Internasional

Ini 'Bom Waktu' yang Disebut Deutsche Bank Bakal Picu Krisis

News - Tirta, CNBC Indonesia
08 June 2021 13:20
A woman walks past a Deutsche Bank office in London, Britain July 8, 2019. REUTERS/Simon Dawson

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom Deutsche Bank (DB) memberikan ramalan yang mengkhawatirkan soal inflasi. Menurut riset para ekonom di bank investasi tersebut kenaikan inflasi layaknya bom waktu yang bisa memicu krisis. 

Proyeksi DB memang berbeda dengan konsensus. Baik bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves (The Fed) maupun bank investasi Wall Street lainnya mempercayai bahwa peningkatan inflasi hanya akan terjadi secara temporer. 


Para pemangku kebijakan meyakini bahwa inflasi akan mengalami normalisasi ke level yang diinginkan setelah beberapa stimulus dicabut dan masalah disrupsi rantai pasok global dapat diatasi. 

Krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang menjelma menjadi resesi ekonomi bukanlah krisis seperti yang sudah-sudah yang diakibatkan oleh inovasi keuangan dan penyaluran kredit yang ugal-ugalan.  

Saat wabah melanda, banyak negara memilih mengerem laju perputaran roda ekonominya dengan lockdown. Meskipun skalanya berbeda-beda, tetapi dampak yang ditimbulkan sama yaitu penurunan pendapatan masyarakat maupun korporasi. Alhasil tingkat pengangguran baik di negara maju dan negara berkembang melonjak. 

Daya beli yang menurun membuat inflasi mengalami penurunan. Bahkan dunia sempat dilanda deflasi ketika harga berbagai komoditas anjlok signifikan akibat pembatasan mobilitas publik yang serempak. 

Konsumsi masyarakat dan investasi di sektor usaha tak bisa diharapkan untuk menyelamatkan perekonomian apalagi kredit. Karena, bank cenderung ambil aman.

Toh permintaan untuk konsumsi dan ekspansi juga minim. Kini yang tersisa adalah pembuat kebijakan yaitu bank sentral dan otoritas fiskal.

Keduanya sepakat untuk mengambil peran ekstra guna menyelamatkan perekonomian. Bank sentral pangkas suku bunga, membeli aset keuangan hingga turut berpartisipasi dalam program pembiayaan pemerintah. 

Sementara itu otoritas fiskal juga menempuh kebijakan countercyclical untuk mengerem agar aggregate demand tak jatuh lebih dalam. Tak bisa dipungkiri koordinasi keduanya membuat ekonomi berangsur pulih. Pengembangan vaksin yang super kilat juga mendukung optimisme pemulihan ekonomi global. 

Kalau dilihat secara seksama, upaya bank sentral untuk meningkatkan pasokan uang beredar di sistem ekonomi juga masuk ke sektor riil. Karena didukung dengan stimulus dari pemerintah yang memberikan relaksasi pajak hingga bantuan langsung tunai (BLT) untuk masyarakat. 

Lewat program pelonggaran kuantitatif (QE) The Fed sudah memompa likuiditas ke sistem keuangan lebih dari 30% output perekonomian AS. Pemerintahnya juga memberikan stimulus hingga 26% dari total PDB. 

Langkah ini tidak hanya dilakukan di AS dan negara maju saja tetapi juga negara-negara berkembang. Kini mobilitas sudah membaik terutama di AS dan Eropa. Uang tak lagi mengendap di akun deposito perbankan. Masyarakat sudah berbelanja. 

Peningkatan likuiditas yang dibarengi dengan naiknya laju perpindahan uang (money velocity) mendorong terjadinya reflasi. April lalu tingkat inflasi di AS mencapai 4,2% (yoy), tertinggi dalam satu dekade terakhir. 

Apabila bank sentral tidak segera mengambil tindakan maka perekonomian AS akan overheat. Sebagai negara dengan size ekonomi terbesar di dunia maka dampaknya juga akan dirasakan oleh negara-negara lain. 

Namun stance bank sentral masih belum berubah. Untuk sementara waktu mereka dituntut untuk bisa mengambil kebijakan akomodatif yang pro growth & pro stability. Ini yang sulit karena pertumbuhan tidak selalu dibarengi dengan stabilitas. 

Menariknya, jika stabilitas tidak dijaga maka prospek pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan juga terancam. Ketika inflasi mulai merangkak naik, ekonomi masih belum pulih benar ke level pra pandemi. Tingkat pengangguran di AS masih tinggi. 

The Fed dan bank sentral lain juga menghadapi dilema. Pengetatan yang terlalu dini akan menimbulkan shock tetapi jika dibiarkan inflasi bisa liar karena selain dipengaruhi oleh interaksi permintaan dan pasokan, inflasi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis para pelaku ekonomi.

Ekspektasi inflasi yang tinggi juga menjadi pemicu utama devaluasi nilai tukar dan naiknya harga barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Perdebatan sengit di antara para ekonom soal perlunya khawatir akan inflasi masih terus berlanjut. 

Bagi yang kontra program QE The Fed dan bank sentral lain secara historis tidak berdampak pada peningkatan inflasi. Peningkatan inflasi juga disebabkan oleh fenomena low base effect

Namun bagi yang risau akan inflasi mereka beranggapan bahwa kondisi saat ini berbeda karena likuiditas yang berlimpah masuk ke sektor riil apalagi dengan adanya tensi geopolitik tinggi membuat rantai pasok global menjadi terdisrupsi. 

Halaman 2>>

Begini Dampak Inflasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading