Asosiasi Perusahaan Migas: Produksi Minyak 1 Juta BPH Susah!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
20 November 2020 13:33
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memiliki target produksi minyak bumi sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada 2030 mendatang. Meski masih sepuluh tahun lagi, namun Asosiasi Perusahaan Migas berpandangan target tersebut tidak mudah dicapai.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong dalam acara diskusi 'Road to 1 Million BOPD and 12 BSCFD Gas in 2030' secara daring, Jumat (20/11/2020).

Menurutnya, sulitnya mencapai target tersebut karena dilihat dari tingkat kesulitan dan usaha yang diperlukan untuk mencapainya.


"Bagaimana pendapat IPA, saya ingin terus terang ini sungguh target yang tidak mudah. Tidak mudah. Maksud saya mengatakan demikian bukan untuk meniadakan target tersebut tapi untuk mengenali tingkat kesulitannya dan usaha untuk mengatasinya. Ini luar biasa susah," ungkapnya.

Selain pekerjaan rutin dari lapangan yang sudah berproduksi, imbuhnya, ada hal lainnya yang perlu dikerjakan juga antara lain yakni tingkat penemuan cadangan baru terhadap produksi atau Reserves to Production (R to P), di mana R to P pada 2030 sekitar 70%-80% dari produksi, termasuk di dalamnya lapangan-lapangan marginal atau sangat marginal juga harus dibuat jadi berproduksi.

"Ada itu tepatnya di existing area, tapi dia marginal, sangat marginal, kenapa selama ini tidak dikembangkan? karena butuh keekonomian yang besar yang tidak dapat di-handle oleh insentif saat ini. Memang ada masalah teknikal juga, tapi dominan keekonomian," jelasnya.

Kemudian, upaya meningkatkan produksi melalui Enhanced Oil Recovery (EOR). Dia berpendapat, selain masalah teknikal, di dalam mengimplementasikan EOR juga memerlukan nilai keekonomian yang layak.

Lalu, eksplorasi lapangan baru, dia berpandangan di daerah Indonesia bagian barat yang kebanyakan mature basin itu masih ada potensi. Namun yang lebih sulit selain membutuhkan teknik yang lebih baik, lagi-lagi faktor keekonomian menjadi isu utama.

"Di daerah Timur masih banyak unexplored-basin, tempatnya jauh lebih susah. Belum ada infrastruktur memadai, laut dalam. Artinya, butuh keekonomian lebih besar," tuturnya.

Namun demikian, dia mengakui bahwa Indonesia perlu meningkatkan produksi minyak di dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor. Apalagi ketika masa pandemi Covid-19 ini berlalu, maka menurutnya kebutuhan energi akan semakin meningkat.

Meski saat ini tengah dikembangkan energi baru terbarukan untuk menggantikan fosil, namun menurutnya permintaan migas masih tetap besar.

"Kalau tidak salah sekarang persentase migas 56%, nanti 2050 jadi sekitar 43%, tapi dari segi volume malah lebih besar," ungkapnya.

Dampak dari pandemi Covid-19 saat ini memang menyebabkan permintaan minyak turun dan harga minyak juga turun, sehingga perusahaan migas global pun memotong anggaran untuk kegiatan eksplorasi sekitar 25%-30%. Artinya, ada skala prioritas terkait lokasi yang akan dilakukan kegiatan eksplorasi. Kalau mau ada eksplorasi, maka menurutnya harus di tempat-tempat yang memiliki prospek bagus dan fiskal bagus.

"Tidak hanya dari sisi kita, tapi juga dari global karena investor bergerak bukan hanya di Indonesia, tapi juga di tempat lain. Jadi, di mata global secara prospek dan keekonomian harus bagus, barulah capital yang terbatas di luar itu bisa datang ke kita," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan untuk mencapai keekonomian proyek, maka diperlukan insentif yang lebih besar dan radikal untuk merebut modal yang terbatas. Untuk mengeluarkan insentif, maka diperlukan sinergi antar kementerian.

"Sepuluh tahun itu mepet menurut istilah saya. Waktu kita nggak banyak kalau masih berpanjang cerita, berkonsep hanya bicara 1 tahun lewat. Artinya, target 1 juta bph pada 2030 tidak hanya terkait volume, tapi juga soal waktu," paparnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading