter Properti Tahun 2022
Panggilan Rupo emisi Obligasi II Adhi Commuter Properti Tahun 2022
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.