Internasional

AS Evakuasi Warga Besar-besaran dari Afghanistan, Ada Apa?

News - sef, CNBC Indonesia
13 August 2021 06:52
Afghan militiamen join Afghan defense and security forces during a gathering in Kabul, Afghanistan, Wednesday, June 23, 2021. Taliban gains in north Afghanistan, the traditional stronghold of the country's minority ethnic groups who drove the insurgent force from power nearly 20  years ago, has driven a worried government to resurrect militias whose histories have been characterized by chaos and widespread killing. (AP Photo/Rahmat Gul)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mengirim pasukan untuk mengevakuasi warganya di Afghanistan, Jumat (13/8/2021). Hal ini terjadi ketika Taliban mengklaim sudah merebut kota terbesar kedua di negeri itu, Kandahar, dari pasukan pemerintah

Ini mengakhiri serangan delapan hari di sana. Saat ini lebih dari 10 provinsi sudah dikuasai Taliban dan hanya ibu kota Kabul saja serta sejumlah kantong-kantong kecil berada di tangan pemerintah.


Pengumuman AS ini datang beberapa jam setelah juru bicara Taliban men-tweet jatuhnya Kandahar. Klaim ini juga diperkuat dengan sumber penduduk sekitar yang mengatakan terjadi penarikan pasukan pemerintah secara massal.

"Kandahar benar-benar ditaklukkan," cuit juru bicara Taliban di akun yang diakui secara resmi.

Operasi Taliban ini semakin gencar ketika AS memutuskan untuk pergi dari negeri itu. Akhir bulan ini diperkirakan seluruh tentara AS akan meninggalkan Afghanistan.

"Kami semakin mengurangi jejak sipil kami di Kabul mengingat situasi keamanan yang berkembang," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price kepada wartawan, sambil mencatat bahwa kedutaan akan tetap buka, dikutip AFP.

Pentagon mengatakan 3.000 tentara AS akan dikerahkan ke Kabul dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Departemen Pertahanan AS itu menggarisbawahi bahwa mereka tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Taliban.

Price mengatakan AS juga akan mulai mengirim penerbangan setiap hari untuk mengevakuasi penerjemah Afghanistan dan orang lain yang membantu Amerika atau takut akan nyawa mereka karena serangan besar-besaran Taliban.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden menerima tekanan atas pilihannya tetap menarik tentara di Afghanistan. Kebijakannya disebut sembrono oleh lawan politiknya.

Bukan hanya AS, Inggris juga melakukan hal yang sama. Negeri itu menarik staf kedutaan dan warga yang ada di ibu kota Kabul.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan London akan mengirim 600 tentaranya sendiri untuk mengevakuasi warganya. "(Dan) mendukung relokasi mantan staf Afghanistan yang mempertaruhkan hidup mereka untuk melayani bersama kami," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading