Internasional

Kontras! Warga Israel Bebas Lepas Masker, di India Kian Parah

News - tahir saleh, CNBC Indonesia
19 April 2021 07:45
Israeli model May Tager, left, covers herself with an Israeli flag next to Anastasia Bandarenka, a Dubai-based model who covers herself in a UAE flag on the set of a photo shoot in Dubai, United Arab Emirates, Sunday, Sept. 8, 2020. (AP Photo/Kamran Jebreili)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Israel ramai-ramai turun ke jalan tanpa masker demi merayakan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang sudah dilakukan kepada setengah penduduk negara Yahudi itu. Aksi pada Minggu (18/4) dilakukan untuk menandai tonggak bersejarah setelah negara tersebut berhasil memvaksinasi setengah warga negaranya.

"Ini sangat aneh [tanpa masker] tapi sangat menyenangkan," kata Eliana Gamulka, 26 tahun, setelah turun dari bus di dekat bulevar perbelanjaan Yerusalem yang sibuk di Jalan Jaffa dan melepas masker, dilansir Times of Israel, Senin (19/4/2021).

"Kamu tidak bisa berpura-pura tidak mengenal siapa pun lagi," katanya sambil tersenyum.


Israel juga menjadi salah satu negara dengan proses vaksinasi tercepat di dunia. Kementerian Kesehatan mengumumkan pada Kamis lalu bahwa masker tidak lagi diperlukan di ruang terbuka umum.

Bagi Gamulka, seorang manajer proyek, kabar baik datang pada waktu yang tepat: hanya dua minggu sebelum pernikahannya.

"Sangat menyenangkan merayakannya dengan semua orang, sekarang tanpa masker," katanya.

"Foto-fotonya akan bagus! Saya sangat lega. Kita bisa mulai hidup kembali. "

Vaksinasi terhadap hampir 5 juta orang telah mengurangi beban kasus virus corona di Israel dari sekitar 10.000 infeksi baru per hari pada pertengahan Januari lalu, menjadi sekitar 200 kasus per hari.

Dengan vaksinasi massal itu memungkinkan pembukaan kembali sekolah secara fisik, bar, restoran, dan pertemuan dalam ruangan - meskipun masker masih diperlukan di ruang publik dalam ruangan.

Bahkan sebelum pengumuman Menteri Kesehatan Israel Yuli Edelstein diberlakukan, penumpang di bar populer di pasar Mahane Yehuda Yerusalem tidak mengenakan masker dan mereka serempat tersenyum pada Kamis malam.

Namun pada Minggu, pekerja kantor Ester Malka mengatakan dia belum siap untuk menurunkan kewaspadaannya dengan membuka masker.

"Kami diizinkan, tapi saya masih takut, saya sudah terbiasa [memakai masker]," katanya.

"Saya merasa itu adalah bagian dari hidup saya. Kita akan lihat apa yang terjadi jika semua orang melepasnya. Jika berjalan lancar selama beberapa bulan, maka saya akan melepas masker milik saya. "

Israel beberapa bulan lalu memiliki tingkat infeksi tertinggi di dunia, wabah virus corona yang menyebabkan 6.300 orang meninggal di antara 836.000 kasus.

Tetapi negara Yahudi mampu menurunkan beban kasus virus corona setelah mencapai kesepakatan untuk stok besar suntikan vaksin Pfizer-BioNTech.

Sejak Desember, sekitar 53% dari 9,3 juta orang Israel telah menerima kedua dosis vaksin tersebut, termasuk sekitar empat perlima populasi berusia di atas 20 tahun.

"Tidak ada iklan yang lebih baik untuk Pfizer," kata Shalom Yatzkan, seorang programmer komputer yang berada di karantina setelah tertular virus.

"Saya sakit selama tiga hari, leher saya sakit dan merasa lemah," katanya saat berjalan melalui pusat Yerusalem. "Saya hanya berharap varian baru ini tidak mengikuti kami."

Situasi di Israel sangat kontras dengan kondisi di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diblokade Israel, di mana tingkat infeksi tetap tinggi dan vaksinasi rendah.

Kelompok hak asasi manusia di sana telah mendesak Israel untuk memasok vaksin kepada 4,8 juta warga Palestina yang tinggal di sana, tetapi Israel menegaskan itu menjadi tanggungjawab Otoritas Palestina.

Namun, Israel telah memvaksinasi lebih dari 105.000 pekerja Palestina yang memiliki izin untuk bekerja di Israel dan permukiman.

Di Yerusalem, Gamulka menikmati kesenangan sederhana dari kebebasan yang baru ditemukan.

"Senang rasanya tidak ada sesuatu di wajahmu lagi," katanya.

India

Berbeda dengan Israel, krisis Covid-19 di India semakin parah sehingga Kementerian Kesehatan India memutuskan mengosongkan lebih banyak tempat tidur di rumah sakit pemerintah.

Dilansir AFP, otoritas menyatakan, tempat tidur ini akan digunakan untuk menampung pasien Covid-19. Tak hanya itu, banyak negara-negara bagian meminta tambahan pasokan oksigen dan obat-obatan perawatan.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, negara berpenduduk 1,3 miliar itu mencapai rekor tertinggi 261.500 kasus baru pada hari Minggu (18/4). Setiap pengetesan menunjukkan satu positif dari enam orang yang menjalani pengujian Covid-19.

India adalah negara dengan jumlah infeksi kedua terbesar di dunia dengan hampir 14,8 juta kasus.

Demi menyediakan fasilitas yang memadai dengan tingginya jumlah kasus, rumah sakit yang biasanya disediakan untuk karyawan kementerian atau perusahaan sektor publik harus mengubah beberapa bangsal mereka menjadi fasilitas Covid-19.

Fasilitas itu akan yang dilengkapi dengan ICU dan tempat tidur yang didukung oksigen, ventilator, laboratorium, dan staf perawatan kesehatan.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading