Tahun Ini Harga Sembako Aman, Awas Tahun Depan 'Terbang'!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
24 February 2021 12:50
Suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibu Kota berdampak pada aktivitas di pasar Jaya salah satunya, di kawasan Pasar Cijantung, Jakarta Timur. 16/6/20, CNBC Indonesia/Tri Susilo

Pantauan CNBC Indonesia dilapangan pada Selasa (16/6/20) mencoba menelusuri seluruh isi pasar, tampak sepi  pembeli.  Salah satu pasar di kawasan Jakarta Timur itu sangat berbeda dibanding hari-hari biasanya yang padat dan ramai. Kali ini tampak sepi. Bahkan kendaraan yang terparkir sangat minim.  

Salah satu pedagang pakaian anak mengatakan, kondisi pasar mulai sepi saat terjadi virus corona. “Ini sangat berimbas pada pendapatan kami. Repot kalau begini terus,”ujarnya.

Menurutnya,  setelah lewat pukul 11.00 WIB, siang hari, sudah sangat kurang orang yang berbelanja di pasar. Dagangan pun tentu aja banyak yang tak laku. Karena itu ia berharap wabah COVID-19  ini bisa cepat selesai.

Yanto, pedagang daging ayam juga merasakan demikian. “ Jam 10 masih numpuk dagangan ini. kami sangat khawatir pak kalau begini terus.,”ujarnya sambal geleng geleng kepala.

Pedagang sayur pun demikian. Munawar seorang  tukang sayur mengatakan, untuk mendapatkan sayur juga sulit. “Kita dapat juga sulit. Jualnya juga sudah sepi pembeli. Aturan jaga jarak dan tidak berpergian ke pasar sangat berdampak. “Jadi kalau enggak laku ya udah jadi risiko,” ungkapnya.  

Penjagaan juga diperketat oleh anggota TNI dan securty pasar untuk, setiap pengunjung yang ingin masuk ke pasar akan dicek suhu dan cuci tangan. 

Untuk kepasar basah (pasar ikan) dipastikan pengunjung memakai masker, peraturan tersebut sudah pasang sebelum masuk pasar basar.

Sebelumnya Seorang pedagang di Pasar Obor Cijantung dinyatakan positif Covid-19 usai jalani rapid test dan swab test Covid-19 pada Jumat (29/5/2020) lalu.

Informasi itu berdasarkan data dari Perumda Pasar Jaya pada Kamis (11/6/2020).

Adapun rapid test dan swab test di Pasar Obor Cijantung pada 29 Mei 2020 lalu diikuti 75 peserta yang terdiri dari pengunjung dan pedagang pasar.

Hasilnya, empat orang reaktif Covid-19 berdasarkan hasil rapid test. Kemudian, dari empat orang itu, seorang pedagang dinyatakan positif Covid-19.

 (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pangan dunia bergerak naik, menyebabkan risiko tekanan inflasi. Sekarang mungkin belum terasa, tetapi kala ekonomi sudah bangkit lihat saja...

Pada Januari 2021, indeks harga pangan keluaran Organisasi Pangan Dunia (FAO) berada di 113,26. Ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2014.


Seluruh kelompok pangan membukukan kenaikan. Skor tertinggi diperoleh minyak hewani dan nabati yaitu 138,79.

Di dalam negeri, harga sejumlah pangan pun bergerak ke utara. Mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, harga cabai rawit merah melonjak 20,99% dalam sebulan terakhir. Sementara harga daging ayam ras naik 1,17%, bawang putih ukuran sedang naik 4,09%, dan daging sapi kualitas 2 naik tipis 0,17%.

Tekanan inflasi domestik dari harga pangan mulai terkerek naik. Mengikuti indeks harga pangan FAO, Indeks Harga Konsumen (IHK) komponen harga yang bergejolak pun terangkat. Lajunya melebihi komponen inti dan harga yang diatur pemerintah.

Meski ada tren kenaikan harga, tetapi dunia usaha tidak bisa semena-mena mengatrol harga di tingkat konsumen. Sebab, permintaan masih sangat lemah. Menaikkan harga, apalagi kalau terlalu tinggi, tentu akan menjadi bumerang. Barang menjadi tidak laku karena daya beli rakyat lemah.

Kelesuan permintaan domestik terlihat dari laju inflasi inti yang terus melambat. Inflasi inti berisi barang dan jasa yang harganya persisten, susah naik-turun. Jadi kalau harga yang susah bergerak saja sampai turun, maka artinya dunia usaha tidak punya pilihan selain menurunkan harga untuk mengikuti lemahnya permintaan.

Halaman Selanjutnya --> Kapan Harga Sembako Naik?

Kapan Harga Sembako Naik?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading