Ekonomi Tumbuh 8%, RI Bakal Balik Kayak Sebelum Pandemi Nih?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
10 June 2021 10:55
Sabar Ibukota Masih Berbenah, Jangan Pucet Lihat Jakarta Macet. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah optimistis ekonomi RI pada kuartal II-2021 bisa mencapai 8%. Sejumlah ekonom meragukan proyeksi pemerintah tersebut.

Saat berbincang dengan CNBC Indonesia, mereka juga mengungkapkan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh positif pada Kuartal II belum bisa menjadi jaminan, ekonomi akan pulih seperti sebelum pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, target yang dipasang pemerintah untuk ekonomi Kuartal II-2021 tersebut kemungkinan dengan melihat data penjualan, karena konsumsi masyarakat meningkat tajam menjelang Ramadhan.


Kendati demikian, saat ini aktivitas konsumsi akan turun lagi, mengingat angka kasus harian Covid-19 yang meningkat lagi. Pemerintah melaporkan perkembangan terbaru kasus positif Covid-19 terdapat penambahan baru sebanyak 7.725 pada Rabu (9/6/2021), sehingga sejak Maret sudah ada 1.877.050 kasus Covid-19 di tanah air.

"Kalau positif saya yakin positif, karena secara nominal, PDB kita di kuartal kemarin (Kuartal I-2021) sudah lebih tinggi dari kuartal II-2020. Tinggal selisih modality-nya itu paling rendah 3,6," jelas Tauhid kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (10/6/2021).

"Tinggal peningkatannya seberapa jauh, dua kali lipat bahkan sampai 8%, kok terlalu tinggi ya. Dengan melihat bahwa pemulihannya masih terbatas karena Covid-19 dan vaksin masih menjadi problem," kata Tauhid melanjutkan.

Oleh karena itu, Tauhid memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II-2021 akan mencapai 5% sampai 6% dan dinilai akan sulit untuk bisa tumbuh lebih dari itu.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet juga memiliki pandangan yang sama. Pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi bisa tinggi mencapai 8%, karena basis dasar perhitungan di tahun lalu sangat rendah, sehingga secara statistik hal tersebut untuk terjadi.

Yusuf memandang pertumbuhan ekonomi RI pada Kuartal II-2021 hanya akan tumbuh pada kisaran 4%, dan meskipun sudah masuk dalam zona positif, hal tersebut tidak bisa langsung diartikan ekonomi bisa kembali seperti sebelum pandemi.

"Kondisi ini belum bisa diartikan bahwa kondisi ini menunjukkan ekonomi RI telah kembali seperti sebelum pandemi," tutur Yusuf.

Hal tersebut terlihat dari data pengurangan tingkat pengangguran pada Februari 2021, dibandingkan dengan data Agustus 2020. Namun, sebenarnya jika dibandingkan Februari 2020, tingkat pengangguran masih relatif tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran pada bulan Februari 2021 sebanyak 8,75 juta orang. Bila dibandingkan dengan Februari 2020 yang sebanyak 6,93 juta, jumlah ini meningkat 1,82 juta orang.

Sementara itu, jumlah pekerja informal, kata Yusuf juga masih relatif banyak pada Februari 2021 dibandingkan Februari 2020. Mengingat kondisi upah untuk pekerja informal umumnya tidak sebaik pekerja di sektor formal.

Pada Februari 2021, menurut data BPS sebanyak 78,14 juta orang atau setara 59,62% atau naik 2,98% poin jika dibandingkan Februari 2020.

"Upah ada kaitannya dengan kemampuan daya beli dan kemampuan daya beli berkaitan dengan tingkat konsumsi masyarakat. Dengan kondisi tersebut, kami proyeksi konsumsi rumah tinggi belum akan setinggi proyeksi pemerintah," jelas Yusuf.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira. "Pertumbuhan 8% hanya di kuartal ke II saja nampaknya over shoot, kalau bisa tercapai itu cuma temporer. Motor pertumbuhan ekonomi pasca lebaran khususnya di kuartal ke III dan seterusnya kehabisan amunisi," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading