RI Siap Pensiunkan PLTU Batu Bara, Ini Alasan & Tahapannya!

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
30 May 2021 14:17
PLTU Paiton Diserbu Ubur-Ubur, PLN Ambil Langkah Strategis Amankan Pasokan Listrik. Dok PLN

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menargetkan menggunakan pembangkit listrik yang menggunakan energi bersih pada 2060 dan tidak ada lagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru pada periode 2021-2030.

Target ini pun sesuai dengan titah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengharamkan usulan pembangunan PLTU baru dan tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2021-2030.

Akan tetapi, untuk rencana pembangunan PLTU yang sudah terlanjur memasuki tahap kepastian pendanaan (financial closing) atau proses konstruksi masih tetap bisa dilanjutkan. Setelah itu, pembangunan pembangkit listrik akan difokuskan untuk energi baru terbarukan (EBT).


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan energi fosil saat ini menjadi musuh bersama dunia.

Merespons hal ini, pemerintah Indonesia menurutnya juga berencana akan mempensiunkan PLTU batu bara yang ada saat ini dan menggantinya dengan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan.

"Sekarang ini fossil energy jadi musuh bersama [dunia]. Bertahap, pemerintah juga mau pensiunkan power plant batu bara," ujarnya dalam acara 'Indonesia Investment Forum 2021' secara virtual belum lama ini.

Dia mengatakan banyaknya negara meninggalkan proyek PLTU ini juga ditandai dengan banyaknya lembaga keuangan dunia atau perbankan yang tidak lagi mau mendanai pembangunan berbasis energi fosil.

"Kenapa itu terjadi? Karena pemanasan global sekarang membuat bumi makin panas. Jadi kalau naik saja sampai 1,5 derajat, itu akan punya dampak yang tidak bagus," jelasnya.

Lebih lanjut Luhut mengatakan, dengan pensiunnya PLTU, maka pemerintah bakal membuka kesempatan bagi investor untuk berinvestasi di bidang EBT. Investasi di sektor ini pun digadang-gadang menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memulihkan perekonomian nasional.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, mengatakan arahan Presiden Jokowi terkait pensiunnya PLTU tersebut terlontar dalam Rapat Terbatas 11 Mei 2021 lalu.

Untuk mengikuti arahan tersebut, maka di dalam RUPTL tahun 2021-2030 yang tengah disusun saat ini, usulan pembangunan PLTU baru akan ditiadakan.

"Kalaupun ada proyek-proyek di RUPTL, itu berarti meneruskan yang sudah terlanjur ada, dan berstatus konstruksi dan minimal financial close," papar Rida belum lama ini.

Menurutnya, porsi pembangkit EBT pada RUPTL 2021-2030 juga akan meningkat dibandingkan dengan RUPTL 2019-2028. Di dalam RUPTL 2019-2028 yang saat ini berlaku, porsi pembangkit EBT sebesar 30% dan pembangkit fosil 70%.

Porsi ini menurutnya akan diubah menjadi 48% pembangkit EBT dan 52% pembangkit fosil dalam RUPTL 2021-2030 yang tengah disusun.

"Sekarang susun RUPTL yang lebih hijau dengan porsi pembangkit 48% EBT dan 52% fosil. Besok porsi EBT jadi lebih besar dengan bangga dan rendah hati RUPTL ini lebih hijau, pro lingkungan," jelasnya.

Sampai dengan 2025 mendatang pemerintah memiliki target bauran EBT sebesar 23%. Di sektor kelistrikan menurutnya ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengejar target tersebut.

Pertama, mendahulukan pembangkit EBT yang paling murah sehingga tidak terlalu berpengaruh pada Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Kedua, mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Teknologi makin mature, berkembang maka akan manfaatkan lebih masif dengan memanfaatkan luas permukaan air," tuturnya.

Ketiga, PLTU Cofiring didorong dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Keempat, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dievaluasi agar target mulai beroperasi (Commercial Operation Date/COD) lebih realistis.

"Program dedieselisasi dengan pembangkit EBT pembangkit yang tersebar di pelosok nusantara, 5.200 unit ada 2 Giga Watt kecil-kecil memang tapi ini dampak ke BPP, kita konversi ke pembangkit EBT," ungkapnya.

Rida mengatakan RUPTL 2021-2030 masih berproses dan akan segera dirampungkan. Berdasarkan draf RUPTL 2021-2030 yang dia paparkan, sampai dengan tahun 2027 masih akan ada penambahan kapasitas PLTU sebesar 13.565 MW. Pada tahun 2021 penambahan kapasitas pembangkit dari PLTU sebesar 4.688 mega watt (MW).

"Intinya RUPTL ini masih berproses, masih diskusi dan beberapa banyak sudah disepakati," kata Rida.

Namun, mulai 2022 tambahan kapasitas PLTU yang akan beroperasi diperkirakan akan semakin menurun. Pada 2022 diperkirakan listrik dari PLTU bertambah sebesar 2.438 MW. Kemudian, tahun 2023 kembali turun menjadi 1.714 MW.

Lalu, pada 2024 penambahan kapasitas PLTU hanya sebesar 550 MW. Selanjutnya, pada 2025 penambahan kapasitas dari PLTU melonjak menjadi 1.891 MW, lalu di tahun berikutnya 2026 kembali turun menjadi sebesar 1.660 MW, dan terakhir pada 2027 penambahan kapasitas pembangkit dari PLTU sebesar 624 MW.



NEXT: PLTU Batu Bara Siap Pensiun

Tanggapan PLN soal Pensiunnya PLTU
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading