Corona di Myanmar Makin Gawat, Junta Militer Minta Bantuan!

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
31 July 2021 18:15
Protesters march on main road during an anti-coup demonstration in Mandalay, Myanmar, Sunday, March 7, 2021. The escalation of violence in Myanmar as authorities crack down on protests against the Feb. 1 coup is raising pressure for more sanctions against the junta, even as countries struggle over how to best sway military leaders inured to global condemnation. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Myanmar menjadi salah satu negara yang menghadapi gelombang Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Catatan Worldometers menunjukkan sejak Juni hingga saat ini Myanmar mengalami kenaikan kasus yang signifikan.

Pada 14 Juli 2021, penambahan kasus mencapai 7.083 orang dan saat ini tren kasus baru di kisaran 5.000-6.000 kasus per hari. Saat ini total kasus di negara tersebut sebanyak 294.460 orang, dengan kasus aktif 79.841 orang, dan kematian 8.942 orang.

Penambahan kasus ini membuat pemerintah kewalahan dan meminta bantuan dunia bantuan internasional. Mengutip AFP dari media lokal setempat, pemimpin junta Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan Myanmar harus mencari bantuan dari luar negeri, salah satunya kepada dana tanggapan Covid-19 yang dibentuk ASEAN.


"Upaya sedang dilakukan untuk bekerja sama dengan ASEAN dan negara sahabat," tulis surat kabar lokal Global New Light of Myanmar dikutip Jumat (30/7/2021).

Negara yang dilanda kekacauan sejak kudeta 1 Februari itu kini memang menghadapi lonjakan kasus. Kekacauan ini membuat rumah sakit penuh dan banyak staf medis berhenti bekerja sebagai bentuk protes pengambilalihan kekuasaan sipil oleh militer. Padahal saat kudeta berlangsung, Covid-19 pun telah melanda negara tersebut.

Sementara itu perintah tinggal di rumah yang diserukan kepada masyarakat masih gagal menghentikan lonjakan. Krematorium telah di ambang batas di mana banyak pasien meninggal di rumah.

Para analis percaya sebenarnya kasus lebih banyak dari yang dilaporkan. Pasalnya Myanmar memiliki angka testing Covid-19 yang sangat rendah. Negeri Seribu Pagoda itu baru melakukan 3.116.451 tes Covid-19, di mana itu berarti hanya 56.869 per satu juta populasi. Angka ini jauh lebih rendah dibanding Indonesia yang telah melakukan 92.344 tes per satu juta populasi.

Dari segi vaksinasi, negara itu baru menyuntikkan vaksin corona kepada 1,75 juta populasi. Dalam program ini, Myanmar disokong oleh vaksin-vaksin buatan China seperti Sinopharm.

Lonjakan kasus ini membuat tetangga Myanmar khawatir. China yang terletak di utara negara itu sempat mengunci kota perbatasan Ruili, setelah otoritas kesehatan menemukan tiga kasus Covid-19 di kota itu. Infeksi itu diduga ditularkan oleh warga Myanmar yang masuk.

Myanmar mendapat sokongan vaksin Covid-19 dari China. Sejumlah dosis Sinopharm telah disumbangkan Beijing pekan lalu dari total 4 juta dosis yang dipesan Junta. "Beijing akan menyumbang dua juta lagi," tulis media itu merujuk ucapan junta.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading