Bak Mantan, Luka di 2020 Terlalu Dalam! 2021 Bisa Sembuh?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
28 December 2020 13:37
Prancis tidak menutup kemungkinan memberlakukan lockdown nasional ketiga jika angka kasus covid-19 terus meningkat. (AP/Bob Edme)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membawa luka yang sangat dalam. Luka yang belum akan sembuh tahun depan.

Well, 2020 memang sangat berat. Wajar kalau begitu banyak orang berharap 2020 segera berakhir. Tahun 2020 sangat pas digambarkan dengan petikan lirik The Scientist yang dipopulerkan grup band asal Inggris, Coldplay:

"Nobody said it was easy. But no one ever said it would be this hard..."


Tidak ada yang menyangka virus corona yang tidak kasat mata bisa membuat 'huru-hara' sebegini rupa. Berawal di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, kini virus corona telah menyebar ke lebih dari 200 negara dan teritori.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 25 Desember 2020 adalah 78.194.947 orang. Bertambah 655.041 orang (0,84%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir, rata-rata pasien baru bertambah 644.914 orang per hari. Naik tajam dibandingkan 14 hari sebelumnya yakni 599.695 orang setiap harinya.

Pandemi virus corona adalah tragedi kesehatan dan kemanusiaan yang mungkin adalah yang terbesar dalam seabad ini. Kali terakhir umat manusia berhadapan dengan penyakit menular dalam skala besar adalah saat pandemi flu Spanyol yang mewabah pada awal 1900-an.

Namun krisis kesehatan dan kemanusiaan ini dengan sangat cepat bertransformasi menjadi krisis sosial-ekonomi. Sebab, berbagai negara mengedepankan kebijakan pembatasan sosial (social distancing) untuk meredam laju penyebaran virus. Kontak dan interaksi antar-manusia dibatasi, dibuat berjarak, tidak boleh ada kerumunan dalam bentuk apapun. Jargon #dirumahaja atau #stayathome menjadi tema utama tahun ini.

Aktivitas dan mobilitas miliaran warga dunia menjadi terbatas. Ini sama saja dengan menghentikan roda perekonomian. Ekonomi dunia mampet, 'mati suri'. Hasilnya, ekonomi dunia masuk ke jurang resesi untuk kali pertama sejak krisis keuangan 2009.

Kewajiban untuk mematuhi social distancing telah membuat ekonomi dunia terpukul di dua sisi sekaligus, pasokan dan permintaan. Pasokan terhambat karena dunia usaha wajib mematuhi social distancing, kapasitas produksi masih jauh di bawah normal. Sementara permintaan terpukul karena kalau #dirumahaja memang bisa apa? Tidak bisa nge-mal, nonton bioskop, karaoke, ngopi-ngopi cantik, dan sebagainya.

Kapasitas produksi yang di bawah normal dan permintaan yang anjlok membuat dunia usaha pusing tujuh keliling. Biaya jalan terus, sementara pemasukan berkurang drastis bahkan ada yang hilang sama sekali.

Akibatnya, mau tidak mau harus ada penyesuaian. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun jadi pilihan. Angka pengangguran dan kemiskinan yang berhasil ditekan dalam satu dekade terakhir kembali melonjak. Kerja keras bertahun-tahun hilang dalam hitungan bulan.

Apakah 2021 Membawa Harapan?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading