Internasional

Ramai-ramai Kota China Redupkan Lampu, Krisis Listrik?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
19 August 2022 16:55
17 provinsi dan wilayah telah terjadi beberapa bentuk pemadaman listrik. (AP/Olivia Zhang) Foto: 17 provinsi dan wilayah telah terjadi beberapa bentuk pemadaman listrik. (AP/Olivia Zhang)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa kota di China meredupkan lampu dan penerangan lainnya yang berada di luar ruangan. Hal ini dilakukan pasca terjadinya krisis listrik yang dipicu oleh suhu yang tinggi.

Mengutip AFP, suhu telah melonjak melampaui 40 derajat Celcius di provinsi Sichuan minggu ini. Ini kemudian memancing permintaan besar-besaran untuk AC meski waduk air yang digunakan sebagian besar masyarakat untuk kebutuhan listrik mengering.

Pabrik-pabrik termasuk perusahaan patungan dengan raksasa mobil Jepang Toyota di ibu kota provinsi Chengdu telah dipaksa untuk berhenti bekerja. Sementara itu jutaan orang di kota Dazhou juga bergulat dengan pemadaman listrik bergilir.


"Cuaca panas dan lembab telah menyebabkan pasokan listrik kota untuk produksi dan kehidupan sehari-hari didorong ke batasnya," kata otoritas manajemen perkotaan Chengdu dalam pemberitahuan di media sosial, Kamis (18/8/2022).

Operator kereta bawah tanah Metro Chengdu mengatakan dalam sebuah video di platform Weibo bahwa mereka juga akan mematikan lampu iklan dan mengoptimalkan suhu di stasiun untuk menghemat energi.

Foto-foto yang beredar di platform media sosial Weibo juga menunjukkan redupnya lampu di peron metro, jalan setapak, dan di mal dengan para penumpang berjalan dalam kegelapan itu.

"Panas yang membakar juga mengeringkan Sungai Yangtze yang kritis, dengan aliran air di batang utamanya sekitar 51% lebih rendah dari rata-rata selama lima tahun terakhir," outlet media pemerintah China News Service melaporkan.

China sedang berjuang melawan cuaca ekstrem di beberapa bidang. Pada Kamis, 17 orang tewas dalam banjir bandang di barat laut negara itu menyusul hujan yang sangat lebat.

Sementara itu, otoritas cuaca di provinsi Jiangsu timur memperingatkan pengemudi akan risiko kebocoran ban pada hari Jumat karena suhu permukaan beberapa jalan diperkirakan mencapai 68 derajat Celcius.

Administrasi Meteorologi China sebelumnya mengatakan negara itu akan melalui periode terlama suhu tinggi yang berkelanjutan sejak pencatatan dimulai pada tahun 1961.

Para ilmuwan mengatakan cuaca ekstrem di seluruh dunia telah menjadi lebih sering karena perubahan iklim dan bahwa kerja sama global yang mendesak diperlukan untuk memperlambat bencana yang akan datang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Susul Sri Lanka, Negara Ini pun Chaos dan Kena Krisis Energi


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading