Waspada, Krisis Energi Inggris-China Bisa Berimbas ke RI!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
07 October 2021 14:15
17 provinsi dan wilayah telah terjadi beberapa bentuk pemadaman listrik. (REUTERS/TINGSHU WANG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi tengah menjadi ancaman dunia, terutama ketika kondisi ini telah melanda beberapa negara, seperti Inggris dan China. Indonesia pun dinilai perlu waspada atas kejadian krisis energi ini. Pasalnya, Indonesia merupakan negara pengimpor energi, sehingga kondisi di dunia internasional saat ini bisa berdampak ke Indonesia juga.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Migas Widhyawan Prawiraatmadja.

Dia menjelaskan bahwa krisis energi yang terjadi di beberapa negara dipicu oleh melonjaknya harga energi primer, seperti minyak, gas, dan batu bara, terutama karena meningkatnya permintaan energi saat pemulihan ekonomi terjadi.


"Pertama, 'pent-up' demand itu benar adanya, yang sebenarnya positif karena ini artinya ekonomi beranjak pulih kembali ke trayektori sebelum Covid-19," ungkap Gubernur Indonesia untuk OPECĀ 2015-2017 ini kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (07/10/2021).

Dia menjelaskan, kenaikan kebutuhan energi menjadi salah satu indikasi pemulihan perekonomian. Kebutuhan energi yang meningkat akibat pemulihan ekonomi diperbesar dengan faktor lain seperti cuaca.

"Kebetulan di Eropa, summer-nya lebih panas dari biasanya dan nanti dikhawatirkan juga winter akan lebih dingin dari biasanya," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kondisi krisis di Eropa terjadi karena suplai gas dari Rusia juga terkendala, dan inventory gas yang rendah.

"Khususnya di UK yang diakibatkan oleh underinvestment in its infrastructure. Kondisi ini diibaratkan sebagai 'perfect storm' yang memicu krisis energi di Eropa, khususnya UK yang diperparah juga oleh kondisi Brexit," lanjutnya.

Dia menjelaskan, kebutuhan gas yang melimpah menyebabkan impor Liquefied Natural Gas (LNG) juga meningkat yang sebagian berasal dari pasar Asia-Pasifik, sehingga harga LNG di pasar (JKM) menjadi sangat tinggi.

"Kondisi ini berdampak ke China, yang juga mengalami 'pent-up' demand. Di China, hal ini diperparah oleh embargo supply batu bara dari Australia, mengakibatkan harga batu bara juga meroket," jelasnya.

Dia mengatakan, dengan berbagai kondisi yang terjadi tersebut, ini bisa berdampak pada semua negara, termasuk juga Indonesia. Menurutnya ini dikarenakan Indonesia saat ini masih bergantung pada impor dalam pemenuhan energi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

"Semua kejadian di atas akan berpengaruh pada semua negara, termasuk Indonesia karena adanya ketergantungan pada impor," paparnya.

Khusus di Indonesia, krisis energi tersebut akan berdampak pada dua komoditas sektor energi yakni BBM dan LPG. Seperti diketahui, pemenuhan dua komoditas ini masih didominasi dari impor.

"Untuk kasus Indonesia, hal ini akan berpengaruh pada harga BBM dan LPG, yang biaya perolehannya menjadi sangat tinggi," ungkapnya.

Berdasarkan data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2020 yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 79,68 juta barel pada 2020, sementara impor produk BBM pada 2020 mencapai 20,87 juta kilo liter (kl).

Adapun impor BBM terbanyak yaitu untuk jenis bensin dengan nilai oktan (RON) 88 atau Premium dan RON 90 atau Pertalite sebesar 9,70 juta kl.

Sedangkan impor LPG pada 2020 tercatat mencapai 6,39 juta ton, naik 12% dari 2019 yang sebesar 5,71 juta ton.

Dari sisi harga, harga minyak dunia turun pada perdagangan pagi ini. Investor memanfaatkan kenaikan harga yang sudah lumayan tajam untuk mengeruk keuntungan.

Pada Kamis (7/10/2021) pukul 07:02 WIB, harga minyak jenis Brent berada di US$ 80,975/barel, turun 0,36% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara yang jenis light sweet harganya US$ 77,11/barel. Berkurang 0,44%.

Kemarin, harga si emas hitam ditutup melemah lumayan dalam. Harga Brent dan light sweet masing-masing anjlok 1,79% dan 1,9%.

Sepertinya aksi ambil untung (profit taking) jadi penyebab koreksi tersebut. Dalam sepekan terakhir, harga Brent dan light sweet melesat masing-masing 3,8% dan 3,17%. Selama sebulan ke belakang, kenaikannya adalah 13,07% dan 12,95%.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading