Bukan Cuma Waralaba, Operator Bus Berdarah-Darah Bertumbangan

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
19 April 2021 15:30
Bus Antar Kota Antar Propinsi di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (1/4/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor yang mulai kolaps tak hanya sektor ritel sampai waralaba, juga Operator bus termasuk yang terkena dampak parah pandemi covid-19 sehingga banyak yang kondisi keuangan 'berdarah-darah' dan kolaps. Bagi yang masih bertahan, hanya mengandalkan pendapatan jelang larangan mudik mulai 6 Mei 2021 nanti.

Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, mengatakan akan terjadi kenaikan volume penumpang menjelang hari penyetopan karena minat masyarakat untuk pulang kampung masih besar.

"Melihat kondisi yang terjadi akan ada kenaikan volume penumpang menjelang penyetopan. Tapi pagi ini dimonitor sistem belum ada ledakan signifikan, tapi ada pertumbuhan reservasi," kata Kurnia kepada CNBC Indonesia, Senin (19/4/2021).


Ia memprediksi permintaan mulai ramai pada akhir April menjelang awal Mei 2021, tepatnya ditanggal 30 April -5 Mei yang menjadi puncak tertinggi arus penumpang.

Kurnia menuturkan arus penumpang selama bulan puasa kali ini sangat landai, load factor turun mencapai 40%.  Penyebabnya karena permintaan yang turun selama pandemi dan larangan kegiatan  warga antara lain PPKM Mikro.

Kondisi pelik ini membuat angkutan penumpang bus 'berdarah-darah' untuk bertahan. Bahkan sudah ada beberapa bus dari operator yang disita oleh perbankan karena tidak sanggup lagi membayar cicilan kredit.

"Cek aja di asosiasi pembiayaan sudah banyak bus yang ditarik unitnya, banyak dilelang. Terutama operator pariwisata sudah menjelang kolaps. AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) juga sudah mulai 1-2 bermasalah di pembiayaan. Kita butuh bantuan pemerintah," jelas Kurnia.

Terpisah, Ketua Organda Adrianto Djokosoetono, mengatakan imbas larangan mudik memang merugikan, yang seharusnya menjadi angin segar bagi operator angkutan darat untuk bertahan. Tapi dua minggu pelarangan itu berpotensi tidak ada income yang masuk untuk operator.

"Angkutan darat salah satu yang terdampak, dan memang belum kembali normal sebelum pandemi. Paling parah angkutan charter pariwisata mendekati nol pendapatanya. AKAP juga ada yang dibawah 10%," kata Adrianto kepada CNBC Indonesia, (19/4/2021).

Dia menjelaskan angkutan pariwisata belum beroperasi, menuju kebangkrutan. Sementara angkutan kota termasuk taksi juga hanya 50% yang beroperasi.

Banyak Kolaps

Adanya pelarangan mudik, banyak pengusaha yang terpaksa gulung tikar, bahkan sudah harus menyerahkan unit kendaraannya kepada perusahaan pembiayaan atau leasing. Masalahnya tentu karena sudah tidak sanggup lagi membayar cicilan.

"Hari ini, terutama operator tidak dalam trayek atau pariwisata sudah ada beberapa yang sudah menjelang kolaps.Di Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI, sudah banyak yang ditarik unitnya, sudah ada di lelang," Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan kepada CNBC Indonesia, Senin (19/4/21).

Ketika perusahaan bus sudah tidak sanggup lagi membayar kewajibannya pada unit, maka penarikan kendaraan sudah tidak bisa terhindarkan.

"AKAP (antarkota antarprovinsi) juga satu-dua sudah mulai bermasalah sama pembiayaan, eker-ekeran, ini situasi makin nggak nyaman," kata Adnan.

Ia meminta Pemerintah bisa dengan cepat menanganinya, mulai dari penanganan pada karyawan hingga bisnis perusahaan secara keseluruhan. Sabtu lalu sudah ada diskusi dengan Kementerian Perekonomian serta pihak Kementerian Perhubungan.

"Ini sedang didiskusikan apa yang bisa Pemerintah lakukan untuk kami. Pertama BLT karyawan, ini sudah masukan data, secara bisnis perusahaan lagi dipikirkan polanya. Ada beberapa pola supaya saya dan lain pihak jangan sampai berdampak negatif," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cerita Bos Lorena Mati-Matian Tak PHK Karyawan


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading