Pengusaha Listrik Swasta Minta RI Tak Musnahkan PLTU

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
07 June 2021 15:20
PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) bersama dengan pemerintah mempunyai rencana untuk mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara mulai 2025 mendatang, demi mengurangi emisi dan menuju netral karbon pada 2060.

Menanggapi rencana ini, pengusaha listrik swasta meminta agar Indonesia tidak memusnahkan semua PLTU. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang.

Dia mengatakan, PLTU memiliki beberapa kelebihan, salah satunya di sisi harga. Harga listrik dari PLTU relatif lebih murah dibandingkan harga listrik dari sumber energi lainnya. Selain itu, dari sisi keandalan, selama ini PLTU batu bara menjadi penopang beban dasar (base load) dan belum bisa digantikan oleh basis energi lainnya.


"Di satu sisi dilematis, tapi menurut saya ini sebenarnya bisa dilakukan kajian yang sifatnya saling complement (melengkapi) satu sama lain. Jadi bukan berarti musnahkan total pembangkit batu bara, tapi complement dengan pembangkit berbasis lain," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia belum lama ini.

Dia menegaskan, untuk meningkatkan ekonomi, butuh keandalan suplai listrik. Permintaan energi ke depan diperkirakan akan terus meningkat, terutama saat industri manufaktur semakin berkembang seperti munculnya sentra-sentra industri seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan juga rencana pemanfaatan kendaraan listrik.

Semuanya, imbuhnya, membutuhkan suplai energi listrik yang tidak kecil, sehingga butuh keandalan suplai listrik.

"Menurut saya, mungkin jadi bagian kajian ke depan adalah bagaimana kecilkan porsi ini (PLTU) dengan naikkan porsi EBT, tapi nggak hilangkan (PLTU) sama sekali," tuturnya.

Meski demikian, menurutnya pelaku usaha bidang listrik tetap mendukung rencana PLN dan pemerintah untuk pensiunkan PLTU, sejalan dengan transisi energi listrik ke energi baru terbarukan yang digalakkan pemerintah.

Namun, dia mengatakan, porsi pembangkit berbasis energi fosil tetap dibutuhkan untuk mendukung peningkatan keandalan suplai listrik.

"Jadi, menurut saya ini sesuatu yang memang sudah pantas sudah waktunya melihat porsi EBT, namun harus dilakukan dengan gradual dan harus dilakukan secara matang," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bagaimana Nasib Aset PLTU yang Dipensiunkan? Ini Kata ESDM


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading