Biden Sebut DKI Terancam Tenggelam, Ini Daerah Paling Rawan!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
30 July 2021 18:57
Suasana taman Waduk Pluit Jakarta Utara, Senin 28/9. Pantauan CNBC Indonesia belasan pasukan orange turun menyapu taman. Sebelumnya diberitakan di Detikcom, kondisi Waduk Pluit tampak memprihatinkan Sampah-sampah berserakan dan sejumlah fasilitas di kawasan itu tampak rusak dan tak terawat. Dulu waduk Pluit sempat berubah imagenya dari kawasan kumuh menjadi taman yang menarik di Kawasan Jakarta Utara. Sekarang karena adanya peraturan PSBB yang dilakukan ketat di Jakarta membuat waduk Pluit seperti tak terawat dan sudah rusak. Pohon-pohon kering banyak berserakan di tanah. Aktifitas pengerukan lumpur juga terlihat untuk mengantisipasi banjir.   (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Jo Biden tiba-tiba membuat heboh masyarakat Indonesia. Kali ini karena pidatonya di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, 27 Juli lalu, yang menyinggung Jakarta.

Dalam pidatonya itu, dia menyebut DKI Jakarta terancam tenggelam dalam kurun 10 tahun ke depan. Biden menyebut ini menjadi ancaman bagi Indonesia sebagai dampak dari perubahan iklim.

Lantas, seberapa mengkhawatirkan ramalan Joe Biden tersebut? Daerah mana di DKI Jakarta yang paling rentan dari ancaman tenggelam ini?


Menanggapi hal ini, Isnu Hajar Sulistyawan, Kepala Balai Konservasi Air Tanah, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, tidak semua wilayah di DKI Jakarta terancam bakal tenggelam.

Menurutnya, wilayah DKI Jakarta yang kondisinya tidak ideal dan paling rentan dari ancaman tenggelam itu berada di Jakarta Utara (Jakut). Dia mengatakan, terjadinya perubahan garis pantai dan masuknya air laut ke darat memang benar karena faktor perubahan iklim.

"Ada penurunan muka tanah di wilayah Jakarta, tidak merata di semua wilayah Jakarta. Badan Geologi pantau penurunan muka tanah setiap tahun," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/07/2021).

Dia menyebut, daerah yang penurunan muka tanahnya paling cepat adalah Pluit, penurunan mencapai 8,6 cm per tahun. Sementara di Jakarta Selatan (Jaksel) menurutnya ada juga daerah yang turut mengalami penurunan muka tanah, tapi tidak secepat di Jakarta Utara.

Dia mengatakan, terdapat sumur pantau untuk melihat penurunan muka tanah di daerah Banjir Kanal Timur (BKT). Sumur tersebut memiliki kedalaman 300 meter sejak 1997, penurunan rata-ratanya 1,64 cm per tahun, tapi dalam 10 tahun terakhir dia sebut penurunannya melandai.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan permukaan tanah, di antaranya yaitu dampak dari alam seperti proses tektonik. Kedua, proses yang berkaitan dengan kompaksi batuan wilayah utara endapannya belum padu, masih mengalami pemadatan, berbeda dengan daerah selatan.

"Ketiga adalah proses pembebanan bangunan, misalnya ada beberapa bangunan di Kota Tua sudah turun 90 cm sejak dibangunnya gedung sejak tahun 60-an. Kemudian menara bahari Ancol nampak miring karena sebagian terbebani, maka sebagian mengalami pemadatan," jelasnya.

Faktor selanjutnya adalah penggunaan air tanah yang berlebihan. Mengenai hal ini, menurutnya pemerintah sudah mulai melakukan pengendalian pemakaian air tanah.

Sebelumnya, dalam pidatonya, Joe Biden mengatakan, "Departemen Pertahanan mengatakan apa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika: perubahan iklim," sebagaimana dipublikasikan whitehouse.gov, dikutip Jumat (30/7/2021).

Perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan laut. Ribuan orang bisa kehilangan tempat tinggal, mata pencarian dan kehidupan.

"Jika, pada kenyataannya, permukaan laut naik dua setengah kaki lagi, Anda akan memiliki jutaan orang yang bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur ...," ujarnya.

"... Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?" tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading