RI Siap Siaga Bencana, BMKG Kasih Prediksi Musim Hujan-7 Rekomendasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pemutakhiran Prediksi Musim Hujan di Indonesia untuk periode tahun 2026/2027. Dalam dokumen yang dirilis 2 Oktober 2026 itu, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia, sekitar 51,90% luas daratan atau 482 Zona Musim (ZOM) diprediksi mengalami Musim Hujan 2026/2027 yang lebih pendek dari normalnya.
BMKG mengonfirmasi, saat ini berlangsung fenomena iklim El Nino dengan intensitas Sangat Kuat. Ditunjukkan dengan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik pada Agustus 2026 di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur mencapai angka +2,83. Dan, indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) pada periode Juni-Juli Agustus 2026 menunjukkan nilai sebesar +2,20 yang berarti ENSO berada pada fase El Nino Sangat Kuat. Kondisi ENSO diprediksi akan bertahan pada fase El Nino hingga awal tahun 2027.
"Sebagian besar wilayah Indonesia (482 ZOM atau 51,90% luas daratan Indonesia) diprediksi mengalami musim hujan 2026/2027 yang lebih pendek dari normalnya," tulis BMKG, dikutip Selasa (7/10/2026).
"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (529 ZOM, 61,08% luas daratan Indonesia) diprediksi datang lebih lambat atau mundur. Dan, sama dengan normalnya di 26 ZOM, 2,15% luas daratan Indonesia," tambah BMKG.
Disebutkan, sebagian besar wilayah Indonesia (185 ZOM, 24,66% luas daratan Indonesia) diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026. Dan di 266 ZOM atau 17,31% luas daratan Indonesia pada bulan Desember 2026.
"Diawali dari wilayah Sumatra bagian utara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya," ujar BMKG.
Untuk akumulasi curah hujan pada periode Musim Hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu di 510 ZOM atau 69,76% luas daratan Indonesia diprediksi berada di kategori Normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologisnya.
"Puncak musim hujan di sebagian besar Indonesia diprediksi terjadi lebih lambat atau Mundur, yaitu di 332 ZOM atau 50,76% luas daratan Indonesia. Dan Sama dengan normalnya, yaitu di 275 ZOM atau 39,69% luas daratan Indonesia," tulis BMKG.
"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember 2026, yaitu di 155 ZOM atau 36,94% luas daratan Indonesia. Pada bulan Januari 2027 di 162 ZOM (25,68% luas daratan Indonesia). Dan di bulan Februari 2027 (190 ZOM, 16,79% luas daratan Indonesia)," papar BMKG.
Musim Hujan Mundur, BMKG Ingatkan Risiko Bencana
BMKG mengingatkan, mundurnya awal musim hujan periode tahun 2026/2027 menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih lama di wilayah-wilayah terdampak.
Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan potensi curah hujan tinggi terutama pada puncak musim hujan berpotensi menyebabkan banjir.
"Hujan lebat atau berdurasi panjang di wilayah perbukitan atau lereng dapat memicu tanah
longsor," ujar BMKG.
Karena itu, BMKG merekomendasikan 7 langkah adaptasi, yaitu:
- menyiapkan shelter udara bersih dari kabut asap untuk kelompok rentan (anak-anak, lansia, penderita komorbid)
- membatasi kegiatan di luar ruangan dan menggunakan masker standar partikulat jika terpaksa berada di wilayah terdampak karhutla
- menyusun skenario dan jalur evakuasi serta membentuk tim siaga bencana mulai dari tingkat RT/RW
- memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG atau BPBD serta tinggi muka air sungai
- menyiapkan tas siaga bencana dan mengamankan kendaraan dan barang berharga di tempat lebih tinggi serta mematikan aliran listrik jika air masuk rumah
- melakukan evakuasi dini saat muncul tanda pergerakan tanah atau arahan petugas
- menunda kembali ke lokasi longsor sampai dinyatakan benar-benar aman.
Tak hanya itu, BMKG juga merekomendasikan langkah-langkah mitigasi menghadapi risiko bencana memasuki Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia.
Berikut mitigasi bencana rekomendasi BMKG:
- mengoptimalkan informasi prediksi hotspot untuk pemadaman titik api karhutla untuk mencegah perluasan area terbakar dan titik api susulan
- melakukan pemadaman dan pengendalian titik api secara responsif dan terintegrasi antar lembaga terkait
- membersihkan serta tidak membuang sampah ke saluran air
- membuat lubang biopori atau sumur resapan, memperluas area resapan air hujan dan menanam pohon atau vegetasi berakar kuat
- memetakan lokasi rawan banjir dan longsor
- memeriksa kondisi lereng secara berkala serta memelihara drainase dan vegetasi di lereng
- sosialisasi dan edukasi tentang tandatanda awal bencana dan melaporkan jika ada tanda-tanda ke tingkat RT/RW atau BPBD.
Pemutakhiran Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia dirilis BMKG 2 Oktober 2026. (Dok. BMKG) Foto: Pemutakhiran Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia dirilis BMKG 2 Oktober 2026. (Dok. BMKG) |
