Internasional

Ngeri, Ada Tentara 'Pembantai Etnis' Rohingya di Demo Myanmar

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
16 February 2021 10:57
Demo tolak kudeta Myanmar. (AP/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Myanmar makin keras ke para pendemo anti kudeta. Bahkan, militer disebut menurunkan tank-tank lapis baja dan menambah personil tentara untuk menjaga kota-kota besar, yang menjadi kantong-kantong demo.

Dari laporan Reuters, tentara khusus yakni Light Infantry Division (Divisi Infanteri Cahaya) juga diterjunkan untuk menghalau pendemo di kota terbesar dan mantan ibukota Yangon. Pasukan ke-77 ini mulai digerakkan sejak Minggu (14/2/2021).


Divisi ini merupakan infanteri militer mobile yang pernah bertugas di beberapa wilayah konflik etnis di negara itu. Light Infantry Division dianggap bertanggung jawab dalam eksekusi massal etnis muslim Rohingya di Rakhine tahun 2017.

A large image that has an X mark on the face of Commander in chief Senior Gen. Min Aung Hlaing, also chairman of the State Administrative Council, lies on a road as anti-coup protesters gather outside the Hledan Centre in Yangon, Myanmar, Sunday, Feb. 14, 2021. Daily mass street demonstrations in Myanmar are on their second week, with neither protesters nor the military government they seek to unseat showing any signs of backing down from confrontations. (AP Photo)Foto: AP/
A large image that has an X mark on the face of Commander in chief Senior Gen. Min Aung Hlaing, also chairman of the State Administrative Council, lies on a road as anti-coup protesters gather outside the Hledan Centre in Yangon, Myanmar, Sunday, Feb. 14, 2021. Daily mass street demonstrations in Myanmar are on their second week, with neither protesters nor the military government they seek to unseat showing any signs of backing down from confrontations. (AP Photo)

Dalam aksi itu, satuan itu bertugas untuk memindahkan etnis Rohingnya ke dalam truk untuk selanjutnya dibawa ke tempat eksekusi. Selain itu, divisi ini juga terkenal kerap bertindak brutal pada demonstrasi yang terjadi di masa lalu.

Mobilisasi militer ini membuat pelapor khusus PBB Tom Andrews angkat bicara. Ia memperingatkan para jenderal Myanmar soal tindak kekerasan yang bisa terjadi ke warga sipil.

"Ada pertanggungjawaban atas setiap penindasan yang dilakukan," tulis AFP mengutip Andrews, dilansir Selasa (16/2/2021).

"Seolah-olah para jenderal telah menyatakan perang terhadap rakyat."

Sementara itu, Reuters juga melaporkan jumlah pendemo mengalai penurunan seiring dengan gencarnya aktivitas militer. Sejak kudeta berlangsung 1 Februari, demo sudah berlangsung berturut-turut selama 12 hari.

"Kami tidak dapat mengikuti protes setiap hari," kata seorang petugas perjalanan yang diberhentikan di Yangon yang menolak disebutkan namanya. "Tapi kami tidak akan mundur."

"Ini adalah pertarungan untuk masa depan kita, masa depan negara kita," kata aktivis pemuda Esther Ze Naw pada sebuah protes. "Kami tidak ingin hidup di bawah kediktatoran militer. Kami ingin membangun persatuan federal yang nyata di mana semua warga negara, semua etnis diperlakukan sama."

Sebelumnya, aparat keamanan diketahui sudah mulai melakukan tindakan yang keras terhadap para demonstran. Dalam minggu ini yang baru berlangsung dua hari, polisi di ibu kota Naypyitaw menahan sekitar 20 pengunjuk rasa mahasiswa, salah satunya memosting foto mereka yang berteriak saat mereka dibawa pergi dengan bus polisi

Minggu lalu seorang wanita terkena tembakan polisi di Naypyitaw dan saat ini masih kritis. Ia diketahui tertembak.

Suu Kyi ditahan sejak kudeta 1 Februari . Ia diperkirakan akan menghadapi pengadilan sehubungan dengan tuduhan mengimpor enam radio walkie-talkie secara ilegal.

Hal ini membuat kemarahan warga yang diikuti aksi demonstrasi dan pemogokan. Suu Kyi disebut akan menjalani persidangan pertama 17 Februari.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading