MARKET DATA
Newsletter

Kebijakan Purbaya, AS & China: 9 Isu Penentu Arah Pasar RI Hari Ini

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
15 January 2026 06:22
New York Stock Exchange NYSE bursa amerika serikat
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)

Bursa saham Wall Street melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Saham-saham Wall Street semakin menjauh dari level rekor, seiring pelaku pasar mencerna rilis kinerja keuangan terbaru perusahaan serta memantau perkembangan geopolitik.

Indeks S&P 500 turun 0,53% dan ditutup di level 6.926,60. Dow Jones Industrial Average melemah 42,36 poin atau 0,09% ke posisi 49.149,63. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1% dan berakhir di 23.471,75. Ini menjadi hari kedua berturut-turut seluruh indeks utama Wall Street mencatatkan penurunan.

Sektor teknologi menjadi pemberat utama pasar. Saham-saham chip khususnya mengalami tekanan, dengan Broadcom anjlok 4%, sementara Nvidia dan Micron Technology masing-masing turun lebih dari 1%.

Reuters, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa otoritas bea cukai China telah menginstruksikan petugasnya agar chip Nvidia H200 tidak diizinkan masuk ke negara itu.

Di sektor perbankan, Wells Fargo termasuk saham yang tertinggal, turun lebih dari 4% setelah membukukan pendapatan kuartal IV yang lebih lemah dari ekspektasi.

Bank of America dan Citigroup juga melemah meski kinerjanya melampaui perkiraan konsensus, karena investor menilai hasil tersebut belum cukup kuat untuk menopang pasar yang diperdagangkan di dekat level tertinggi sepanjang masa.

Penurunan ini menambah pelemahan saham perbankan sepanjang pekan ini, menyusul seruan Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu terkait reformasi suku bunga kartu kredit.

Hingga pertengahan pekan, saham Citigroup telah turun lebih dari 7% secara mingguan, Bank of America melemah sekitar 6%, sementara Wells Fargo turun hampir 7%.

Tekanan pasar tetap terjadi meskipun data producer price index (PPI) dan penjualan ritel November-yang sempat tertunda-dirilis dengan hasil solid.

"Jika Anda menerjemahkan angka PPI ini ke dalam proyeksi core PCE, saya pikir angkanya akan sedikit panas. Jika itu benar, ini menjadi masalah besar bagi The Fed. Hal ini memperparah kekhawatiran soal independensi The Fed."," kata Tom Graff, Chief Investment Officer di Facet, kepada CNBC.

Serangan Trump terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell kembali berlanjut pada Selasa, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentra. Departemen Kehakiman AS melakukan penyelidikan pidana terhadap pimpinan The Fed. Sejumlah bank sentral global kemudian menyatakan dukungan terhadap Powell menyusul dimulainya penyelidikan tersebut.

"Bagaimana jika kita memasuki paruh kedua tahun ini, ada ketua The Fed yang baru, dan mungkin seharusnya The Fed menaikkan suku bunga, atau setidaknya tidak memangkasnya, karena ekonomi mulai datar dan inflasi kembali naik Trader akan sangat khawatir dengan skenario itu," ujar Graff. 

Ketidakpastian geopolitik turut menekan sentimen pasar pada Rabu. Harga minyak sempat menguat hampir sepanjang sesi perdagangan, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat kerusuhan sipil di Iran serta meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, harga minyak kemudian berbalik turun setelah Trump mengisyaratkan bahwa AS mungkin tidak akan menyerang Iran.

"Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran telah berhenti. Itu sudah berhenti. Sedang berhenti, dan tidak ada rencana eksekusi," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Trump membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran pada Selasa dan mengatakan kepada para demonstran bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan."

Selain itu, pembicaraan krusial dijadwalkan berlangsung pada Rabu antara pemerintahan Trump dengan pejabat Greenland dan Denmark, di tengah dorongan Trump agar Amerika Serikat menguasai Greenland. Menjelang pertemuan tersebut, Trump menegaskan posisinya, menyebut apa pun selain Greenland menjadi bagian dari AS sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima."

"Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk kepentingan keamanan nasional. Ini vital bagi Golden Dome yang sedang kami bangun. NATO seharusnya memimpin jalan agar kami bisa mendapatkannya," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

(gls/gls)


Most Popular
Features