Ternyata RI Produsen Beras Terbesar 4 Dunia, Kok Makin Mahal?

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
25 January 2023 08:35
Rata-rata harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang mengalami kenaikan Foto: Martyasari Rizky

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras jadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Menyusul lonjakan harga yang terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan, pemerintah kembali harus membuka keran impor untuk menjinakkan harga beras di dalam negeri.

Di mana, bulan Desember 2022, pemerintah menugaskan Perum Bulog mengimpor 500 ribu ton beras, yang proses pemasukannya dijadwalkan rampung sepenuhnya bulan Februari nanti. Keputusan mengimpor ini setelah dinyatakan berhasil menjaga swasembada beras selama 3 tahun pada Agustus 2022 lalu.

Data awal Panel Harga Badan Pangan pagi ini, Rabu (25/1/2023 pukul 7.41 WIB) menunjukkan, harga beras premium naik Rp310 jadi Rp13.480 per kg dan beras medium naik Rp180 jadi Rp11.750 per kg.

Harga tersebut adalah rata-rata nasional di tingkat pedagang eceran.

Secara tahunan, harga beras di Januari 2022 masih di Rp12.350 per kg premium dan beras medium di Rp10.830 per kg.

RI Produsen Beras Terbesar 4 Dunia

Lalu, apa pemicu lonjakan harga beras di Indonesia tak kunjung mereda? Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga beras premium terus menanjak sejak akhir Juli 2022. Dari posisi saat itu harga beras premium rata-rata nasional di pedagang eceran adalah Rp12.250 per kg.

Sementara, beras medium, harga terpantau turun di bulan Juli jadi Rp10.700 per kg dari posisi Januari 2022 yang tercatat Rp10.830 per kg. Mulai akhir Juli 2022, harga beras terus menanjak hingga saat ini.

Padahal, Indonesia masuk dalam 5 besar negara produsen beras terbesar di dunia.

Departemen Pertanian AS (USDA) memproyeksikan, produksi beras Indonesia tahun 2022/2023 mencapai 34,64 juta ton. Posisi Indonesia berada di bawah produksi beras Bangladesh yang diprediksi mencapai 35,65 juta ton.

Berikut 5 negara produsen beras terbesar versi USDA tahun 2022/2023:

China           145,94 juta ton
India            125 juta ton
Bangladesh   35,65 juta ton
Indonesia     34,60 juta ton
Vietnam       27,22 juta ton

Bahkan, sepanjang periode tahun 2017-2022, Indonesia merupakan produsen beras terbesar ketiga di dunia, dengan rata-rata produksi tahunan mencapai 34,96 juta ton. Sementara Bangladesh di posisi keempat dengan produksi tahunan 34,77 juta ton.

Hanya saja memang, konsumsi beras Indonesia juga masuk dalam daftar terbanyak di dunia.

Berikut 5 negara konsumen beras terbesar dunia sepanjang periode tahun 2019-2022:

China               150,62 juta ton
India                104,17 juta ton
Bangladesh      36,10 juta ton
Indonesia         35,51 juta ton
Vietnam           21,38 juta ton.

Dengan angka konsumsi tersebut, Indonesia masuk dalam kelompok negara pengimpor bersama China. Sedangkan, India dan Vietnam sebagai pengekspor.

Bukan Mafia

Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso mengatakan, tren kenaikan harga beras saat ini terjadi karena efek musiman, sesuai pola panen. Di mana, mulai bulan Agustus sampai dengan Februrari, produksi di bawah kebutuhan bulanan.

"Petani memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga gabah dan penggilingan padi di daerah produsen sudah terlalu banyak dan pada saat seperti ini pemilik modal yang mampu bersaing (umumnya yang besar)," kata Sutarto kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (25/1/2023).

Selain itu, dia menambahkan, faktor lain yang berdampak pada kenaikan harga beras adalah Kebijakan, strategi dan implementasi pemerintah dalam pelaksanaan operasi pasar (OP).

Hanya saja, jika memang faktor musiman, apa yang membedakan kondisi tahun 2022 hingga pemerintah kemudian menyerah dan membuka keran impor, dibandingkan tahun 2019-2021 di saat Indonesia dinyatakan swasembada beras?

"Karena adanya kebijakan pemerintah, antara lain kenaikan BBM (bahan bakar minyak), fleksibilitas harga pembelian, stok pemerintah yang tipis, dan OP tidak masif," jelas Sutarto.

"Dan, pemerintah lambat mengantisipasinya," tukasnya.

Seperti diketahui, pemerintah memang menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) di bulan September 2022. Untuk mendukung upaya pengadaan beras Bulog yang ditugaskan harus mencapai 1,2 juta ton per akhir tahun 2022.

Bulog menggunakan harga fleksibilitas, yaitu:

- Rp4.450 per kg gabah kering panen (GKP) di tingkat petani
- Rp5.550 per kg gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan
- Rp5.650 per kg GKG di gudang Bulog
- Rp8.800 per kg beras di gudang Bulog.

Harga fleksibilitas untuk beras ini naik dari harga pembelian Bulog sebelumnya yang ditetapkan Rp8.300 per kg.

Namun, pemerintah kemudian mencabut kebijakan harga fleksibilitas tersebut. Karena justru semakin menaikkan harga beras di pasar.

"Tapi, begitu dikasih fleksibilitas harga Rp8.800, kita dikunci Rp8.900. Jadi, tetap saja nggak bisa beli. Nanti jadi inflasi," kata Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI bersama Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rabu (16/11/2022).

"Kita nggak kebagian (dengan fleksibilitas harga beras yang sudah di bawah harga pasar). Kita diminta beli beras komersial yang nggak ada batasnya, mengikuti harga pasar. Itu pun sulit, barang terbatas," ujarnya.

Dan, Bulog kemudian tak bisa memenuhi target penugasan pemerintah untuk menjaga cadangan beras sebesar 1,2 juta ton di akhir tahun 2022. Hanya sekitar 300 ribu ton, berasal dari dalam negeri.

Sementara itu, Sutarto pun menampik adanya faktor yang disebut sebagai mafia beras.

"Kalau mafia definisinya seperti apa ya? Setahu saya spekulan yang ada. Cara melawannya ya pemerintah harus punya stok untuk mengisi pasar supaya spekulan tidak bermain," kata Sutarto.

Hal senada disampaikan Pengamat Pertanian Khudori.

"Mafia itu nggak ada," tukas Khudori.

Menurut Khudori, kondisi harga beras di dalam negeri saat ini salah satunya disebabkan kembali normalnya konsumsi. Menyusul, semakin bebasnya aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat, setelah dibatasi akibat pandemi Covid-19.

"Untuk padi nggak ada masalah data, baik produksi maupun konsumsi. Semua pakai data yg sama: BPS," kata Khudori.

"Tahun 2020-2021 anomali. Pandemi. Pertengahan tahun lalu, kalau melihat data-data yang ada, situasi kembali normal seperti sebelum pandemi," jelas Khudori.

Di tengah konsumsi yang kembali normal, kata dia, stok pemerintah di Bulog tipis. Akibatnya memicu sentimen di pasar yang berdampak pada gejolak harga beras.

Sebelumnya, Buwas mengatakan, penyebab tingginya harga beras di pasaran karena stok yang minim dan juga praktik mafia.

"Sebenarnya saya sudah tahu, dan saya tidak bodoh-bodoh amat. Kalau tanda kutip ada mafia, memang ada," tegas Buwas saat mengumpulkan para pedagang beras di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Jumat (20/1/2023).

"Nah sekarang kita punya beras itu untuk kepentingan intervensi pasar dan masyarakat harga murah dan kebutuhan tercukupi. Kita sudah lakukan, tapi saya nggak tahu begitu banyak yang kita lepas tapi harganya masih tinggi," ujarnya.

Buwas juga mengungkapkan ada pertemuan senyap dari kalangan pengusaha. Diduga pertemuan tersebut membicarakan kongkalikong soal beras agar mereka meraup untung.

"Teman-teman dari pengusaha, saya sampaikan ini supaya dengar semua. Jadi saya gak perlu dibantai atau gimana, nanti yang jawab Satgas Pangan. Jadi jangan seperti itu lah, ini model-model apa. Dan hebat beraninya mengadakan pertemuan itu di dekat kantor Bulog, top banget itu," sebutnya.

"Sepertinya beliau nyentil ke dalam, ke internal Bulog," pungkas Khudori merespons pernyataan Buwas tersebut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terungkap, Ini Biang Kerok Sebenarnya Harga Beras Terus Naik


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading