Awas Korban Berjatuhan-12 Provinsi RI Masuk Radar Bahaya Badan Geologi
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian ESDM merilis data terbaru potensi pergerakan tanah di wilayah Indonesia.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, setiap bulan pihaknya memang melayangkan update terkait gerakan tanah. Data itu sekaligus sebagai peringatan dini untuk dimanfaatkan Pemerintah Daerah (Pemda) sebagai acuan mitigasi-langkah antisipasi bencana di daerah masing-masing.
Sementara, dalam unggahan di akun Instagramnya, Badan Geologi mengungkapkan, terdapat 4.850 kecamatan yang berpotensi mengalami gerakan tanah katehori menengah-tinggi. Wilayah-wilayah itu tersebar di 443 kabupaten/kota di 38 provinsi di Indonesia.
Dari data itu, terdapat daerah-daerah yang dikategorikan rawan tinggi mengalami bencana pergerakan tanah.
Berikut sebaran potensi bahaya gerakan tanah di tingkat kecamatan berdasarkan potensi kerawanannya untuk Oktober 2026:
- kategori Menengah
2.058 kecamatan (42,4% kecamatan)
- kategori Menengah-Tinggi
2.751 kecamatan (56,7% kecamatan)
- kategori Tinggi
41 kecamatan (0,8% kecamatan).
Siaga Saat Hujan Deras
Lana Saria menjelaskan, untuk periode Oktober 2026, Peta Prakiraan Badan Geologi, Kementerian ESDM menunjukkan terdapat 12 provinsi yang memiliki wilayah dengan potensi gerakan tanah kategori Tinggi.
Yaitu Aceh, Bengkulu, Sumatra Utara, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, NTT, Papua Barat Daya, Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
"Dari hasil identifikasi pada tabel peta, terdapat 41 kecamatan dengan kategori potensi gerakan tanah Tinggi," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2026).
"Selain itu, terdapat 405 kecamatan di 18 provinsi yang pada peta Oktober 2026 ditandai berpotensi banjir bandang/aliran bahan rombakan. Sebaran terbanyak berada di Jawa Barat (112 kecamatan), Jawa Timur (77), Jawa Tengah (45), Sulawesi Selatan (33), NTB (26) dan Sumatra Utara (24)," tambah Lana.
Sebagai informasi, mengutip Badan Geologi, aliran bahan rombakan satu dari enam jenis tanah longsor. Jenis ini disebut paling banyak memakan korban jiwa manusia.
"Perlu kami tekankan bahwa ini merupakan peta prakiraan potensi, yang disusun dari overlay zona kerentanan gerakan tanah Badan Geologi KESDM, dengan prakiraan curah hujan BMKG. Jadi bukan berarti 41 kecamatan tersebut pasti mengalami longsor, maupun 405 kecamatan pasti mengalami banjir bandang," ucapnya.
"Potensi terutama perlu diwaspadai ketika terjadi hujan deras atau hujan yang berlangsung lama. Khususnya pada wilayah lereng curam, lembah sungai, dan daerah yang memiliki kondisi geologi rentan," tegas Lana.
Prediksi Musim Hujan 2026/2027
Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Prediksi Musim Hujan di Indonesia untuk periode tahun 2026/2027 terbaru yang dirilis 2 Oktober 2026 memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia, sekitar 51,90% luas daratan atau 482 Zona Musim (ZOM) mengalami Musim Hujan 2026/2027 yang lebih pendek dari normalnya.
Disebutkan, sebagian besar wilayah Indonesia (185 ZOM, 24,66% luas daratan Indonesia) diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026. Dan di 266 ZOM atau 17,31% luas daratan Indonesia pada bulan Desember 2026.
"Diawali dari wilayah Sumatra bagian utara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya," ujar BMKG.
Untuk akumulasi curah hujan pada periode Musim Hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu di 510 ZOM atau 69,76% luas daratan Indonesia diprediksi berada di kategori Normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologisnya.
"Puncak musim hujan di sebagian besar Indonesia diprediksi terjadi lebih lambat atau Mundur, yaitu di 332 ZOM atau 50,76% luas daratan Indonesia. Dan Sama dengan normalnya, yaitu di 275 ZOM atau 39,69% luas daratan Indonesia," tulis BMKG.
"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember 2026, yaitu di 155 ZOM atau 36,94% luas daratan Indonesia. Pada bulan Januari 2027 di 162 ZOM (25,68% luas daratan Indonesia). Dan di bulan Februari 2027 (190 ZOM, 16,79% luas daratan Indonesia)," papar BMKG.
(dce/dce)