Di Balik Polemik Terhentinya Ekspor Logam Nikel Cs Imbas Kandungan LTJ
Pada Februari 2026 lalu, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto mengakui bahwa Indonesia masih memiliki tantangan dalam penguasaan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ).
Menurut Brian, negara-negara maju pemilik teknologi cenderung menutup diri dan enggan melakukan transfer teknologi dan lebih memilih untuk membeli mentahnya saja.
"Hampir semua negara menutup, mereka hanya mau membeli bahan mentah. Karena memang teknologi ini tidak mudah begitu ya. Mereka inginnya adalah mengelola mineral yang mengandung Logam Tanah Jarang itu di negaranya masing-masing saja. Mereka tidak mau mengembangkan di Indonesia," ungkap Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (19/2/2026).
Brian menjelaskan, teknologi pemisahan LTJ menjadi mineral tunggal (single mineral) memang sangat kompleks dan sulit dikuasai. Hal itu berbeda dengan mineral lain yang teknologinya relatif lebih mudah didapatkan atau dibeli di pasar global, sehingga penguasaan teknologi LTJ menjadi aset yang sangat dilindungi oleh negara-negara produsen utama.
"Kalau tadi sampai Mix Rare Earth Oxide itu sudah ada (di Indonesia). Kalau sampai element, ini yang belum ada. Kita sedang membujuk beberapa negara dengan timbal balik adalah mereka bisa menjadi offtaker (pembeli)-nya," tambahnya.
Keterbatasan akses teknologi tersebut membuat Indonesia harus menyusun strategi, salah satunya dengan mengoptimalkan riset dalam negeri dan membentuk entitas khusus.
Potensi LTJ di Indonesia
Mengutip Booklet Logam Tanah Jarang yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020, potensi mineral tanah jarang di Indonesia berasal dari beberapa produk turunan dari hasil pengolahan sejumlah mineral, seperti timah, emas, alumina, pasir zircon hingga nikel.
Adapun lokasinya mayoritas berada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.
Dari total 28 lokasi mineralisasi LTJ yang terungkap, baru sekitar 9 lokasi mineralisasi LTJ (30%) telah dieksplorasi awal, namun 19 lokasi mineralisasi LTJ (70%) belum dilakukan/ belum optimal dilakukan eksplorasi.
Berikut beberapa jenis mineral tanah jarang di Indonesia:
- Monasit dan Xenotime, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih timah. Potensinya terdapat di tambang timah di Bangka Belitung.
- Monasit:
Indonesia telah memiliki sumber daya monasit sebesar 185.179 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Hasil analisa konsentrat monasit dalam timah antara lain 31,5% CeO2, 13,2% La2O3, 11% Nd2O3, 3,9% Y2O3, 2,98% Pr6O11, 1,98% Gd2O3, 1,96% Sm2O3.
Ada 3 provinsi yang memiliki potensi logam tanah jarang, antara lain:
1. Kepulauan Riau, sumber daya LTJ 2.268 ton.
2. Kepulauan Bangka Belitung, sumber daya LTJ 181.735 ton.
3. Kalimantan Barat, sumber daya LTJ 1.175 ton.
- Xenotime:
Indonesia telah memiliki sumber daya xenotime sebesar 20.734 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Adapun lokasinya berada di Kepulauan Bangka Belitung.
- Zirconium silicate, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih timah dan emas, serta di dalam pasir zircon. Potensinya terdapat di tambang pasir zirkon di Kalimantan. Adapun unsur LTJ di dalamnya antara lain Y (Yttrium) dan Ce (cerium).
- Ferrotitanates, merupakan residu hasil pengolahan bauksit menjadi alumina. Potensinya terdapat di lumpur merah (red mud) di Kalimantan Barat.
- Bijih nikel laterit, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih nikel laterit melalui proses hidrometalurgi yaitu smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) nikel-cobalt. Potensinya terdapat di tambang nikel (limonit) di Sulawesi. Unsur LTJ antara lain Sc (scandium), Nd (neodymium), Pr (praseodymium), Dy (disprosium))
- Batuan granit
- Abu batu bara/FABA (monasit).
(wia) [Gambas:Video CNBC]