Harga Beras Terus Terbang, Saatnya Bulog Kosongkan Gudang?

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
25 November 2022 11:45
Pekerja merapikan beras Bulog di Gudang Bulog, Divisi Regional DKI Jakarta dan Banten  yang berada di kawasan Kelapa Gading, Jakarta (19/3/2021) . Pemerintah berencana Impor beras 1 juta ton. Dirut Perum Bulog Budi Waseso pun buka - bukaan soal kondisi ratusan ribu ton beras yang belum terpakai.   (CNBC Indonesia/ Tri Susuilo) Foto: Beras Bulog (CNBC Indonesia/ Tri Susuilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Persatuan Penggilingan padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso meminta pemerintah agresif menggelontorkan beras ke pasar. Dengan begitu, kata dia, harga akan segera turun.

Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, harga beras nasional masih melanjutkan tren kenaikan.

Hari ini, Jumat (25/11/2022 pukul 11.03 WIB), harga rata-rata nasional untuk beras premium naik Rp180 jadi Rp12.890 per kg. Dan beras medium naik Rp110 jadi Rp11.250 per kg. Ini adalah harga di tingkat pedagang eceran.

Di tingkat produsen, harga beras premium di penggilingan naik Rp60 jadi Rp10.880 per kg dan beras medium penggilingan naik Rp20 jadi Rp9.560 per kg.

Dan di tingkat pedagang grosir harga beras premium naik Rp230 jadi Rp11.970, sedangkan medium naik Rp130 jadi Rop10.410 per kg.

Sementara, pada 18 November lalu, harga beras premium rata-rata nasional masih Rp12.680 per kg dan medium Rp11.120 per kg.

Menurut Sutarto, dengan agresif menggelontorkan beras ke pasar, akan langsung efektif menekan harga.

Sementara, saat ini, posisi stok beras di Bulog tidak sampai 600 ribu ton. Dengan alokasi 150-200 ribu ton per bulan untuk Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) atau operasi pasar (OP). Dengan tahun 2022 tersisa 2 bulan berjalan, artinya sisa stok Bulog setelah dikurangi KPSH adalah sekitar 300 ribu ton.

"Sebenarnya kalau kita lihat kondisi di lapangan, sebenarnya beras secara nasional cukup. Pertanyaannya, di mana? Sebagian besar ada di masyarakat dan pedagang, sebagian besar di pemerintah, dalam hal ini Bulog," kata Sutarto kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (25/11/2022).

"Sekarang yang bisa dilakukan adalah justru Bulog harus melepas stok yang sekitar 600 ribu ton itu. Supaya harga nggak naik terus," tambahnya.

Bulog, lanjut dia, seharusnya tidak melakukan pembelian beras saat ini. Karena harga memang sedang naik. Pasalnya, panen di saat ini lebih rendah dari kebutuhan sehingga pasar berebut.

"Nggak apa itu stok dilepas semua ke pasar. Pemerintah jangan beli dulu. Nanti kalau panen raya. Mudah-mudahan, sampai Januari nanti aman, dan Februari sudah ada panen besar," kata Sutarto yang juga mantan Direktur Utama Bulog.

Terkait opsi impor beras untuk mengisi stok pemerintah agar kuat melakukan intervensi pasar, Sutarto mengatakan, harus dipertimbangkan secara matang.

"Apakah tepat waktu impor sekarang? Jangan-jangan sebenarnya sudah terlambat impor karena situasi di dunia saat ini juga tak menggembirakan. Termasuk soal beras," ujarnya.

"Yang jelas, kalau pemerintah memaksa beli sekarang, harga akan terus naik. Jadi, lepas saja cadangan di Bulog supaya harga tertahan sampai nanti panen," kata Sutarto.

Usul tersebut pun disambut positif Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi.

"Saya sepakat, memang waktunya melepas stok. Karena beras ini bukan barang antik, makin disimpan makin mahal. Kita memang harus lepas stok supaya harga makin baik. Supaya sesuai perintah Presiden agar menjaga inflasi jangan terlalu jauh dari pertumbuhan ekonomi," ujar Arief.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terungkap! Ini Penyebab Harga Beras Naik Terus


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading