RI Masih 'Kebanjiran' Listrik PLTU Hingga 2027, Ini Buktinya

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
28 May 2021 14:25
PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di dalam draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2021-2030, pemerintah tidak akan menerima usulan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara baru.

Namun demikian, untuk PLTU yang sudah terlanjur masuk tahap kepastian pendanaan (financial closing) atau proses konstruksi, pembangunan PLTU masih akan tetap dilanjutkan. Alhasil, masih akan ada penambahan kapasitas PLTU baru yang dijadwalkan mulai beroperasi hingga 2027.

Selama 2021-2030 diperkirakan ada tambahan 13.585 MW PLTU akan mulai beroperasi. Setidaknya sampai 2027 mencapai 13.565 MW PLTU akan beroperasi, lalu pada 2029 ada tambahan lagi sekitar 20 MW.


Rida Mulyana, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (28/05/2021) mengatakan bahwa RUPTL 2021-2030 masih berproses dan akan segera dirampungkan.

"Intinya RUPTL ini masih berproses, masih diskusi dan beberapa banyak sudah disepakati," kata Rida.

Berdasarkan draf RUPTL 2021-2030 yang dia paparkan, sampai dengan tahun 2027 masih akan ada penambahan kapasitas PLTU sebesar 13.565 MW. Pada tahun 2021 penambahan kapasitas pembangkit dari PLTU sebesar 4.688 mega watt (MW).

Namun, mulai 2022 tambahan kapasitas PLTU yang akan beroperasi diperkirakan akan semakin menurun. Pada 2022 diperkirakan listrik dari PLTU bertambah sebesar 2.438 MW. Kemudian, tahun 2023 kembali turun menjadi 1.714 MW.

Lalu, pada 2024 penambahan kapasitas PLTU hanya sebesar 550 MW. Selanjutnya, pada 2025 penambahan kapasitas dari PLTU melonjak menjadi 1.891 MW, lalu di tahun berikutnya 2026 kembali turun menjadi sebesar 1.660 MW, dan terakhir pada 2027 penambahan kapasitas pembangkit dari PLTU sebesar 624 MW.

Rida mengatakan, dalam menyelesaikan RUPTL 2021-2030 masih membutuhkan arahan dari pimpinan, dalam hal ini Menteri ESDM Arifin Tasrif. Ditargetkan sampai dengan 2030 akan ada total penambahan pembangkit listrik sekitar 41 giga watt (GW), termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas/ Gas Uap/ Mesin Gas (PLTG/GU/MG), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), dan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan lainnya.

"Kita targetkan dalam 10 tahun ke depan, termasuk 2021 ini, ada 41 ribu MW tambahan pembangkit," jelasnya.

Menurutnya, penambahan kapasitas pembangkit ini telah disesuaikan dengan permintaan ke depan. Pihaknya berupaya agar RUPTL ini bisa sesegera mungkin dirampungkan.

"Insya Allah segera rampung, buat patokan investor karena pada masa pandemi mengemuka, pentingnya investasi semua sektor termasuk kelistrikan," tegasnya.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, hingga PT PLN (Persero) berencana meniadakan usulan pembangunan proyek PLTU baru di dalam RUPTL 2021-2030 dan menghentikan operasional PLTU yang ada saat ini, dimulai pada 2025.

PLN akan mulai menggantikan PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dengan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 1,1 Giga Watt (GW) pada 2025 mendatang.

Selanjutnya, PLN menargetkan akan mempensiunkan PLTU Subcritical tahap I dengan kapasitas mencapai 1 GW pada 2030. Hingga 2056 PLTU Ultra Supercritical pun akan dihentikan secara bertahap.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading