Kurangi Beban, Peretail Bisa Negosiasi dengan Pemilik Mal

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
01 December 2020 10:27
Suasana pusat perbelanjaan di ITC Mangga Dua yang sangat sepi pembeli, puluhan toko ditutup karena minimnya jual beli masyarakat ditengah pandemi, Jumat (6/11/2020). Salah satu pemilik toko menyebutkan untuk menyewa toko dalam setahun sebesar Rp. 50juta harga itu diluar tarif listrik dan kebersihan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha retail fashion masih berupaya mempertahankan bisnisnya di masa pandemi ini. Negosiasi bisnis bisa dilakukan untuk meringankan beban pelaku industri.

Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta mengatakan gambaran situasi saat ini masih dalam tahap survival (bertahan). Salah satu jalan yang ditempuh adalah negosiasi kepada pusat perbelanjaan untuk mengurangi beban perusahaan peretail.

"Caranya, dengan negosiasi kepada pusat belanja," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Senin (30/11/2020).


Dia pun membeberkan kondisi saat ini pun juga dirasakan bisnis peretail besar seperti Matahari Departement Store yang akan menutup enam gerainya. Ada beberapa peretail lain juga yang sudah menutup gerainya, namun ia masih belum mau membeberkan.

Seperti diketahui, peretail besar seperti PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) memang sudah mencatatkan kerugian pada kuartal III tahun ini mencapai Rp 616,6 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencetak laba Rp 1,186 triliun. Sementara pendapatan perusahaan turun 135% pada kuartal III 2020 menjadi Rp 3,328 triliun dari Rp 7,829 triliun periode sama tahun sebelumnya.

Perusahaan retail raksasa ini menutup enam gerai di wilayah Jawa, Bali dan Sulawesi. Dalam keterbukaan informasi, perusahaan menyatakan pada tahun ini hingga kuartal I 2021 perusahaan belum akan menambah gerai baru, hanya merenovasi 23 gerai yang ada. Sebagai catatan, saat ini LPPF memiliki total 147 gerai.

Sementara pesaingnya PT Ramayana Lestari Sentosa juga mencatat penurunan pendapatan 132% menjadi Rp 1,901 triliun selama Januari-September 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,426 triliun. Hingga sembilan bulan tahun ini perusahaan mencatatkan rugi Rp 95,21 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya mencatatkan laba sebesar Rp 612,42 miliar.

Menurutnya, saat ini belum semua pemilik pusat perbelanjaan memberikan keringanan karena tiap tenant memiliki kasus yang berbeda. Jadi, upaya negosiasi juga tidak hanya dilakukan pada pemilik pusat perbelanjaan, tapi pemasok barang dan karyawan.

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani mengatakan bisnis retail fashion juga salah satu yang mengalami dampak akibat pandemi walaupun kondisi saat ini seharusnya bisa tertolong dengan adanya penggunaan online marketing.

"Tentunya retailer memang akan mengurangi outletnya," ungkapnya.

Melihat fenomena ini secara global, beberapa retailer besar juga banyak yang menutup outletnya, bahkan sebelum pandemi karena melemahnya permintaan pasar.

Tapi untuk kondisi saat ini, dia menjelaskan bahwa pengusaha juga masih butuh stimulus dari pemerintah untuk penciptaan permintaan, khususnya masyarakat kelas menengah atas untuk berbelanja. Menurutnya hal ini dikarenakan saat ini konsumen dengan daya beli tinggi juga terlihat lebih hati-hati untuk mengeluarkan uangnya karena tidak begitu percaya dengan pengendalian Covid-19.

"Bantuan modal kerja dari perbankan dan stimulus lainnya seperti keringanan biaya listrik dan pajak juga akan mendorong konsumsi masyarakat," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Musim PHK, Gimana Nasib Bisnis Franchise RI Saat Pandemi?


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading