MARKET DATA
Internasional

Suram! Efek Ngeri Perang Iran Hantam Eropa, Sinyal 'Kiamat' Ekonomi

tps,  CNBC Indonesia
19 May 2026 10:17
Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)
Foto: Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)

Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa (UE) dilaporkan bakal segera memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka akibat hantaman kejutan stagflasi yang dipicu oleh rembetan perang Iran yang terus memanas di Timur Tengah. Langkah pemangkasan tersebut terpaksa diambil menyusul kondisi ekonomi global yang kian memburuk akibat konflik bersenjata tersebut.

Mengutip laporan CNBC International, kepastian mengenai penurunan proyeksi tersebut disampaikan langsung oleh Komisaris Ekonomi Uni Eropa. Otoritas ekonomi sekutu Benua Biru tersebut menjabarkan bahwa draf perkiraan musim semi yang akan dirilis pada akhir pekan ini bakal memuat penyesuaian penurunan angka pertumbuhan ekonomi serta revisi kenaikan angka inflasi yang signifikan.

Komisaris Eropa untuk Ekonomi dan Produktivitas, Valdis Dombrovskis, membeberkan indikasi buruk tersebut di sela-sela agenda pertemuan tingkat tinggi di Prancis. "Kita sedang menghadapi sebuah kejutan stagflasi," ujar Valdis Dombrovskis di sela-sela pertemuan para menteri keuangan G7 di Paris Senin, dikutip Selasa (19/5/2026).

Kekhawatiran global terhadap ancaman nyata stagflasi terpantau melonjak tajam dalam beberapa minggu terakhir karena penyelesaian perang secara permanen di Timur Tengah terbukti sangat sulit dicapai. Kondisi ini diperparah dengan ditutupnya jalur pelayaran vital Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak mentah dunia terus bertengger kokoh di atas level US$ 100 per barel.

Dombrovskis menambahkan bahwa ruang gerak yang dimiliki oleh para pembuat kebijakan ekonomi di tingkat dunia kini menjadi jauh lebih sempit dibandingkan periode krisis sebelumnya. Situasi rumit ini membuat pemerintah negara-negara Eropa hampir tidak memiliki celah untuk meluncurkan respons fiskal berbasis luas seperti yang pernah mereka terapkan secara masif selama masa pandemi virus corona beberapa tahun lalu.

"Kami pikir penting agar langkah-langkah dukungan yang kami ambil bersifat sementara dan tepat sasaran, bukan langkah-langkah yang justru mempertahankan tingginya permintaan terhadap bahan bakar fosil," kata Dombrovskis menambahkan.

Di sisi lain, para pakar strategi ekonomi global telah mengeluarkan peringatan keras bahwa stok minyak mentah dunia saat ini tengah merosot tajam ke titik terendah. Cadangan minyak internasional tersebut diprediksi tidak akan mampu pulih hingga bulan Desember 2027 mendatang, yang memicu ancaman kelangkaan fisik pasokan energi membayangi daratan Eropa pada akhir bulan ini.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam pembaruan laporan bulanan terbarunya turut memberikan peringatan senada mengenai laju penyusutan cadangan minyak bumi dunia yang terjadi dalam kecepatan yang mencetak rekor sejarah baru.

"Penyusutan penyangga yang terjadi secara cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut dapat menjadi pertanda terjadinya lonjakan harga di masa depan," bunyi peringatan tertulis resmi dari pihak IEA.

Merespons ancaman tersebut, Dombrovskis menjelaskan bahwa pelepasan cadangan minyak strategis milik Uni Eropa sejauh ini masih terus berjalan untuk mengamankan pasar. Kendati demikian, dirinya tidak menampik adanya kekhawatiran nyata terkait potensi kelangkaan pasokan pada beberapa sektor energi spesifik seperti bahan bakar inovasi.

"Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar risiko terjadinya beberapa hambatan pasokan, yang sekaligus memperkuat pesan kami bahwa respons kebijakan tidak boleh meningkatkan permintaan terhadap bahan bakar fosil," tutur Dombrovskis menjelaskan dampaknya yang fatal bagi industri.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Survei Terbaru: Perang Iran Hanya Pembuka, Petaka Besar Sudah Menanti


Most Popular
Features