Kebijakan Purbaya, AS & China: 9 Isu Penentu Arah Pasar RI Hari Ini
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan menutup perdagangan pada pekan kedua Januari 2026. Pasar keuangan libur pada Jumat untuk memperingati Isra Mi'raj.
Dengan perdagangan pekan ini yang pendek maka pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri.
Namun, pemerintah merespons dengan optimisme pemulihan arus modal dan langkah konkret penyelamatan sektor riil. Berikut adalah analisis mendalam mengenai 8 isu strategis hari ini:
1. Rupiah Tembus Rp17.000 di Money Changer
Tekanan terhadap mata uang Garuda kini telah melampaui sekadar fluktuasi angka di layar monitor perdagangan antarbank, melainkan sudah memukul pasar fisik secara nyata.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada perdagangan hari ini, harga jual Dolar AS di sejumlah money changer utama di Jakarta telah menembus angka keramat Rp17.000.
Di kawasan sentra valuta asing seperti Menteng, Jakarta Pusat, kurs jual tercatat berada di rentang yang mengkhawatirkan, yakni Rp16.930 hingga Rp17.010 per Dolar AS.
Fenomena ini mengindikasikan adanya lonjakan permintaan fisik dolar yang signifikan, baik dari masyarakat yang melakukan aksi hedging maupun pelaku usaha yang panik mengamankan likuiditas valas untuk kebutuhan impor bahan baku yang mendesak.
Sektor perbankan nasional pun merespons kondisi ini dengan cepat. Bank-bank besar terpantau menyesuaikan display rate mereka mendekati level psikologis tersebut, dengan harga jual di kisaran Rp16.975 hingga Rp16.995.
Bagi dunia usaha, pelemahan yang menyentuh level Rp17.000 ini adalah "lampu kuning" yang menyala sangat terang. Jika level ini bertahan dalam beberapa minggu ke depan, biaya produksi-terutama di sektor manufaktur, farmasi, dan elektronik yang kandungan impornya tinggi-akan melonjak drastis.
Hal ini berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan secara signifikan atau memaksa mereka mengambil langkah tidak populer dengan menaikkan harga jual di tingkat konsumen, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi domestik.
Meskipun Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengintervensi pasar guna menjaga stabilitas, derasnya permintaan dolar di pasar fisik menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini sedang sangat rapuh dan membutuhkan penanganan segera.
Di tengah kepanikan yang melanda pasar uang dan kekhawatiran pelaku usaha, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hadir memberikan perspektif yang lebih tenang dan terukur.
Ia secara terbuka meyakini bahwa pelemahan Rupiah saat ini bersifat temporer atau sementara akibat sentimen eksternal. Purbaya bahkan berani memprediksi mata uang Garuda akan kembali menemukan titik keseimbangannya dan menguat dalam dua minggu ke depan.
Optimisme sang bendahara negara ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih sangat atraktif dan kokoh dibandingkan negara-negara emerging market lainnya yang fundamentalnya lebih rapuh.
Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 mencapai angka 5,45%. Angka ini merupakan capaian yang sangat solid di tengah perlambatan ekonomi global, dan menjadi landasan kuat untuk mengejar target pertumbuhan 6% di tahun 2026.
Menurut Menkeu, logika pasarnya sederhana yaitu investor global adalah pemburu keuntungan yang rasional. Pada akhirnya, modal asing (capital inflow) akan kembali masuk ke Indonesia karena mereka mencari negara dengan pertumbuhan tinggi (high growth) dan stabilitas politik yang terjaga.
Selain itu, ia juga menyinggung potensi kembalinya dana warga negara Indonesia yang selama ini diparkir di luar negeri, mengingat iklim bisnis di luar sana yang makin kompetitif dan penuh ketidakpastian akibat perang dagang.
Pernyataan ini bertujuan meredam spekulasi pasar dan menegaskan bahwa pemerintah tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek ini.
Foto: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
2. Realisasi Investasi Kuartal IV-2025
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani akan mengumumkan data realisasi investasi pada kuartal Iv-2025 hingga sepanjang 2025.
Realisasi ini menjadi penting karena mencerminkan minat investor untuk berinvestasi di Indonesia, termasuk asing.
Menarik disimak sejauh mana realisasi investasi yang merupakan penopang ekonomi. Perlu dilihat lagi sektor apa yang paling menarik.
3. Rilis SULNI November
Hari ini Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) untuk posisi November 2025.
Data ini sangat dinanti oleh pelaku pasar dan ekonom sebagai indikator kesehatan finansial eksternal Indonesia di tengah gempuran Dolar AS saat ini.
Pasar berharap tren perbaikan struktur utang yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya dapat berlanjut, sehingga bisa memberikan sentimen positif bagi Rupiah yang sedang tertekan.
Sebagai konteks atau acuan analisis, mari kita bedah data posisi Oktober 2025 yang menjadi pijakan tren saat ini. Pada bulan tersebut, Utang Luar Negeri Indonesia tercatat turun menjadi US$423,9 miliar, dari bulan sebelumnya US$425,6 miliar.
Rasio utang terhadap PDB berada di level 29,3%, jauh di bawah batas aman internasional yang biasanya di angka 60%. Penurunan ini didorong oleh pembayaran utang jatuh tempo dan faktor revaluasi mata uang.
Berikut adalah data debitur SULNI pada bulan Oktober yang lalu.
4. BUMN Tekstil Baru Penyelamat 7 Juta Pekerja
Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menyiapkan langkah radikal dan berani untuk menyelamatkan industri tekstil nasional yang sedang dalam kondisi cukup mengkhawatirkan.
Rencananya, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang dikhususkan untuk sektor tekstil akan segera didirikan. Tidak main-main, inisiatif ini didukung dana investasi jumbo dari Danantara sebesar US$6 miliar atau setara Rp100 triliun
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut industri ini sebagai garis hidup bagi 7 juta pekerja Indonesia yang harus diselamatkan dari ancaman badai PHK massal yang menghantui.
BUMN baru ini didesain bukan hanya sebagai penolong keuangan semata melainkan peran utamanya adalah melakukan restrukturisasi industri secara menyeluruh, mulai dari modernisasi mesin-mesin pabrik yang sudah tua dan tidak efisien, transfer teknologi terbaru, hingga membuka akses pasar ekspor baru yang selama ini sulit ditembus swasta sendirian.
Target yang dipasang pemerintah sangat ambisius: meningkatkan nilai ekspor tekstil dari US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam satu dekade.
Dengan langkah ini, Indonesia ingin merebut kembali posisinya sebagai pemain Top 5 tekstil dunia, bersaing head-to-head dengan Vietnam dan Bangladesh, serta mengubah paradigma dari sekadar pasar barang impor murah menjadi basis produksi global yang disegani.
5. Defisit APBN Dijaga Ketat di Bawah 3%
Untuk menenangkan investor pasar obligasi yang khawatir dengan disiplin anggaran pemerintahan baru, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penegasan penting terkait kebijakan fiskal.
Ia menjamin bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 akan dijaga ketat agar tidak melampaui batas undang-undang sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Penegasan ini menjadi krusial mengingat realisasi defisit tahun 2025 yang tercatat mencapai 2,92% sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai arah kebijakan fiskal ke depan.
Meskipun target defisit tahun ini dinaikkan sedikit untuk mengakomodasi berbagai program prioritas Presiden Prabowo, Airlangga menjamin pengelolaan utang negara tetap dilakukan secara pruden.
Ia membandingkan posisi fiskal Indonesia dengan banyak negara maju maupun berkembang lainnya yang memiliki defisit anggaran jauh lebih lebar-bahkan dua kali lipat-namun tetap stabil secara ekonomi.
Pemerintah percaya diri bahwa dengan kinerja ekspor yang stabil dan alokasi belanja yang produktif untuk infrastruktur dan SDM, kredibilitas fiskal Indonesia akan tetap terjaga di mata rating agencies.
Hal ini penting untuk menjaga agar biaya bunga utang negara tidak membengkak di tengah tren suku bunga global yang masih tinggi.
6. Lapisan Tarif Cukai Ditambah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana untuk menambah lapisan tarif baru untuk cukai hasil tembakau dalam waktu dekat.
"Kita akan memastikan satu layer baru mungkin masih diskusikan ya," ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Purbaya menjelaskan penambahan lapisan tarif cukai baru ini bertujuan untuk memberi ruang para pengusaha rokok ilegal untuk masuk menjadi legal.
"Jadi mereka akan bayar pajak juga nanti nanti kalau saya sudah kasih sinyal ke mereka setelah layer itu keluar," ujarnya.
Foto: Kementerian KeuanganPenindakan rokok ilegal |
Dirinya menegaskan bahwa wacana penambahan lapisan tarif cukai tersebut masih dalam tahap pembahasan. Kendati demikian Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lagi memberikan toleransi apabila ditemukan pelanggaran setelah lapisan tarif cukai baru keluar.
"Nanti kalau peraturan keluar mungkin minggu depan kali ya Kalau mereka masih main-main, saya akan hantam semuanya Gak ada ampun lagi," tegasnya.
Sebagai informasi, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192 Tahun 2020 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau Berupa Sigaret Cerutu, Rokok Daun atau Klobot dan Tembakau Iris saat ini terdapat delapan lapisan tarif cukai hasil tembakau.
7. Rekor Dagang China: Surplus Nyaris US$ 1,2 Triliun Lawan Tarif AS
Beralih ke kancah global, China kembali menunjukkan ketahanan ekonomi yang luar biasa di tengah perang dagang jilid dua. Data terbaru mencatat surplus perdagangan China sepanjang tahun 2025 menembus rekor fantastis di angka US$1,189 triliun.
Angka ini dicapai justru ketika Amerika Serikat di bawah Presiden Trump menerapkan tarif impor yang sangat agresif hingga 47,5% terhadap produk-produk asal China.
Surplus bulanan China bahkan konsisten berada di atas US$100 miliar sebanyak tujuh kali sepanjang tahun lalu, membuktikan bahwa mesin ekspor mereka sulit dibendung.
Kunci sukses China bertahan dari gempuran tarif AS adalah strategi diversifikasi pasar yang masif dan terencana. Menghadapi tembok tarif tinggi di Amerika Utara, eksportir China membanjiri pasar-pasar alternatif di kawasan "Global South", seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin.
Produk-produk seperti kendaraan listrik, panel surya, hingga elektronik murah kini membanjiri pasar negara berkembang. Selain itu, banyak perusahaan China yang mendirikan pabrik atau basis produksi di luar negeri (relokasi) untuk menghindari tarif langsung dari AS.
Fenomena ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia yakni perlu mewaspadai potensi banjir produk impor China yang dialihkan dari pasar AS ke pasar domestik kita.
Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan trade remedies yang tepat, industri lokal bisa tergilas oleh barang impor murah tersebut.
8. Harga Produsen AS
Harga produsen Amerika Serikat (Producer Price Index/PPI) naik 0,2% secara bulanan (month-to-month) pada November 2025, meningkat dari kenaikan 0,1% pada Oktober dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
Harga barang melonjak 0,9%, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Februari 2024, dipimpin oleh lonjakan biaya energi sebesar 4,6%. Jika tidak memasukkan komponen pangan dan energi, harga barang untuk permintaan akhir naik 0,2%, sementara harga pangan permintaan akhir tidak berubah.
Harga jasa juga tercatat datar, setelah sebelumnya naik 0,3% pada Oktober.
Sementara itu, PPI inti (core PPI)-yang mengecualikan pangan dan energi-tidak berubah secara bulanan, melambat tajam dari kenaikan 0,3% pada Oktober dan berada di bawah perkiraan konsensus yang memproyeksikan kenaikan 0,2%.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi produsen utama (headline) meningkat menjadi 3,0%, dari 2,8%, melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,7%. Inflasi produsen inti juga naik tipis menjadi 3,0% dari 2,9%, dan sama-sama berada di atas perkiraan sebesar 2,7%.
9. Klaim Pengangguran dan Ekspor Impor AS
Hari ini AS akan mengumumkan data klaim pengangguran awal per 10 Januari 2026.
Klaim pengangguran berkelanjutan (Continuing Jobless Claims) di Amerika Serikat meningkat menjadi 1.914 ribu orang pada pekan yang berakhir 27 Desember 2025, naik dari 1.858 ribu orang pada pekan sebelumnya.
AS juga akan mengumumkan data ekspor-impor November 2026.
(gls/gls)
Foto: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Kementerian Keuangan