Wah! Ramalan Ngeri Deutsche Bank Bisa Bikin Emas Makin Jaya

Market - Tirta, CNBC Indonesia
08 June 2021 09:45
FILE PHOTO: A statue is pictured next to the logo of Germany's Deutsche Bank in Frankfurt, Germany, September 30, 2016. REUTERS/Kai Pfaffenbach/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas mencoba kembali menjajal level US$ 1.900/troy ons. Untuk saat ini harga si logam kuning kemungkinan akan terkonsolidasi terlebih dahulu. 

Di pasar spot harga emas dunia melemah tipis 0,06% ke US$ 1.897,81/troy ons pada perdagangan pagi waktu Asia hari ini, Selasa (8/6/2021). Harga emas sempat ambles ke US$ 1.870 tetapi kembali bergerak naik. 


Melansir Kitco News, para pengelola dana (hedge fund) masih terus melanjutkan spekulasi bullish-nya terhadap prospek harga emas. Namun menurut Commodity Futures Trading Commission (CFTC) momentumnya terus melambat. 

Data CFTC menunjukkan dalam periode sepekan yang berakhir hingga 1 Juni para pengelola dana meningkatkan posisi spekulasi beli (long) kontrak di pasar emas berjangka Comex sebanyak 3.408 menjadi total 147.270 gross long position

Di saat yang sama posisi short yang diambil oleh big money juga meningkat 690 kontrak menjadi 37.297 kontrak. Secara sederhana para spekulan masih memasang posisi beli bersih (net long) pada kontrak emas sebanyak 109.973 atau naik 2,5% dibanding minggu sebelumnya. 

Kekhawatiran akan inflasi masih jadi pemicu utama naiknya harga emas. Belum lama ini Deutsche Bank memberikan ramalan yang mengerikan soal inflasi. Menurutnya inflasi yang diakibatkan oleh sejumlah kebijakan dan stimulus hanya akan memicu krisis di masa depan. 

Ramalan ini berbeda dengan The Fed (bank sentral AS) dan bank investasi lain yang memperkirakan peningkatan inflasi hanya akan bersifat temporer. Perdebatan sengit apakah inflasi hanya bersifat temporer atau persisten terus berlanjut di kalangan pelaku pasar dan analis.

Bagaimana pun juga inflasi yang tinggi dan susah dikendalikan hanya akan menguntungkan emas sebagai salah satu aset untuk lindung nilai (hedging) yang dianggap aman para investor.

Saat pandemi Covid-19 melanda, bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) menempuh kebijakan moneter longgar salah satunya dengan pelonggaran kuantitatif (QE) selain melalui penurunan suku bunga acuan untuk menginjeksi likuiditas di sistem perbankan.

Upaya serupa juga ditempuh pada tahun 2008 silam saat krisis keuangan global akibat goyangnya sektor properti di AS. Namun kala itu kebijakan QE tak berdampak signifikan pada inflasi karena kondisinya dengan sekarang berbeda.

QE kali ini dipandang bakal meningkatkan inflasi karena juga dibarengi dengan kebijakan fiskal ekspansif serta disrupsi rantai pasok global. Inflasi yang tinggi adalah kondisi yang menguntungkan untuk emas.

Ketika inflasi terjadi maka nilai mata uang terutama dolar AS akan terdevaluasi. Harga barang dan jasa meningkat dan kekayaan pelaku ekonomi tergerus. Emas yang suplainya cenderung konsisten diminati sebagai aset untuk lindung nilai terhadap inflasi sehingga harganya merangkak naik.

Namun inflasi yang tinggi secara persisten tak akan dibiarkan oleh The Fed. Bank sentral paling digdaya di muka bumi itu akan mengambil tindakan agar perekonomian terbesar di dunia tak overheat. Salah satunya adalah dengan menyedot ekses likuiditas yang sudah dipompa lewat mekanisme yang disebut tapering.

Tapering mengindikasikan bahwa The Fed akan mengatur laju pembelian aset-aset keuangan. Namun catatannya adalah perekonomian harus terus menunjukkan perbaikan sehingga The Fed bisa mengguyur pasar dengan obligasi pemerintah serta efek beragun aset (EBA) KPR yang sudah dibeli.

Saat itulah dolar AS akan kembali menguat dan emas bakal melemah. Namun pertanyaannya adalah sebelum tapering dilakukan apakah emas bakal tembus kembali ke level all time high-nya di US$ 2.000?

Jalan emas menuju ke sana memang masih terbuka. Namun setidaknya harga emas masih harus menguji level resisten terdekat di US$ 1.900/troy ons. Apabila level ini kembali ditembus dan harga emas konsisten naik sehingga rata-rata harga 50 harian (MA50) menembus rata-rata harga 200 harian (MA200) maka besar peluang emas ke US$ 2.000 lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading