Internasional

China Komentari Massa Trump yang Serbu Capitol Hill AS

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
07 January 2021 15:42
Trump supporters gather outside the Capitol, Wednesday, Jan. 6, 2021, in Washington. As Congress prepares to affirm President-elect Joe Biden's victory, thousands of people have gathered to show their support for President Donald Trump and his claims of election fraud. (AP Photo/John Minchillo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Unjuk rasa menolak penetapan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden rupanya berlangsung ricuh. Massa pendukung Donald Trump yang berkumpul di Washington DC itu mencoba merangsek masuk ke gedung parlemen AS, Capitol Hill.

Melihat peristiwa itu, China mengejek dan membandingkan kekacauan itu dengan protes anti-pemerintah Hong Kong pada 2019.


Pada Kamis (7/1/2021) pagi, tabloid media pemerintah Global Times men-tweet perbandingan foto dari pengunjuk rasa Hong Kong yang menduduki Kompleks Dewan Legislatif kota pada Juli 2019 dengan kerusuhan pendukung Trump di Washington pada Rabu (6/1/2021).

"@SpeakerPelosi pernah menyebut kerusuhan Hong Kong sebagai 'pemandangan yang indah untuk dilihat'," cuit media tersebut merujuk pada komentar Ketua DPR AS Nancy Pelosi pada Juni 2019 tentang demonstrasi massa pro-demokrasi Hong Kong, yang kebanyakan damai pada saat itu.

"Masih belum terlihat apakah dia akan mengatakan hal yang sama tentang perkembangan terakhir di Capitol Hill."

Sementara Liga Pemuda Komunis China juga menggambarkan kerusuhan itu sebagai "pemandangan indah" di platform Weibo, situs media sosial yang mirip Twitter.

Tagar "Pendukung Trump menyerbu Capitol AS" dipasang di Weibo, mengumpulkan 230 juta tampilan, karena pengguna membandingkan dukungan global untuk pengunjuk rasa Hong Kong dengan curahan kecaman terhadap massa pro-Trump.

Di sisi lain, meski taktiknya serupa, ada perbedaan mencolok dalam penyebab dan motivasi dari kedua perselisihan legislatif tersebut.

Pengunjuk rasa Hong Kong masuk ke badan legislatif mereka untuk menuntut demokrasi penuh dan menghentikan rancangan undang-undang (RUU) yang tidak populer yang didorong oleh kepemimpinan kota yang tidak terpilih.

Kota semi-otonom di China bukanlah negara demokrasi, penyebab protes populer selama bertahun-tahun. China sejak itu menanggapi dengan tindakan keras, memberlakukan undang-undang keamanan yang keras di kota yang gelisah itu, menangkap sejumlah kritikus dan membekap perbedaan pendapat.

Sebaliknya, mereka yang menyerbu Capitol AS mencoba membatalkan hasil dari apa yang telah dinyatakan sebagai pemilihan presiden yang bebas dan adil. Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan para perusuh AS merusak demokrasi dengan mencoba membalikkan kekalahan Trump dalam pemilihan November.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading