Cerita Gadis 10 Tahun Selamat dari Serangan Bom Israel

News - yun, CNBC Indonesia
17 May 2021 20:52
A Israeli soldier takes cover as an Iron Dome air defense system launches to intercept a rocket from the Gaza Strip, in Ashkelon, southern Israel, Tuesday, May 11, 2021. (AP Photo/Ariel Schalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nadeen Abdullatif, seorang gadis berusia 10 tahun di Palestina selamat dari pengeboman di kamp Al Shanti di Gaza. Dirinya memberikan penjelasan tentang serangan Israel tersebut.

"Soalnya, saya tidak benar-benar tidur nyenyak di malam hari akhir-akhir ini. Saya mendengar rudal dan rudal yang menghancurkan rumah ini sangat keras sehingga jendela kamar saya hampir pecah," kata Abdullatif melansir aa, Senin (17/5/2021).

"Kami tidak memiliki apa-apa, kami tidak memiliki senjata atau rudal. Kami tidak memiliki apa pun untuk melindungi diri kami sendiri. Kami hanya memiliki kekuatan Tuhan bersama kami," katanya lagi.


Korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza pada hari Minggu bertambah menjadi 197. Termasuk diantaranya 58 anak-anak dan 34 wanita, demikian menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Adapun jumlah korban luka mencapai 1.235 orang. Sementara puluhan bangunan hancur dan rusak.

Ketegangan baru-baru ini yang dimulai di Yerusalem Timur pada bulan suci Ramadhan menyebar ke Gaza setelah kelompok perlawanan Palestina di sana bersumpah untuk membalas serangan Israel di Masjid Al-Aqsa dan Sheikh Jarrah.

Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, selama perang Arab-Israel 1967. Israel menjajah seluruh kota pada tahun 1980 dalam sebuah tindakan yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Sebelumnya, data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, jumlah korban tewas di wilayah dengan dua juta penduduk itu kini mencapai hampir 200 jiwa. Pada Senin, Reuters melaporkan, 197 warga meregang nyawa akibat serangan yang terjadi, sebanyak 58 di antaranya adalah anak-anak dan 34 wanita.

Hal ini membuat suara internasional semakin lantang meminta agar serangan-serangan ini diakhiri. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres merespons konflik dengan merujuk "hal yang mengerikan".

"Putaran terakhir kekerasan ini hanya melanggengkan siklus kematian, kehancuran dan keputusasaan, dan mendorong jauh harapan untuk hidup berdampingan dan perdamaian," kata Guterres dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB dikutip dari CNBC International.


[Gambas:Video CNBC]

(yun/yun)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading