Dari Beban Jadi Sumber Daya: Strategi Energi di Tengah Krisis Iklim
Di antara Industri Semen lainnya, SIG menempati posisi paling agresif dalam menginisiasi pemanfaatan sampah menjadi RDF. Melalui anak usahanya yaitu PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, SIG menjadikan RDF bukan sekadar uji coba, melainkan bagian inti strategi energi dan keberlanjutan.
Fasilitas RDF pertama di Indonesia yang berlokasi di Cilacap ini memiliki kapasitas mengolah sekitar 160 ton sampah per hari dan menghasilkan 80 ton produk RDF melalui proses pencacahan, bio-drying, dan pengayakan (screening) sebelum akhirnya diserap oleh pabrik semen Solusi Bangun Indonesia sebagai bahan bakar alternatif untuk substitusi batu bara.
Foto: Fasilitas RDF Semen Indonesia. (Dok. Semen Indonesia Group)Fasilitas RDF Semen Indonesia. (Dok. Semen Indonesia Group) |
Model ini direplikasi lewat kolaborasi luas dengan pemerintah daerah lain di Indonesia di mana Pabrik Semen SIG berada, dengan fasilitas RDF yang sudah beroperasi yaitu di DKI Jakarta, Tangerang, Cilacap, Banyumas, Yogya, Sleman, Bantul, Banyuwangi, Sumenep, Magelang, Malang, Pangkep, Gresik, Bangkalan, Ponorogo, hingga di Jembrana, Bali.
Hingga kini, SIG tercatat telah bekerja sama dengan 40 pemerintah daerah sebagai offtaker untuk pemanfataan sampah berbasis RDF.
SIG menempatkan RDF dalam kerangka ekonomi sirkular yakni sampah kota diubah menjadi energi, emisi terkendali, biaya landfill berkurang, dan industri memperoleh bahan bakar alternatif yang lebih stabil. Lini pengelolaan limbah dan sampah SIG ini telah mengantongi izin dan sertifikasi untuk pengelolaan limbah dan sampah, termasuk pemanfaatan RDF secara aman. Sedangkan dari sisi kapabilitas total, SIG yang memiliki 9 pabrik semen terintegrasi di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, membuat produsen bahan bangunan pelat merah ini mampu menyerap RDF dari berbagai wilayah di Indonesia.
Bukan Hanya Lingkungan, Tapi juga Transformasi Industri
Bagi pabrik semen, daya tarik RDF bukan hanya lebih rendah karbon dari pada batu bara, tapi juga efisiensi biaya energi. RDF umumnya lebih murah dibanding batu bara, meski membutuhkan investasi awal untuk pra-pengolahan, feeding facility, dan pengendalian emisi.
Namun analisis return on investment (ROI) menunjukkan pemanfaatan RDF dapat balik modal dalam 3-5 tahun, tergantung ketersediaan sampah, jarak transportasi, dan kapasitas pemanfaatan di pabrik. Tambahan lagi, RDF juga membantu industri mematuhi regulasi emisi gas rumah kaca yang kian ketat, tak hanya dari pemerintah, tapi juga dari pasar yang sudah mature seperti ekspor ke negara-negara yang sudah atau akan menerapkan ambang batas emisi karbon pada produk impor dan dapat menjadi benchmark bagi negara-negara importir lainnya.
Pendekatan SIG terhadap RDF tidak berdiri sendiri. Perseroan menempatkan pengelolaan limbah dan pemanfaatan energi alternatif sebagai bagian dari Peta Jalan Keberlanjutan 2030.
Berbasis tiga pilar keberlanjutan, SIG mendorong berbagai program inovasi sosial yang memadukan aspek lingkungan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Selain bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan RDF, SIG juga menerapkan beberapa inisiatif dengan pelibatan masyarakat seperti di Ecopark Kambangsemi di Tuban, Jawa Timur. Kawasan ini merupakan lahan bekas tambang yang ditransformasi menjadi destinasi wisata edukasi pertanian, peternakan, dan perikanan.
Tak berhenti di sana, pengembangan Ecopark diperluas dengan pemanfaatan limbah tongkol jagung sebagai bahan bakar alternatif, memperlihatkan bagaimana limbah pertanian pun bisa masuk dalam rantai energi sirkular.
Foto: Semen IndonesiaEcopark Semen Indonesia |
Di Cilacap, Jawa Tengah, SIG mengembangkan Baruwani Circular Hub. In adalah sebuah program yang mengintegrasikan kelompok rentan ke dalam ekosistem ekonomi sirkular. Sampah diolah menjadi produk kerajinan bernilai tambah, sekaligus dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar alternatif RDF.
Program ini memberikan dampak ganda. Dari sisi lingkungan, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir berkurang. Dari sisi ekonomi, tercipta sumber pendapatan baru. Model ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu identik dengan biaya, tetapi juga bisa menjadi sumber nilai ekonomi.
Foto: Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group)Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group) |
SIG menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan tidak harus berjalan terpisah dari kepentingan bisnis. Pengelolaan sampah menjadi energi membantu menekan biaya energi fosil bagi industri, menurunkan emisi gas rumah kaca,memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Di tengah dorongan global menuju ekonomi hijau, pendekatan ini memberi pesan jelas bagi industri semen, keberlanjutan bukan lagi beban tambahan, melainkan sumber daya strategis.
Sampah kota yang dulu dipandang masalah, kini justru menjadi bagian dari solusi baik bagi lingkungan, masyarakat, maupun masa depan industri.
Foto: Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group)Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group) |
Foto: Fasilitas RDF Semen Indonesia. (Dok. Semen Indonesia Group)
Foto: Semen Indonesia
Foto: Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group)
Foto: Hasil pengolahan RDF. (Dok. Semen Indonesia Group)