Anak Muda Ogah Nikah, China Mustahil Jadi Superpower Dunia!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 October 2021 07:20
People walk past a large video screen outside a shopping mall showing Chinese President Xi Jinping speaking during an event to commemorate the 100th anniversary of China's Communist Party at Tiananmen Square in Beijing, Thursday, July 1, 2021. China's ruling Communist Party is marking the 100th anniversary of its founding with speeches and grand displays intended to showcase economic progress and social stability to justify its iron grip on political power. (AP Photo/Andy Wong) Foto: Orang-orang berjalan melewati layar video besar di luar pusat perbelanjaan yang memperlihatkan Presiden China Xi Jinping berbicara dalam sebuah acara untuk memperingati 100 tahun Partai Komunis China di Lapangan Tiananmen di Beijing, Kamis, 1 Juli 2021. (AP/Andy Wong)

Keenganan berkeluarga (dan memiliki anak) memiliki konsekuensi besar terhadap perekonomian China. Bisa-bisa impian Kamerad Xi menjadikan China sebagai penguasa dunia bakal sirna.

Penduduk menjadi penting dalam upaya transformasi ekonomi China. Presiden Xi ingin mengubah struktur ekonomi China dari produkif menjadi konsumtif.

Berbeda dengan Indonesia, konsumsi rumah tangga bukan penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) China. Mengutip catatan Bank Dunia, konsumsi rumah tangga 'hanya' berkontribusi sekitar 30% terhadap PDB China, sementara Indonesia lebih dari 50%.


Selama ini, penyumbang utama PDB China adalah investasi atau Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB). Kontribusi pos ini terhadap PDB mencapai lebih dari 40%.

China yang begitu jor-joran menggenjot investasi menyebabkan satu masalah pelik. Utang korporasi, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), membengkak karena terus berekspansi.

Mengutip Reuters,pada 2006 dari 1.189 perusahaan besar di China ada 845 yang memiliki rasio utang sehat. Kesehatan rasio utang diukur dari perbandingan antara utang bersih dengan laba sebelum pembayaran bunga, pajak, amortisasi dan depresiasi (EBITDA). Rasio utang bersih/EBITDA menggambarkan seberapa lama perusahaan mampu melunasi utang jika faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus).

Rasio utang bersih/EBITDA sehat biasanya berada di kisaran 0-5. Kalau di atas lima, maka sudah tidak sehat.

Pada 2006, masih banyak perusahaan yang memiliki rasio utang sehat yaitu 845 dari 1.189 atau 71,07%. Namun pada 2016, jumlahnya menyusut menjadi 557 perusaaan (48,53%).

utangSumber: Reuters

Saat utang pemerintah relatif terkendali, tidak demikian dengan utang swasta (termasuk BUMN). Pada 2020, utang swasta di China mencapai 182,43% dari PDB, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Halaman Selanjutnya --> China Mustahil Jadi Superpower Dunia

China Mustahil Jadi Superpower Dunia
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading