Populasi 'Raksasa' China

Hampir 50% Gadis-Gadis di China Ogah Menikah, Kenapa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
12 October 2021 20:53
FILE PHOTO: An 80-year-old man, surnamed Li, watches as a girl plays at a residential community in Beijing, China, October 30, 2015. REUTERS/Jason Lee/File Photo Foto: Populasi China (Reuters/Jason Lee)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah survei baru menemukan bahwa hampir setengah atau 50% dari wanita muda yang tinggal di perkotaan China tidak berencana untuk menikah

Data ini muncul menurut survei baru populasi urban muda China yang dilakukan oleh Liga Pemuda Komunis China. Survei tersebut mensurvei 2.905 pemuda yang belum menikah dan tinggal di perkotaan antara usia 18 dan 26 tahun. Rentang usia ini masuk ke dalam Gen Z.

Ditemukan bahwa 44% responden wanita tidak berniat untuk menikah, dengan 25% responden pria survei mengatakan hal yang sama.


"Mengapa Gen Z China ini tidak ingin menikah, 34,5% dari mereka yang disurvei mengatakan tidak punya waktu atau energi untuk menikah," kata laporan tersebut, menambahkan 60,8% Gen Z China yang disurvei mengatakan mereka merasa "sulit untuk menemukan orang yang tepat."

Peserta menyebutkan beberapa alasan lain untuk tidak menikah, termasuk biaya keuangan pernikahan dan beban ekonomi memiliki anak. Sepertiga responden juga mengatakan mereka tidak percaya pada pernikahan, dan persentase yang sama mengatakan mereka tidak pernah jatuh cinta.

Hasil survei ini merupakan pertanda buruk bagi China, yang tahun ini berusaha menerapkan kebijakan baru untuk meningkatkan angka kelahirannya.

Negara tersebut melaporkan penurunan 70% dalam tingkat perceraiannya pada kuartal pertama tahun 2021 setelah memberlakukan undang-undang "pendinginan", yang mengamanatkan bahwa pihak berwenang setempat harus menunggu satu bulan sebelum menyetujui perceraian pasangan.

Undang-undang tersebut diterapkan dalam upaya untuk meningkatkan tingkat kelahiran China yang lesu dengan mencegah perceraian impulsif.

Mei ini, China juga meluncurkan kebijakan tiga anak baru, mencabut larangan sebelumnya untuk memiliki lebih dari dua anak per pasangan. Pada 2016, pemerintah China sempat membalikkan kebijakan satu anak, yang diterapkan pada 1979 untuk menekan ledakan populasi negara itu.

Pergeseran penting dalam kebijakan kependudukan China tahun ini terjadi setelah laporan bahwa negara itu mencatat tingkat pertumbuhan populasi paling lambat sejak 1950-an.

Angka-angka ini terungkap dalam sensus penduduk sekali dalam satu dekade, yang mencatat bahwa tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata penduduk Cina turun menjadi 0,53% selama sepuluh tahun terakhir, turun dari 0,57% antara tahun 2000 dan 2010.

Namun, kebijakan tiga anak tidak mungkin berhasil. Banyak anak muda mengatakan Mereka tingginya biaya membesarkan anak-anak, apalagi dengan dengan gaya hidup "9-9-6" yang serba cepat.

Gaya hidup "9-9-6" di mana orang bekerja 12 jam sehari dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu. Inilah yang dapat menghalangi orang untuk memulai membina keluarga mereka sendiri.

Total populasi China masih mencapai 1,41 miliar orang. Data Reuters melaporkan bahwa mereka meleset dari target yang ditetapkan pada 2016 untuk mencapai 1,42 miliar orang pada 2020.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading