Internasional

Omicron Minggir! 'Kiamat' Babi di Thailand, Warga Makan Buaya

News - Sef, CNBC Indonesia
26 January 2022 07:49
Seorang tpenjual daging memotong kuping babi di pasar Bangkok Selasa(7/10/1997). Biasanya tidak dikonsumsi, wajah babi digunakan selama ibadah mengikuti cerita rakyat tradisional Brahman dan Hindu yang dewa yang kuat senang dengan persembahan hewan yang baru dibunuh. (AP Photo/Charles Dharapak)

Jakarta, CNBC Indonesia - 'Kiamat' babi melanda Negeri Gajah Putih, Thailand. Negara itu kekurangan daging babi.

Harga babi masih 140 baht atau sekitar Rp 60.000 per kilogram di Desember 2021. Namun kini harganya 250 baht per Januari 2022.


Sementara itu, jumlah babi yang tersedia di pasar turun dari rata-rata 20 juta babi menjadi sekitar 15 juta babi. Bulan ini, diperkirakan hanya ada 10 juta babi yang tersedia, meski warga Thailand biasanya mengkonsumsi hingga 18 juta setiap tahun.

Menurut Direktur Jenderal Kementerian Thailand, diperlukan waktu antara 8-12 bulan untuk mengendalikan situasi. "Karena anak babi yang tersedia di sekitar harus berusia setidaknya enam bulan sebelum dapat disembelih," kata Sorravis Thaneto, dikutip dari Bangkok Post, Rabu (26/1/2022).

Sebenarnya penurunan produksi babi terjadi sejak pandemi Covid-19. Pembatasan yang dilakukan dan penguncian mempengaruhi rantai pasokan sementara minimnya wisatawan asing menurunkan minat beli.

Biaya pencegahan pandemi juga mahal. Ini disertai dengan harga pakan yang naik, padahal menyumbang 60-70% biaya produksi babi.

Di Thailand, harga kedelai dan jagung sempat mencapai 12,50 baht per kilogram tahun lalu. Belum lagi banjir parah yang menyerang banyak provinsi.

Fakta wabah penyakit lain juga jadi pendorong. Yakni demam babi Afrika (ASF).

"Wabah tersebut, bagaimanapun, telah mempengaruhi jumlah total peternakan babi dengan pemusnahan diperintahkan di daerah di mana ASF telah terdeteksi," tulis Bangkok Post lagi.

Seorang penjual daging babi (tengah)  melayani pelanggannya di tokonya di Bangkok, Thailand Sabtu (19/2/2011). (AP Photo/Apicart Weerawong)Foto: Seorang penjual daging babi (tengah) melayani pelanggannya di tokonya di Bangkok, Thailand Sabtu (19/2/2011). (AP Photo/Apicart Weerawong)
Seorang penjual daging babi (tengah) melayani pelanggannya di tokonya di Bangkok, Thailand Sabtu (19/2/2011). (AP Photo/Apicart Weerawong)

Sebelum wabah ASF, diperkirakan ada 1,1 juta babi yang diternakan di pasar. Jumlah itu telah turun menjadi sekitar 660.000 per Senin.

Warga pun kini disebut banyak beralih ke daging buaya. Peternakan yang awalnya menjual kulit buaya untuk industri fesyen kini kebanjiran permintaan daging.

"Banyak penjual makanan dan restoran datang kepada saya untuk meminta daging buaya untuk dibeli," kata salah seorang peternak Wichai Roongtaweechai dikutip dari Nikkei Asia.

Seekor buaya rata-rata menghasilkan sekitar 12 kilogram daging. Dari semuanya, bagian atas ekornya dianggap paling enak dan paling laris.

"Petani yang sudah mencobanya mengatakan daging buaya rasanya seperti daging ayam," tulis Pork Business melaporkan.

Jika dibandingkan dengan daging babi, harga daging buaya memang lebih murah. Daging buaya dijual dengan harga sekitar US$ 3 (Rp 43 ribu) per kilogram dan harga grosir terendah US$ 2 (Rp 28 ribu) per kilogram.

Sementara itu, pemerintah Thailand mengaku akan memberikan pinjaman berbunga rendah 30 miliar baht untuk petani. Thailand juga melaram ekspor daging babi hingga April.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid-19 Mah Lewat, 'Kiamat' Ini Mengancam Warga Amerika


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading