Nah Loh! Ahok Sebut Beberapa Kilang Pertamina Bakal Ditutup

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
03 December 2020 15:40
Tim Pertamina secara sigap melakukan pemadaman api yang terjadi di area jalur pipa Kilang RU V Balikpapan. Pemadaman dilakukan dalam kurun waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan 4 unit pemadam kebakaran dan 1 unit trailer foam.

Pasca kebakaran yang terjadi di salah satu jalur pipa, Kilang Balikpapan tetap beroperasi. Pertamina menjamin suplai BBM dan LPG untuk Terminal BBM di wilayah Kalimantan dan sebagian kawasan Indonesia Timur tetap aman. Kilang Balikpapan berkapasitas produksi  260.000 barrel/hari.** (dok Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkapkan pihaknya kini tengah mempertimbangkan untuk menutup beberapa kilang bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini masih beroperasi.

Penutupan kilang ini menurutnya karena sudah tak lagi ekonomis.


"Mungkin beberapa kilang akan kita tutup karena sangat tidak efisien," kata Ahok dalam acara "2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas" secara virtual, Rabu (02/12/2020).

Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kilang yang terintegrasi dengan produksi petrokimia, seperti rencana pembangunan kilang baru di Tuban, Jawa Timur dan Balongan, Jawa Barat.

"Kami butuh yang baru sebagai kilang terintegrasi, khususnya di Tuban dan Balongan yang juga digunakan untuk produksi petrokimia," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dampak dari pandemi Covid-19 telah mengubah pasar energi global. Menurutnya, banyak proyeksi dari perusahaan pengelola investasi dan konsultan seperti Morgan Stanley memproyeksikan puncak permintaan minyak dan gas (migas) akan terjadi pada 2030 atau tidak lebih dari 2040.

"Itu akan banyak dipengaruhi pertumbuhan industri petrokimia yang telah bertahan dan bertumbuh di tengah pandemi," ungkapnya.

Ahok mengatakan, banyak lembaga keuangan juga menyarankan agar pembangunan kilang BBM diintegrasikan dengan petrokimia agar bisa layak secara ekonomi.

"Ini adalah masa depan Pertamina," tegasnya.

Ahok menyebut salah satu indikator kinerja (Key Performance Indicator/ KPI) Pertamina yaitu bagaimana bisa menekan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/ CAD). Seperti diketahui, impor minyak menjadi salah satu penyumbang terbesar CAD.

Dia mengatakan, selain mengintegrasikan kilang BBM dengan petrokimia, upaya lain yang akan dilakukan perseroan untuk menekan defisit neraca berjalan ini yaitu melalui pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik.

Seperti diketahui, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mengambil keputusan Pertamina akan membuat perusahaan patungan (Joint Venture/ JV) dengan beberapa BUMN lainnya seperti Holding BUMN Tambang, MIND ID atau Inalum dan juga PT PLN (Persero) bernama PT Indonesia Battery. Menurutnya partisipasi Pertamina di proyek ini kini sebesar 25%.

"MIND ID dan Antam bicarakan electric vehicle (EV), saya rasa biarkan MIND ID dan Antam lakukan. Sekarang kita bicara mengenai bagaimana kami sangat agresif untuk tingkatkan hulu kami," jelasnya.

Seperti diketahui, Pertamina kini mengoperasikan enam kilang BBM dan tengah membangun proyek ekspansi kilang, baik Refinery Development Master Plan (RDMP) maupun kilang baru (New Grass Root Refinery). Pada 2024-2025 ditargetkan proyek RDMP Balikpapan fase 1 dan 2 sudah beroperasi dengan penambahan kapasitas 100 ribu bph menjadi 360 ribu bph dari saat ini 260 ribu bph. Lalu RDMP Balongan fase 1 dan 2 juga ditargetkan beroperasi dengan peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah menjadi 150 ribu bph dari saat ini 125 ribu bph.

Namun pada 2027 ditargetkan proyek RDMP lainnya dan juga kilang baru Tuban beroperasi, sehingga kapasitas pengolahan minyak mentah meningkat menjadi 1,8 juta bph dari saat ini 1 juta bph.

Proyek RDMP antara lain kilang Balikpapan, Dumai, Balongan, dan Cilacap, dan kilang baru di Tuban, serta proyek kilang hijau atau dikenal dengan nama biorefinery di kilang Plaju dan Cilacap.

Pertamina memperkirakan total investasi untuk proyek kilang ini mencapai US$ 48 miliar. Proyek ini ditujukan untuk menghasilkan produk BBM menjadi 1,5 juta bph dari 600 ribu bph saat ini, lalu produk petrokimia menjadi 8,6 juta ton per tahun dari saat ini sekitar 1,66 juta ton per tahun. Adapun BBM yang dihasilkan memiliki standar Euro V dari saat ini masih standar Euro II.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading