Impor Listrik RI Makin Melonjak Hingga 2024, Pasokan Kurang?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
10 November 2020 15:32
PLN berikan Kompensasi untuk warga yang dilintasi SUTET Cikupa - Kembangan

Jakarta, CNBC Indonesia - Impor listrik Indonesia diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya hingga 2024, sejalan dengan peningkatan kebutuhan listrik domestik.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, impor listrik pada 2024 diperkirakan naik menjadi 1.842,31 Giga Watt hour (GWh) dari perkiraan tahun ini sebesar 1.417 GWh.

Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024 yang ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 18 September 2020 dan berlaku sejak diundangkan pada 25 September 2020.


Impor listrik pada 2021 juga diperkirakan naik menjadi 1.515,03 GWh, lalu pada 2022 naik lagi menjadi 1.623,26 GWh, dan 1.734,35 GWh pada 2023.

Peningkatan impor listrik tersebut juga sejalan dengan peningkatan kebutuhan listrik domestik yang diperkirakan naik menjadi 339.923 GWh pada 2024 dari 261.450 GWh pada 2020.

Pada 2021, kebutuhan listrik domestik juga diperkirakan naik menjadi 279.353 GWh, lalu 299.510 GWh pada 2022, dan 320.004 GWh pada 2023.

Meski impor listrik naik, tapi karena kebutuhan listrik domestik juga naik, rasio impor listrik terhadap kebutuhan listrik dipertahankan tetap sekitar 0,54%.

Rasio impor listrik terhadap kebutuhan listrik untuk energi dalam negeri ini merupakan bagian dari indikator dalam menghitung kemandirian sumber energi yang merupakan rasio suplai dari sumber energi lokal, termasuk energi yang bersumber dari produksi luar negeri terhadap impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan impor listrik saat ini berasal dari perusahaan listrik Malaysia yaitu Sarawak Electricity Supply Corporation (SESCO), anak usaha Sarawak Energy Berhad, untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kalimantan Barat.

"Impor karena masih kurang (pasokan listrik dalam negeri) dan masih banyak pembangkit mahal berbahan BBM," tuturnya kepada CNBC Indonesia pada Selasa (10/11/2020).

SESCO mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sehingga harga listrik jauh lebih murah dibandingkan suplai dari area Kalimantan Barat yang masih menggunakan solar jenis High Speed Diesel (HSD).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading