Pedagang Pasar Mester Meringis, Cerita Nasib Sejak Kena Efek Pandemi
Jakarta, CNBC Indonesia - Lesunya ekonomi Indonesia juga terlihat di beberapa pasar tradisional di Jakarta, di mana kenaikan harga barang-barang membuat pedagang makin resah.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Pasar Jatinegara atau yang dikenal sebagai Pasar Mester, Rabu (20/5/2026), tampak aktivitas cukup sepi.
Para pedagang pun mulai mengeluhkan jumlah pembeli yang semakin berkurang di tengah kenaikan harga barang-barang seperti harga BBM dan harga plastik.
Salah satunya yakni Felix, pedagang pakaian batik dan kemeja mengungkapkan sepinya pelanggan sejatinya sudah terjadi sejak pandemi Covid-19. Namun dalam setahun terakhir, kondisinya makin parah.
"Memang lagi sepi, sebenarnya sejak Covid-19 ya, nah pas Covid-19 sedikit mereda, sempat balik ramai, tapi setelah itu, makin sepi, dan ya paling terlihat banget setahun terakhir," kata Felix saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (20/5/2026).
Ia juga mengeluhkan harga plastik dan lain-lainnya yang mengalami kenaikan. Apalagi, plastik digunakannya untuk membungkus pakaian yang dipajang.
"Ya sejak harga barang-barang mulai naik, makin resah kami, apalagi harga plastik, itu naiknya lumayan tinggi, karena kan plastik dipakai buat pembungkus kemeja atau batiknya," lanjutnya.
Di tokonya, batik yang dijual mayoritas buatan dalam negeri. Namun, ada beberapa batik yang diimpor dari China.
Harganya pun bervariasi. Untuk batik lokal mulai dari Rp130.000 hingga Rp170.000. Sedangkan untuk batik buatan China, hanya tersedia dua buah dengan harga Rp135.000.
"Kebanyakan di sini made in lokal, ada yang bermerek bagus, ada yang bahannya biasa saja, ada yang medium," terangnya.
Begitu juga pedagang lainnya yakni Salman, pedagang botol minum mengungkapkan pembeli makin selektif untuk membeli botol minum sejak harga barang-barang mengalami kenaikan, meski dirinya tidak menaikkan harga botol.
"Sejak harga barang-barang mulai naik, orang-orang lebih milih-milih buat belanja, sekarang yang beli botol minum makin berkurang, mungkin karena uangnya untuk kebutuhan lain," kata Salman.
Adapun harga botol minum di tokonya dibanderol mulai dari Rp20.000 hingga Rp65.000. Harga tersebut masih normal dan belum ada kenaikan.
"Belum naik sih, memang harganya segitu, cuma memang yang beli makin sedikit, mungkin ya itu, uangnya buat kebutuhan lain," terang Salman.
Begitu juga harga perabotan rumah, di mana harga plastik yang meninggi sangat membebani pedagang. Salah satunya yakni Saidi, mengungkapkan harga perabotan sudah mengalami kenaikan efek harga plastik
"Wah, harga plastik sih yang bikin kami meringis, makin mahal soalnya, mau enggak mau kami naikkan harga barang di sini," kata Saidi.
Contohnya kain pel, di mana harganya kini mencapai Rp25.000, dari sebelumnya Rp20.000. Begitu juga harga piring melamin yang naik menjadi Rp72.000 per lusin, dari sebelumnya Rp66.000.
"Gayung juga, awalnya Rp10.000 dapat 2, sekarang jadi Rp15.000," ujar Saidi.
(dce) Add
source on Google