Bisnis Bus di Ambang Bangkrut, Pengusaha: Kami Sakit Parah!

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
21 May 2021 19:42
Terminal Bus Kalideres. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis angkutan darat sudah sudah mulai ambruk mulai dari awal pandemi, saat ini sudah banyak di ambang bangkrut. Adanya larangan beroperasi pada saat momen mudik lebaran kemarin malah semakin memperparah keadaan perusahaan bus.

Ketua Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan menjelaskan perusahaan angkutan darat saat ini sudah banyak yang ambruk. Omzet dari angkutan darat sudah turun 70%-80%, sementara angkutan logistik juga turun sampai 50%.

"Sudah sakit parah kita, bukan flu atau demam lagi," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (21/5/2021).


Untuk membayar gaji yang karyawan sudah sangat sulit, karena pendapatan sudah sangat minim. Saat ini sudah banyak perusahaan angkutan bus yang membayarkan gaji karyawan dengan menjual aset terlebih dahulu.

"Sudah terpaksa jual aset dulu untuk bayar karyawan, sudah sakit namanya kalo gitu. Ini perlu perhatian pemerintah," jelasnya.

Soal PHK, perusahaan angkutan darat sudah banyak yang melakukan PHK, tapi belum ada data pastinya. Shafruhan menjelaskan karyawan yang ada saat ini di perusahaan angkutan darat hanya yang menduduki posisi kunci, yang dipertahankan. Beda dengan pengemudi atau kernet yang biasanya tercatat sebagai mitra bukan karyawan inti perusahaan angkutan darat.

Perusahaan bus swasta yang kecil sudah banyak juga yang tutup. Menurut Shafruhan dengan fenomena penjualan aset ini tinggal menunggu hitungan bulan kapan perusahaan angkutan darat yang besar juga akan bertahan.

Ia mengharapkan pemerintah bisa memberikan insentif atau subsidi langsung kepada angkutan darat. Menurut Shafruhan paling tidak pembebasan pajak, melihat anggaran APBN pemerintah yang saat ini terbatas untuk penanganan Covid - 19.

Seperti pembebasan pajak PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), atau biaya retribusi perizinan, biaya KIR. Dia bercerita hal ini juga sudah disampaikan kepada Kementerian Terkait.

"Saat ini operasional saja tidak ada gimana juga mau bayar pajak. Misal satu jurusan biasanya ada 30-40 armada sekarang yang beroperasi cuma lima, paling yang diurus pajaknya hanya 5 itu aja," katanya. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cerita Bos Lorena Mati-Matian Tak PHK Karyawan


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading