Internasional

SOS! India Hotspot Corona Asia, Nambah 1,5 Juta Kasus 5 Hari

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
27 April 2021 07:04
Kondisi Rumah Sakit di India (Tangkapan Layar Youtube CNBC Television)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang Covid-19 di India makin mengkhawatirkan. Dengan limpahan pasien yang terus berdatangan ke fasilitas kesehatan, para tenaga kesehatan saat ini sangat kewalahan dan meminta bantuan suplai oksigen untuk menyelamatkan pasiennya.

Bagaimana tidak, Associated Press melaporkan India kembali memecahkan rekor penambahan infeksi Covid harian pada Senin (26/4/2021), sebanyak 352 ribu kasus. Angka ini membuat negara dengan ibu kota New Delhi itu mendapatkan 1,5 juta kasus hanya dalam jangka waktu lima hari saja.


Ini juga membuat total warga yang telah terinfeksi corona menjadi 17 juta orang. Angka kematian juga mencetak rekor, bertambah 2.812 pasien meninggal dan menjadikan total kematian kini 195.123.

"Tolong kirim oksigen ke kami," ucap Dr. Gautam Singh, ujar seorang dokter Covid-19 di India.

"Pasien saya sekarat."

Lockdown pun terus terjadi di beberapa wilayah. New Delhi memperpanjang penguncian di tengah banyaknya fasilitas kremasi yang kewalahan membakar jenazah.

Negara bagian Maharashtra juga memperpanjang penguncian hingga 1 Mei. Wilayah itu merupakan rumah bagi industri perfilman India di Mumbai.

Terbaru, kota Bengaluru, di negara bagian Karnataka juga memulai lockdown Selasa (27/4/2021). Tidak ada yang boleh keluar rumah, kecuali penting, hingga 14 hari ke depan.

"Hati saya hancur untuk semua teman dan keluarga saya di Delhi dan India yang mengalami neraka ini," kata Vipin Narang, seorang profesor ilmu politik di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, di Twitter.

Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Universitas Duke, Krishna Udayakumar, mengaku khawatir melihat negeri itu. Ia mengatakan tidak mungkin bagi negara tersebut untuk segera pulih dalam beberapa hari mendatang karena keadaan.

"Situasi di India tragis dan kemungkinan akan menjadi lebih buruk selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan," katanya.

"Upaya global bersama untuk membantu India pada saat krisis ini sangat dibutuhkan."

Sementara kasus terus naik, India yang awalnya pusat produksi corona kini mulai kekurangan pasokan vaksin. Maharashtra sudah menyetop vaksinasi sejak Minggu.

Antrean panjang lebih dari 1.000 orang juga terjadi di negara bagian Satara. Sebelumnya vaksinasi sempat dijeda dua hari karena persoalan pasokan.

Permintaan vaksin telah melampaui pasokan karena kampanye inokulasi meluas bulan ini. Sementara perusahaan berjuang untuk meningkatkan produksi, sebagian karena kekurangan bahan baku dan kebakaran di fasilitas yang membuat dosis AstraZeneca.

Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menyatakan bahwa negaranya sedang mengalami badai infeksi Covid-19. Ia mengakui bahwa India saat ini masih mencoba untuk berjuang melawan penyebaran dan mengobati pasien.

"Kami yakin, semangat kami naik setelah berhasil mengatasi gelombang pertama, tetapi badai ini telah mengguncang bangsa," kata Modi dalam sebuah pidato yang disiarkan di radio.

Pemerintah India secara keseluruhan dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang menyerang negara itu. Bahkan beberapa pihak meminta agar Modi untuk mundur.

Permintaan ini dilandasi oleh sikap PM 70 tahun itu yang terlihat tidak peduli dengan penyebaran Covid-19. Dalam sebuah momen, Modi terlihat tidak mengenakan masker pada rapat umum kampanye partainya BJP.

Selain itu, Modi juga dianggap gagal dalam mengatasi mobilitas publik pada acara tradisi Kumbh Mela di sungai Gangga. Di saat pandemi yang masih meluas di negara itu, tradisi ini masih tetap saja terjadi dengan mengumpulkan kerumunan sebanyak 5 juta orang.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading