Ahok Anggap Program Biodiesel Nggak Perlu, Kok Gitu?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
02 December 2020 19:45
Menteri ESDM Ignasius Jonan melepas road test B30 di gedung KESDM, Jakarta, Kamis (13/6). B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, me-launching Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel. Launching Road Test B30 ditandai dengan pelepasan keberangkatan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Program biodiesel 30% (B30) saat ini tengah berjalan, dan ditargetkan bakal ditingkatkan menjadi 40% (B40) pada pertengahan tahun depan. Namun program biodiesel ini mendapat kritik dari Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dia mengatakan, minyak sawit (Crude Palm Oil/ CPO) merupakan komoditas pendorong surplus melalui ekspor. Selain itu, lanjutnya, dalam menjalankan program biodiesel ini perlu ada fleksibilitas regulasi.


"Jika kita lihat, salah satu surplus di ekspor adalah komoditas CPO, dan dalam program biodiesel butuh fleksibilitas regulasi," kata Ahok dalam acara "2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas", Rabu (02/12/2020).

Saat harga CPO lebih tinggi daripada minyak mentah (crude), maka menurutnya lebih baik CPO diekspor saja. Bila saat harga minyak sawit ini lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah, maka menurutnya ini akan berdampak pada meningkatnya biaya pemrosesan biodiesel.

Seperti diketahui, program biodiesel ini merupakan pencampuran turunan minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dengan persentase tertentu dengan diesel berbahan baku minyak mentah. Bila B30, maka ini artinya kandungan campuran FAME sebanyak 30% dari setiap satu liter solar.

"Seharusnya ketika harga CPO lebih tinggi daripada crude (minyak mentah), akan lebih baik diekspor. CPO jadi tak ada guna untuk diproduksi jadi FAME, karena very high cost," tuturnya.

Sebelumnya, Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif mengatakan program B40 akan dilakukan dengan mencampurkan B30 ditambah dengan solar yang diolah di kilang minyak dengan langsung berbahan baku sawit, bukan minyak mentah (D100) sebesar 10%.

Ia menyebut, dengan berjalannya proyek biodiesel ini, maka ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga ketahanan energi, menekan defisit transaksi berjalan. Kemudian, secara mikro harga untuk sawit akan menjadi stabil.

"Dan juga disampaikan pungutan US$ 55 per ton. Program ini akan terus berlanjut. Sebelum 2015 ditujukan untuk oleochemical, namun ke depan lebih ke biodiesel, D100, bisa sejahterakan 16 juta jiwa petani," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading