Ekspor Batu Bara RI Meroket Tapi Impor Olahannya Juga!

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
15 October 2021 15:35
Infografis/Produksi Top 3 Dunia, RI Bukan Negara Paling Kaya Batu Bara/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor sepanjang September 2021 tercatat sebesar US$ 16,23 miliar. Realisasi ini turun 2,67% dibandingkan Agustus 2021, namun naik cukup tinggi yakni 40,31% dibandingkan September 2020.

Dari jumlah impor ini, ada beberapa golongan komoditas yang mengalami kenaikan dan penurunan yang tinggi. Ini semua berasal dari beberapa negara yang menjadi mitra dagang RI.


Berdasarkan data BPS, lima komoditas yang impor utama yang naik adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 276,7 juta, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$ 110,3 juta, barang dari besi dan baja US$ 75,4 juta. Ada juga logam mulia dan perhiasan/permata US$ 64 juta serta impor pupuk US$ 63,7 juta.

"Impor yang tumbuhnya paling besar golongan bahan bakar mineral yang komoditas pendorongnya ada impor olahan batu bara. Ini berasal dari negara Australia dan Rusia," kata Kepala BPS Margo Yuwono, Jumat (15/10/2021).

Kemudian, ada juga lima barang utama yang turun impornya. Tertinggi tercatat mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya yang terkontraksi US$ 122,8 juta. Kemudian disusul oleh barang golongan ampas dan sisa industri makanan turun US$ 86 juta dan berbagai produk kimia turun US$ 69,8 juta.

Selanjutnya, barang yang turun impornya ada juga gula dan kembang gula yang terkontraksi US$ 68,3 juta serta biji dan buah mengandung minyak turun US$ 55,4 juta.

"Golongan barang yang turun paling tajam adalah mesin dan bagiannya, negaranya berasal China, Irlandia dan Korea Selatan," jelasnya.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan negara asalnya, impor paling tinggi berasal dari Ukraina dengan penambahan US$ 139,9 juta. Kemudian disusul oleh Australia yang nilai impornya bertambah US$ 87,5 juta dan Jepang bertambah US$ 78 juta.

"Untuk impor dari Ukraina meningkat paling tinggi terutama untuk komoditas serelia, besi baja, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya," ujar Margo Yuwono.

Di sisi lain, negara yang mengimpor ke Indonesia turun paling tinggi adalah China minus senilai US$ 518,2 juta. Lalu disusul oleh India turun US$ 148,8 juta dan Korea Selatan turun US$ 118,6 juta.

"Impor China turun karena penurunan permintaan komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dan berbagai produk kimia, juga buah-buahan," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading