MARKET DATA
Internasional

Jalur Maut Makan Korban Lagi, 50 Orang Tewas-Hilang di Laut

tfa,  CNBC Indonesia
16 July 2026 21:30
Foto selebaran tak bertanggal yang disediakan oleh Hellenic Coast Guard menunjukkan para migran di atas kapal selama operasi penyelamatan, sebelum kapal mereka terbalik di laut lepas, lepas pantai Yunani, 14 Juni 2023. (Hellenic Coast Guard/Handout v
Foto: Foto selebaran tak bertanggal yang disediakan oleh Hellenic Coast Guard menunjukkan para migran di atas kapal selama operasi penyelamatan, sebelum kapal mereka terbalik di laut lepas, lepas pantai Yunani, 14 Juni 2023. (REUTERS/HELLENIC COAST GUARD)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tragedi kembali terjadi di Laut Mediterania setelah sebuah kapal yang mengangkut sekitar 60 migran, termasuk perempuan dan anak-anak, terbalik di lepas pantai timur Libya. Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas atau hilang saat kapal dalam perjalanan menuju Eropa.

Otoritas Penjaga Pantai Libya timur mengatakan kecelakaan terjadi pada Selasa di dekat Pulau Bardaa, tak jauh dari Kota Tobruk. "Sebanyak 10 orang berhasil selamat dengan berenang ke Pulau Bardaa, sementara pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan," kata pihak Penjaga Pantai, seperti dikutip The Associated Press, Kamis (16/7/2026).

Menurut otoritas setempat, kapal tersebut membawa para migran yang berupaya menyeberangi Laut Mediterania untuk mencapai pantai Eropa. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung guna menemukan penumpang lain yang belum diketahui nasibnya.

Insiden ini menjadi tragedi maritim terbaru di perairan Libya, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik keberangkatan utama bagi para migran dari Afrika dan Timur Tengah menuju Eropa. Pada bulan lalu, kecelakaan kapal serupa di lepas pantai timur Libya juga menewaskan atau menyebabkan hilangnya 51 migran.

Libya terus menjadi jalur transit utama bagi para migran sejak negara itu dilanda konflik menyusul pemberontakan yang didukung NATO pada 2011, yang berujung pada terguling dan tewasnya pemimpin lama Moammar Gadhafi. Ketidakstabilan politik membuat jaringan penyelundup manusia leluasa beroperasi di wilayah tersebut.

Para penyelundup umumnya mengangkut migran menggunakan perahu kecil yang kelebihan muatan dan tidak layak berlayar. Kondisi itu membuat perjalanan melintasi Laut Mediterania menjadi salah satu rute migrasi paling mematikan di dunia.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 800 migran tewas atau hilang di jalur Mediterania tengah sepanjang periode 1 Januari hingga 16 Mei tahun ini. "Tahun lalu, lebih dari 1.300 migran tewas atau hilang di jalur tersebut," kata IOM, menegaskan tingginya risiko yang terus dihadapi para pencari suaka dan migran yang mencoba mencapai Eropa.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ikuti Fransiskus, Paus Leo XIV Datangi Imigran saat HUT AS-Sinyal Apa?


Most Popular
Features