MARKET DATA
Internasional

Dunia Benar-Benar Gelap? IMF Beri Peringatan Baru Ekonomi Global

tps,  CNBC Indonesia
08 April 2026 12:43
Daftar 10 Negara dengan Utang IMF Terbesar di 2026
Foto: IMF (Aristya Rahadian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi global kini tengah berada dalam bayang-bayang ancaman serius berupa lonjakan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari perang Iran. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memberikan peringatan keras awal pekan, seiring persiapan lembaga tersebut untuk memangkas proyeksi ekonominya.

Mengutip CNBC International, Georgieva menegaskan bahwa situasi dunia saat ini sudah berada dalam jalur yang mengkhawatirkan akibat eskalasi konflik yang terjadi. Seluruh indikator ekonomi menunjukkan arah yang negatif bagi stabilitas finansial global di masa mendatang.

"Semua jalan sekarang mengarah pada harga-harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat," ujar Kristalina Georgieva dalam sebuah wawancara dikutip Rabu (8/4/2026).

Sebelum pecahnya perang, IMF sebenarnya sempat mengantisipasi adanya kenaikan kecil pada prospek pertumbuhan global sebesar 3,3% untuk tahun 2026 dan 3,2% pada tahun 2027. Namun, Georgieva menjelaskan bahwa ekspektasi tersebut kini telah jungkir balik karena konflik Iran telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh ekonomi global.

Kejutan ekonomi tersebut dinilai tidak mungkin terurai dalam waktu dekat, bahkan jika perang tersebut berhasil diselesaikan dengan cepat. Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran enam minggu lalu telah memicu guncangan signifikan terhadap pasokan energi akibat penutupan efektif Selat Hormuz.

Penutupan koridor pengiriman vital tersebut sempat membuat lalu lintas laut di Teluk terhenti total. Meskipun pengiriman melalui jalur maritim krusial itu perlahan mulai dilanjutkan, dengan laporan 8 kapal tanker yang melintas pada hari Senin, jumlah ini masih jauh jika dibandingkan dengan rata-rata kurang dari 2 transit per hari pada Maret menurut data S&P Global Market Intelligence.

Volume lalu lintas tersebut tetap berada di sebagian kecil dari tingkat sebelum perang, di mana rata-rata terdapat 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak yang melintasi jalur tersebut per hari pada tahun 2025. IMF mencatat bahwa pasokan minyak global telah berkurang sebesar 13%, sementara kerusakan parah telah terjadi pada rantai pasok kritis lainnya.

Georgieva memperingatkan bahwa negara-negara miskin yang tidak memiliki cadangan devisa yang cukup akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis ini. Kondisi geopolitik yang memanas memperburuk ketidakpastian yang sudah ada sebelumnya di pasar global.

"Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang meningkat. Semua ini berarti setelah kita pulih dari guncangan ini, kita perlu tetap membuka mata untuk guncangan berikutnya," kata Georgieva sambil merujuk pada ketegangan geopolitik, kemajuan teknologi, guncangan iklim, dan pergeseran demografi.

Ancaman ganda dari harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat ini memicu ketakutan akan kembalinya fenomena "stagflasi" di kalangan konsumen, pemimpin bisnis, hingga pembuat kebijakan. Perang Iran diprediksi akan mendominasi diskusi dalam pertemuan musim semi Bank Dunia dan IMF minggu depan, di mana Georgieva dijadwalkan menyampaikan pidato pada Kamis mendatang.

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi turut mengonfirmasi bahwa arah ekonomi dunia saat ini memang sedang menuju fenomena stagflasi yang menakutkan tersebut. Kebijakan-kebijakan yang diambil selama konflik berlangsung menjadi pemicu utama memburuknya kondisi ekonomi internasional.

"Secara arah, ini adalah stagflasi. Ini adalah inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah yang merupakan hasil dari kebijakan, baik kebijakan tarif maupun kebijakan imigrasi," tutur Zandi.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Target Prabowo: Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas 5% Tahun ini


Most Popular
Features