Produsen Listrik Beberkan Kondisi Terkini Pasokan Batu Bara untuk PLTU
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) buka suara mengenai kondisi terkini suplai batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara. pada intinya, pada tahun ini ada pengurangan suplai dari para badan usaha pertambangan.
Ferry Dwi Nugraha, Wakil Ketua Komite Primary Energy Value Chain APLSI menyampaikan, bahwa sempat terjadi penurunan suplai batu bara dari supplier lantaran belum jelas produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Kalau dua bulan lalu ada disruption, tapi mulai normal karena ada penugasan ke beberapa produsen batu bara," terang Ferry dalam Mining Forum CNBC Indonesia, "Apa Kabar Industri Tambang RI?", Jumat (6/3/2026).
Jika suplai batu bara terus tersendat, Ferry menilai, dampaknya kemungkinan PLTU akan mengalami shutdown dengan mematikan setengah dari kapasitas yang ada. Bahkan, yang terburuk, pemadalam listrik.
"Masih jauh mungkin, PLN memperhitungkan dulu baru pemadaman. Kalau batu bara kan 1.200 kalorinya. Mungkin bisa bakar minyak tapi gak terlalu lama (listriknya)," terang Ferry.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik PT PLN (Persero) tetap aman hingga April 2026.
Menurut dia, pemerintah saat ini terus memantau kebutuhan batu bara domestik sembari melakukan penataan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
"Saya pastikan sampai Maret-April itu no issue. Karena kita mengikuti terus perkembangan kebutuhan batubara terhadap PLN. Dengan tetap memperhatikan kualitas dan harga yang ekonomis. Ini yang sekarang kita lagi tata," kata Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, dikutip Rabu (4/3/2026).
Sebagaimana diketahui, Bahlil menegaskan komitmennya untuk memangkas produksi batu bara pada 2026. Hal ini dilakukan guna menjaga keseimbangan pasar.
Menurut Bahlil, Indonesia sendiri menyuplai sekitar 500-550 juta ton batu bara atau 43% dari total volume perdagangan dunia yang mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Kondisi inilah yang menjadi biang kerok jatuhnya harga batu bara.
"Suplainya besar, demand-nya sedikit, maka harganya jadi murah. Kita harus memaknai bahwa pengelolaan sumber daya alam kita, ini barang milik negara dan negara ini dikelola harus dengan hati-hati," kata Bahlil.
Ia pun menekankan bahwa batu bara adalah milik negara yang harus dikelola secara berkelanjutan. Adapun, penataan melalui RKAB difokuskan untuk memastikan kebutuhan nasional terpenuhi terlebih dahulu.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]