Layak Disimak! Begini Resesi Dunia dalam Kacamata IMF

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 July 2022 18:45
FILE - In this Feb. 14, 2020 file photo, Kristalina Georgieva, Managing Director of the International Monetary Fund, attends a session on the first day of the Munich Security Conference in Munich, Germany.   Georgieva said Friday, March 27,  it is clear that the global economy has now entered a recession that could be as bad or worse than the 2009 downturn.  She said the 189-nation lending agency was forecasting a recovery in 2021, saying it could be a “sizable rebound.” But she said this would only occur if nations succeed in containing the coronavirus and limiting the economic damage(AP Photo/Jens Meyer, File) Foto: Kristalina Georgieva, IMF (AP/Jens Meyer)

Bali, CNBC Indonesia - International Monetary Fund (IMF) memastikan dunia saat ini benar-benar mengalami guncangan yang datang dari berbagai sisi. Tidak pernah dialami sebelumnya.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menjelaskan, guncangan ekonomi yang terjadi saat ini datang dari pandemi Covid-19.

"Yang membuat ekonomi dunia terhenti dan mendorong kami ke dalam resesi, dan hal itu telah memicu respons kebijakan yang belum terjadi sebelumnya," jelas Georgieva dalam seminar bertajuk Macroeconomic Policy Mix For Stability and Economic Recovery di Bali, Jumat (14/7/2022).

Pandemi belum usai, dunia kini juga dihadapkan adanya tensi geopolitik Rusia-Ukraina, yang menciptakan guncangan selanjutkan disaat guncangan dari pandemi Covid-19 belum berakhir.

Tensi geopolitik Rusia-Ukraina berimbas terhadap melonjaknya harga-harga komoditas dunia, dan mempercepat laju inflasi, hingga mendorong bank sentral harus mengambil langkah yang cepat untuk mengendalikannya, dengan melakukan normalisasi kebijakan moneter.

Menkeu RI Sri Mulyani, Menkeu AS Janet Yellen, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Ivanova (Dok.Kemenkeu)Foto: Menkeu RI Sri Mulyani, Menkeu AS Janet Yellen, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva
(Dok.Kemenkeu)

Di tengah tren suku bunga acuan negara bank sentral yang tajam, menjadi tantangan sendiri bagi negara berkembang yang memiliki tingkat utang dalam mata uang dollar menjadi sulit untuk dibayar.

"Mereka (negara berkembang) terkena pengetatan kondisi keuangan melalui kenaikan suku bunga, tapi mereka juga terkena apresiasi dollar yang sangat cepat, mempengaruhi perekonomian dunia.[...] Jadi ini adalah situasi yang sangat berbeda," ujar Georgieva.

Respons kebijakan yang tepat, kata Georgieva adalah sinkronisasi akomodasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Dua kebijakan itu harus dalam arah yang sama dalam memitigasi dampak dari guncangan yang terjadi.

"Hari ini adalah waktu yang jauh lebih sulit bagi para pembuat kebijakan. Karena kebijakan moneter harus diperketat, tapi kebijakan fiskal harus menyengga untuk kelompok masyarakat rentan dan dunia usaha. Mereka yang terkena dampak pengetatan kebijakan moneter ini," ujarnya.

Dengan kata lain, kata Georgieva saat ini, kebijakan moneter dan fiskal masih harus berjalan beriringan, namun saling bertentangan satu sama lain.

Artinya, jika kebijakan fiskal tidak dikalibrasi dengan tepat untuk memberikan dukungan yang tepat sasaran, dan jika tidak berlabuh dalam kerangka berkelanjutan dalam jangka menengah, dan tanpa diikuti kebijakan moneter yag tepat, "Hasilnya menciptakan lebih banyak tekanan untuk pengetatan kebijakan keuangan," jelas Georgieva.

Menurut Georgieva, kebijakan makroprudensial adalah aspek fundamental yang hanya dapat diatasi dengan reformasi struktural dengan bauran kebijakan atau policy mix yang tepat.

"Jadi kami memberikan kepada pengambil kebijakan, untuk bagaimana menerapkan kebijakan moneter dan fleksibilitas nilai tukar. Bersama-sama diperlukan manajemen yang tepat dalam mengatur capital flow," ujarnya.

Selama dua tahun ini, kata Georgieva, dunia menghadapi dua guncangan sekaligus. Ditambah juga adanya risiko krisis dari perubahan iklim.

"Saat ini kita akan lebih memiliki lebih banyak kejutan yang akan datang. Saya tidak tahu kapan, saya tidak tahu caranya, saya hanya tahu mereka akan ada di sana (krisis karena perubahan iklim). Jadi kita harus memikirkan policy mix yang tepat," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waduh, 3 Negara Ini Walk-Out dari Pertemuan G20


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading