Internasional

Negara di Ambang Krisis Baru, 50.000 Warga Gelar Aksi di Ibu Kota

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 03/09/2026 14:35 WIB
Foto: REUTERS/Jon Nazca

Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan warga Spanyol turun ke jalan memprotes krisis migrasi yang masih berlangsung di Ceuta, wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara. Ketegangan meningkat sebulan setelah puluhan ribu migran dan pencari suaka menyeberang dari Maroko ke wilayah tersebut.

Sekitar 50.000 orang dilaporkan berkumpul di Madrid pada Rabu (3/9/2026), sementara warga Ceuta menggelar aksi dengan membawa bendera Spanyol dan bendera kota. Massa meneriakkan seruan seperti "Usir para penyusup" serta "Ceuta tidak untuk dijual, Ceuta harus dipertahankan."

Aksi tersebut bertepatan dengan Hari Ceuta, hari libur lokal yang memperingati pengambilalihan kota itu oleh Portugis pada abad ke-15. Demonstrasi berlangsung lebih dari sebulan setelah lebih dari 70.000 migran dan pencari suaka menyeberang dari Maroko ke Ceuta pada 30-31 Juli, dalam gelombang kedatangan yang menewaskan sedikitnya 80 orang.


Sebagian besar pendatang kemudian kembali ke Afrika, tetapi ribuan lainnya masih berada di Ceuta. Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 5.000 orang masih bertahan, termasuk 1.200 anak di bawah umur, meski data lokal menunjukkan jumlah yang lebih besar.

Sebagian migran dan pencari suaka kini tidur di pantai-pantai Ceuta. Pemerintah Spanyol telah memperluas hunian darurat dan menambah pendanaan layanan sosial, termasuk menggelontorkan bantuan sebesar 309 juta euro atau sekitar Rp5,47 triliun untuk Ceuta, tetapi kebijakan tersebut dinilai belum mampu mengimbangi besarnya kebutuhan.

Krisis ini juga memicu sejumlah insiden kekerasan, mulai dari perkelahian hingga pelemparan batu ke patroli militer dan laporan kekerasan seksual.

"Situasinya kacau balau, sampai-sampai kita tidak bisa keluar rumah ke jalanan," kata Gema Guillen, salah satu pengunjuk rasa, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (3/9/2026).

Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah pusat dan oposisi saling menyalahkan. Pemimpin Ceuta Juan Jesus Vivas menyebut krisis itu sebagai "pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol", sementara Menteri Kebijakan Wilayah Angel Victor Torres menuding kelompok konservatif dan sayap kanan memanfaatkan situasi "untuk menyerang pemerintah Spanyol".

Perdana Menteri Pedro Sanchez juga menyebut kesalahpahaman terkait putusan pengadilan dan disinformasi daring sebagai pemicu gelombang penyeberangan. Di sisi lain, organisasi kemanusiaan meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi para migran.

"Mereka adalah orang-orang yang berada dalam situasi rentan; kita perlu memiliki sedikit empati," ujar Halima Ahmed dari Luna Blanca.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kebakaran Hutan Meluas, Spanyol Tetapkan Darurat Nasional