Terungkap, Ini Biang Kerok Sebenarnya Harga Beras Terus Naik

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
25 November 2022 17:10
Pedagang menakar beras literan di pasar Kebayoran Lama, Jakarta, 1/11. Ekonomi Indonesia mengalami deflasi pada Oktober 2022 sekaligus angka inflasi menurun secara tahunan. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras masih melanjutkan tren kenaikan.

Informasi Pangan Jakarta mencatat, harga beras hari ini, Jumat (25/11/2022 pukul 13.09 WIB) naik untuk semua jenis. Yaitu:

- beras IR.I (IR 64) naik Rp17 jadi Rp11.566 per kg
- beras IR.II (IR 64) Ramos naik Rp16 jadi Rp10.718/kg
- beras IR.III (IR 64) medium naik Rp66 jadi Rp10.005 per kg
- beras Muncul I naik Rp14 jadi Rp12.511 per kg
- beras IR 42/ Pera naik Rp40 jadi Rp12.264 per kg
- beras Setra I/ Premium naik Rp3 jadi Rp12.272 per kg.

Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, hari ini, Jumat (25/11/2022 pukul 11.03 WIB), harga rata-rata nasional untuk beras premium naik Rp180 jadi Rp12.890 per kg. Dan beras medium naik Rp110 jadi Rp11.250 per kg. Ini adalah harga di tingkat pedagang eceran.

Di tingkat produsen, harga beras premium di penggilingan naik Rp60 jadi Rp10.880 per kg dan beras medium penggilingan naik Rp20 jadi Rp9.560 per kg.

Dan di tingkat pedagang grosir harga beras premium naik Rp230 jadi Rp11.970, sedangkan medium naik Rp130 jadi Rop10.410 per kg.

Sementara, pada 18 November lalu, harga beras premium rata-rata nasional masih Rp12.680 per kg dan medium Rp11.120 per kg.

Lalu apa pemicu harga beras terus naik?

Sekjen Koperasi Pedagang Beras Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Nellys Soekidi menjelaskan sejumlah faktor pemicu kenaikan harga beras.

"Bulan 11, 12, dan 1 itu sudah menjadi kebiasaan harga di bulan-bulan ini harus diantisipasi karena paceklik. Biasanya, di bulan-bulan tersebut pemerintah mengintervensi pasar untuk menekan harga. Perum Bulog melakukan KPSH (Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga/ sebelumnya operasi pasar/ OP)," kata Nellys kepada CNBC Indonesia, Jumat (25/11/2022).

"Untuk intervensi itu diperlukan peluru, buffer stock yang cukup. Pertanyannya, stok Bulog yang sekarang di bawah 600 ribu ton itu bukan stok yang ideal untuk mengantisipasi kenaikan harga," tambahnya.

Karena itu, imbuh Nellys, Bulog harus menambah stok beras yang dikuasai. Sehingga bisa memasok ke pasar.

"Mengisi buffers stock agar ideal itu bisa dari mana-mana. Kalau dari dalam negeri kurang, impor. Impor bukan berarti nggak benar. Itu juga kalau masih ada barangnya di luar," tukas dia.

"Kalau nanti terjadi sesuatu, lalu tidak ada cadangan beras pemerintah, siapa yang tanggung jawab," ujarnya.

Menurut Nellys, dalam kondisi normal, biasanya volume beras di Pasar Induk Beras Cipinang berkisar 2.500-3.000 ton per hari.

"Belakangan ini sudah turun ke bawah 2.000 ton per hari. Datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang di hulu kondisinya harga gabah kering panen (GKP) di petani sudah tinggi, panen sedikit," katanya.

Karena itu, dia menambahkan, seharusnya dalam kondisi seperti ini, Bulog menggelontorkan beras ke pasar.

"Saat kondisi normal, biasanya Bulog sudah memasok pasar bisa mencapai 2.000-4.500 seminggu. Kalau sekarang paling 500-2.000 ton seminggu," kata Nellys.

Padahal, lanjutnya, satu-satunya alat intervensi Bulog menahan kenaikan harga beras adalah stok yang mencukupi.

"Kondisi di lapangan saat ini menambah sentimen. Memicu kenaikan harga karena posisi stok negara yang tipis di bawah ideal," ujar Nellys.

"Bagi kami pedagang, yang penting harga stabil. Dan, kalau harga terlalu tinggi kasihan petani, Karena petani juga adalah konsumen," katanya.

Sementara itu, Pengamat Pertanian Khudori mengatakan hal senada.

"Dugaan saya, ini terjadi normalisasi. Ketika tahun 2020-2021, saat pandemi, kondisinya anomali. Di mana, selama 2 tahun itu harga beras nggak tinggi, bukan pemicu inflasi," kata Khudori.

"Sekarang, setiap bulan November-Januari itu memang selalu siklusnya harga naik. Nah, sekarang terjadi lagi setelah di tahun 2020-2021 tidak terjadi. Ada normalisasi di mana saat panen raya harga turun, saat paceklik harga tinggi," ujarnya.

Khudori memprediksi, tren kenaikan harga beras atau bertahan tinggi masih akan berlanjut sampai memasuki panen raya tahun depan.

"Dan, kalau melihat data serapan Bulog, nggak adil juga kalau menuding Bulog tidak melakukan penyerapan. Karena, penyerapan domestik beras Bulog tahun ini sebenarnya hanya beda tipis selama 3 tahun terakhir," jelasnya.

"Ini adalah efek dari penyesuaian Manajemen Bulog atas kebijakan perberasan nasional yang tak lagi terintegrasi. Di mana tak ada lagi kepastian outlet penyaluran, yang tadinya adalah raskin/ rastra. Akibatnya, penyerapan Bulog semakin tipis, tak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya yang sempat 2,5-3 juta ton," papar Khudori.

Faktor lain yang turut menyumbang kenaikan harga beras, lanjut dia, diberlakukannya fleksibilitas harga beras untuk pengadaan Bulog di saat paceklik.

"Fleksibilitas harga di saat paceklik memang tidak tepat. Karena fleksibilitas itu diadopsi oleh pasar, hingga mendongkrak harga, dan pada ujungnya Bulog nggak dapat (beras) lagi," kata Khudori.

"Dan, kenaikan harga BBM di bulan September bisa menjadi salah satu trigger (kenaikan/ harga beras). Yang berdampak pada biaya produksi gabah," pungkas Khudori.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terungkap! Ini Penyebab Harga Beras Naik Terus


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading