Putin Murka! 10 Diplomat AS 'Diusir' dari Rusia

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
17 April 2021 10:20
Russian President Vladimir Putin attends a cabinet meeting at the Novo-Ogaryovo residence outside Moscow, Russia, Tuesday, Aug. 11, 2020. Putin says that a coronavirus vaccine developed in the country has been registered for use and one of his daughters has already been inoculated. Speaking at a government meeting Tuesday, Aug. 11, 2020, Putin said that the vaccine has proven efficient during tests, offering a lasting immunity from the coronavirus. (Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Rusia mengusir 10 diplomat Amerika Serikat (AS) dan memitan untuk meninggalkan negara beruang merah itu, Jumat (16/4/2021). Ini sebagai pembalasan atas pengusiran diplomat Rusia dengan jumlah yang sama oleh pemerintahan Presiden Joe Biden tepat sehari sebelumnya.

Langkah-langkah tersebut, telah disetujui oleh Presiden Vladimir Putin, sebagai respons atas sanksi yang sebelumnya dilakukan AS terhadap Rusia, termasuk pembatasan utang negara.

Ini merupakan balasan cepat dari Moskow dan merugikan kepentingan AS seperti mengecilkan jejak diplomatiknya, tapi pintu dialog tetap terbuka. Pemerintahan Putin berjanji tidak akan mematikan gagasan yang diusulkan Biden tentang pertemuan puncak keduanya.


"Sekarang adalah waktunya bagi AS untuk menunjukkan akal sehat mereka, jika tidak, serangkaian keputusan yang lebih menyakitkan dari kami (Rusia) akan diterapkan," ujar Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters, Sabtu (17/4/2021).

Dikatakan juga pihak Rusia tengah menyiapkan opsi potensi sanksi yang lebih menyakitkan kepada bisnis dan ekonomi AS di Rusia, menyusutkan korps diplomatiknya di Rusia menjadi hanya 300 orang, tetapi masih ditahan sementara untuk saat ini.

Hubungan Rusia-AS semakin merosot ke level terendah setelah perang dingin bulan lalu usai Biden membenarkan Putin merupakan 'pembunuh'. Imbasnya, Moskow langsung memanggil pulang duta besarnya untuk Washington guna konsultasi. Duta besar tersebut masih belum kembali hampir sebulan kemudian.

Kementerian luar negeri Rusia mengatakan John Sullivan, duta besar AS untuk Rusia, juga harus pulang.

Washington mengatakan sanksi itu sendiri adalah balasan atas campur tangan Rusia dalam Pilpres AS tahun 2020, peretasan dunia maya, penindasan terhadap Ukraina, dan dugaan tindakan jahat lainnya.

Rusia membantah semua tuduhan AS kata seorang perwakilan Departemen Luar Negeri melalui email.

"Bukan kepentingan kami untuk masuk ke siklus eskalasi, tetapi kami berhak untuk menanggapi setiap pembalasan Rusia terhadap Amerika Serikat," kata dia.

Tanggapan Moskow sebagian besar bersifat balas dendam. Mereka mengusir 10 diplomat AS dan melarang 8 pejabat tinggi AS untuk memasuki negara tersebut atas tuduhan kontribusi mereka terhadap 'kursus anti-Rusia'.

Mereka yang dilarang termasuk Direktur FBI Christopher Wray, Direktur Intelijen Nasional Avril Haines, Jaksa Agung AS Merrick Garland, dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas.

Selain itu ada juga Direktur Biro Penjara Federal Michael Carvajal, Direktur Dewan Kebijakan Domestik Susan Rice, John Bolton, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, dan mantan kepala CIA Robert James Woolsey.

Rusia membantah semua tuduhan AS
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading