MARKET DATA
Internasional

5.000 Pelaut AS Tiba, Thailand Gelar Razia Prostitusi Pattaya

tfa,  CNBC Indonesia
03 September 2026 13:30
USS Abraham Lincoln bersandar di Pelabuhan Laem Chabang di Provinsi Chonburi, Thailand, Rabu (2/9/2026). (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Thailand melakukan razia prostitusi di Pattaya setelah kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di wilayah timur Thailand. Kapal tersebut membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir Amerika Serikat (AS).

Penertiban tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran kelompok anti-perdagangan manusia mengenai potensi eksploitasi perempuan di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat wisata seks Thailand.

Sebanyak 40 hingga 50 orang ditahan dalam operasi polisi yang berlangsung selama akhir pekan. Pada Rabu, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah tiba dan bersandar di pelabuhan Laem Chabang, setelah menjalani penugasan laut berkepanjangan tanpa singgah di pelabuhan.

Dianna Bautista, salah satu pendiri organisasi anti-perdagangan manusia Free Rain International, mengatakan kedatangan ribuan personel AS membuat pihaknya khawatir, terutama karena para pelaut baru kembali ke darat setelah hampir 10 bulan berada di laut.

"Kami merasa perlu berhati-hati dengan keputusan AS membawa 5.000 personel militer ke 'ibu kota seks dunia' setelah mereka terkurung di dalam kapal selama 10 bulan," katanya, seperti dikutip Newsweek, Kamis (3/9/2026).

Bautista juga mempertanyakan keputusan Angkatan Laut AS menjadikan Pattaya sebagai lokasi persinggahan.

"Dari ribuan tempat di mana kapal ini bisa berlabuh, mereka justru memilih untuk membawa pasukan ini ke sini. Hal ini terasa sangat diperhitungkan dan disengaja," ujarnya.

Razia dilakukan ketika prostitusi secara hukum masih ilegal di Thailand, meski praktik tersebut berlangsung secara terbuka di sejumlah kawasan hiburan malam Pattaya. Kepala Polisi Pattaya Anek Srathongyoo mengakui penertiban bukan perkara mudah.

"Kami berupaya semaksimal mungkin, namun hal itu sulit dilakukan," katanya, dikutip Reuters.

Untuk mengantisipasi persoalan selama kunjungan, aparat Thailand dan perwakilan Angkatan Laut AS juga menetapkan sejumlah pembatasan bagi personel USS Lincoln. Mereka dilarang memasuki kawasan prostitusi tertentu, toko ganja dan apotek, serta mengikuti kegiatan berbasis air.

Pelanggaran aturan terkait ganja dapat dikenai hukuman hingga satu tahun penjara dan denda sekitar US$600 atau Rp10,62 juta (asumsi Rp17.700/US$).

USS Abraham Lincoln dijadwalkan berada di Thailand selama sekitar empat hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju pangkalannya di San Diego. Persinggahan ini menjadi kesempatan bagi ribuan awak untuk beristirahat setelah lebih dari 200 hari beroperasi di laut, sementara kapal induk USS George Washington telah mengambil alih tugas Lincoln di kawasan tersebut.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapal Induk AS Berkarat Usai 8 Bulan Tempur, Berlabuh di Tetangga RI


Most Popular
Features