Internasional

Ekonomi Rusia di Ambang Kehancuran? Ini Proyeksi Para Ekonom

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
05 April 2022 13:00
People walk past a currency exchange office screen displaying the exchange rates of U.S. Dollar and Euro to Russian Rubles in Moscow's downtown, Russia, Monday, Feb. 28, 2022. Ordinary Russians are facing the prospect of higher prices as Western sanctions over the invasion of Ukraine sent the ruble plummeting. That's led uneasy people to line up at banks and ATMs on Monday in a country that has seen more than one currency disaster in the post-Soviet era. (AP Photo/Pavel Golovkin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Rusia diperkirakan akan menyusut tajam tahun ini dengan diikuti oleh inflasi yang meroket. Ini akibat serentetan sanksi internasional dari berbagai negara sebagai tanggapan atas serangan ke Ukraina.

Aktivitas manufaktur Rusia pada Maret mengalami kontraksi terdalam sejak Mei 2020, atau pada awal pandemi Covid-19, karena kekurangan bahan dan penundaan pengiriman yang sangat membebani pabrik.


Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) S&P Global untuk Rusia, yang terbit Jumat (1/4/2022) lalu, turun dari 48,6 pada Februari menjadi 44,1 pada Maret. Adapun, angka di bawah 50 menandakan terjadi kontraksi.

Ekonom Goldman Sachs mencatat pada Jumat bahwa penurunan itu "berbasis luas, dengan penurunan tajam dalam output, pesanan baru, dan (terutama) komponen pesanan ekspor baru."

Dalam sebuah catatan, para ekonom di Capital Economics memproyeksikan bahwa sanksi Barat kemungkinan akan mendorong produk domestik bruto (PDB) Rusia terkontraksi 12% pada 2022, sementara inflasi diperkirakan akan melebihi 23% secara tahunan.

Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan telah memproyeksikan penyusutan 10% dalam ekonomi Rusia. Ini merupakan resesi terdalam negara itu selama hampir 30 tahun, dengan PDB diproyeksi datar pada 2023 sebelum memasuki periode pertumbuhan.

Goldman Sachs juga memperkirakan PDB Rusia terkontraksi 10%, sementara lembaga riset Institute for International Finance telah memproyeksikan penurunan 15% pada 2022 dan 3% lagi pada 2023.

"Pemulihan yang lebih berkelanjutan mungkin akan membutuhkan kesepakatan damai yang masih terlihat jauh. Sementara itu, dampak dari perang akan sangat terasa di Eropa Tengah dan Timur (CEE)," kata Kepala Ekonomi Pasar Berkembang Capital Economics William Jackson dalam laporannya.

"Industri akan terkena gangguan pasokan dan inflasi yang lebih tinggi akan membebani pendapatan riil rumah tangga dan mengurangi belanja konsumen. Kami memperkirakan perang akan memangkas 1,0-1,5% poin pertumbuhan CEE tahun ini."

Meski begitu, kekhawatiran akan gagal bayar utang negara Rusia belum terwujud. Kremlin belum lama ini mengelola untuk melayani pembayaran obligasi yang diawasi ketat.

Ini terjadi meskipun ada belenggu sanksi oleh kekuatan Barat yang telah membekukan sebagian besar cadangan bank sentral senilai US$ 640 miliar dari cadangan mata uang asing.

Saham Rusia juga naik lebih tinggi sejak dibuka kembali pada 24 Maret setelah penutupan bursa Moskow selama sebulan, bersama dengan rubel.

Hanya saja, prospek untuk Rusia mungkin masih akan semakin gelap setelah munculnya tuduhan pembantaian sipil oleh pasukan Rusia di Bucha dan kota-kota Ukraina lainnya selama akhir pekan. Dugaan kekejaman Rusia akan mendorong kembali harapan untuk pembicaraan damai dan meningkatkan ancaman sanksi internasional lainnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sanksi Bakal Diperluas, AS Belum Puas Hajar Ekonomi Rusia


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading